Sepercik Imajiner Oleh: Muhammad Nizarullah
Angin laut malam itu berbisik dingin, membawa aroma garam dan kesedihan. Baka Itam berdiri di dermaga Bandara Internasional Sultan Iskandar Muda, menatap punggung sang kekasih yang semakin menjauh memasuki pintu keberangkatan. Cahaya lampu bandara memantul pada kaca jendela, menciptakan ilusi bahwa dunia sedang bergetar. Atau, mungkin itu hanya matanya yang berkaca-kaca.
“Aku akan kembali, Baka. Percayalah,” bisik terakhir sang kekasih masih bergema di telinganya. Namun entah mengapa, kata-kata itu terasa seperti angin yang berlalu tanpa meninggalkan jejak.
Di rumahnya yang sederhana di pinggiran pesisir pantai, Nek Saudah—seorang nenek tua dengan mata yang bersinar seperti bintang—duduk di beranda sambil menganyam tikar berwarna warni, pekerjaan sehari-harinya mengusir penat dan menjual ke pasar setempat. Tangan tuanya bergerak dengan ritme yang aneh, seolah sedang merajut takdir.
Baka Itam yang sedang berjalan melewati jalan setapak di depan rumahnya, dipanggil untuk mampir di rumah Nek Saudah. “Baka, kemarilah,” panggilnya dengan suara yang terdengar jauh namun jelas.
Baka Itam menghampiri. Nek Saudah tersenyum, menampakkan gigi-giginya yang sudah tak lengkap namun senyumnya hangat seperti pelukan.
“Nenek akan menceritakan sebuah dongeng,” katanya. “Tentang tanah suci yang mengubah jiwa, tentang cermin hati yang memantulkan dosa-dosa kita, dan tentang Ka’bah yang hanya bisa dilihat oleh mata yang bersih.”
Malam itu, Nek Saudah menceritakan tentang Tanah Haram. Tempat di mana keajaiban dan peringatan berjalan beriringan. Ia bercerita tentang orang-orang yang gelagapan di depan Ka’bah seolah sedang sendirian meski dikelilingi ribuan jamaah. Ia bercerita tentang makhluk berkepala babi yang berkeliaran dalam pakaian ihram, simbol dari jiwa-jiwa yang kotor. Ia bercerita tentang uang yang menghilang di dekat Ka’bah, dan kain ihram yang tersingkap tiba-tiba. Semua itu pertanda dari niat yang tidak murni.
“Tanah suci itu, Baka,” bisik Nek Saudah, “adalah cermin terbesar di dunia. Ia tidak memantulkan wajahmu, tapi jiwamu.”
Baka Itam mendengar dengan setengah percaya, setengah menganggapnya sebagai dongeng penghibur jiwa. Ia selalu saja menghargai orang tua yang memberikan wejangan kepadanya.
Tiga bulan kemudian, Baka Itam tiba di Istanbul dengan hati yang masih terluka dan tas yang hampir kosong. Udara Turkey berbeda—dingin namun kering, membawa aroma roti simit dan teh hitam. Ia datang dengan satu tujuan: menyusul sang kekasih dan membuktikan cintanya.
Di sebuah apartemen kumuh di distrik Fatih, Baka Itam bertemu kembali dengan Nyak Ubit, teman masa kecilnya dari kampung yang sama. Nyak Ubit kini bekerja sebagai barista, menyuduh kopi terbaik untuk para tamu yang mampir di cafe turkey.
“Baka! Kau benar-benar datang!” seru Nyak Ubit sambil memeluknya erat. “Tapi kenapa wajahmu seperti orang yang kehilangan rumah?”
Baka Itam hanya tersenyum pahit. “Karena aku memang sedang mencari rumah, Ubit. Rumah di hati seseorang.”
Hari-hari mereka dihabiskan dengan berkeliling Istanbul, mengantar CV ke toko-toko dan restoran. Namun pintu demi pintu tertutup. Bahasa yang tak lancar, visa yang terbatas, dan wajah asing di negeri orang, semuanya menjadi tembok yang tinggi.
Suatu sore, Baka Itam memberanikan diri mendatangi kampus tempat sang kekasih kuliah. Jantungnya berdegup kencang saat ia melihat sosok yang dicintainya keluar dari gedung perpustakaan. Namun detik berikutnya, dunia seakan runtuh.
Sang kekasih berjalan berdampingan dengan seorang pria tinggi berkulit putih, berbicara dalam bahasa Turkey yang fasih, tertawa dengan bebas. Tangan mereka bertautan. Senyum yang dulu hanya untuk Baka, kini tersungging untuk orang lain.
Baka Itam berdiri membeku di tengah kerumunan mahasiswa. Nyak Ubit yang berdiri di sampingnya hanya bisa menepuk bahunya pelan.
“Pulang, Baka. Kita pulang,” bisik Nyak Ubit.
Namun Baka Itam menggeleng. “Belum, Ubit. Aku belum bisa pulang.”
Malam itu, Baka Itam duduk termenung di balkon kosan sempit mereka. Lampu-lampu Istanbul berkelap-kelip seperti bintang yang jatuh ke bumi, namun tak ada yang bisa menerangi kegelapan di dadanya.
Nyak Ubit menghampiri dengan dua cangkir teh hangat. “Baka, aku punya ide.”
Baka Itam melirik tanpa minat.
“Kita ke Tanah Haram. Umrah,” kata Nyak Ubit. “Aku sudah menabung. Kita butuh kedamaian, bukan pekerjaan atau cinta yang menyakitkan.”
Awalnya Baka Itam menolak. Namun di malam sunyi, ketika langit diselimuti kegelapan, dongeng Nek Saudah kembali bergema di ingatannya. Mungkin ini saatnya mencari jawaban, bukan di dunia yang fana, tapi di tempat yang lebih tinggi.
Dua minggu kemudian, mereka terbang ke Jeddah dengan hati yang penuh tanya. Pesawat mendarat saat fajar menyingsing, langit berwarna jingga keemasan. Udara Arab Saudi panas dan kering, namun ada sesuatu di atmosfernya. Sesuatu yang sakral, yang membuat bulu kuduk mereka berdiri.
Bus membawa mereka ke Makkah. Saat kota suci itu muncul di cakrawala, Baka Itam merasakan getaran aneh di dadanya. Seperti ada yang menariknya, sekaligus menolaknya.
Mereka tiba di hotel sederhana dekat Masjidil Haram. Setelah berganti pakaian ihram—kain putih sederhana yang menyamakan semua manusia—mereka berjalan menuju masjid.
Saat memasuki gerbang, Baka Itam terhenti.
Di tengah ribuan manusia yang bergerak seperti ombak mengelilingi Ka’bah, ia melihat sesuatu yang mustahil. Seorang jamaah berpakaian ihram berjalan dengan kepala… babi. Moncongnya bergerak-gerak, matanya merah menyala. Namun tak seorang pun di sekitarnya yang tampak melihat.
Baka Itam mengguncang kepala. “Ubit, kau lihat itu?”
Nyak Ubit mengikuti arah pandangnya dan wajahnya memucat. “Aku lihat, Baka. Ya Allah, aku lihat.”
Mereka melangkah lebih jauh. Seorang pria tiba-tiba gelagapan di depan Ka’bah, berputar-putar dengan mata kosong seolah ia sendirian di padang pasir luas. Seorang wanita menangis histeris karena dompetnya menghilang tepat di dekat Hajar Aswad. Seorang lelaki tua pakaian ihramnya tiba-tiba tersingkap, memperlihatkan aurat. Namun, ia tak sadar sampai orang lain menutupinya dengan panik.
Semua persis seperti dongeng Nek Saudah.
Yang paling menyakitkan bagi Baka Itam, ia tidak bisa melihat Ka’bah dengan jelas. Setiap ia mencoba menatapnya, pandangannya kabur, seperti ada kabut tebal yang menghalangi. Padahal orang-orang di sekelilingnya bisa melihatnya dengan jelas, bahkan menangis terharu.
“Kenapa, Ubit?” bisik Baka Itam dengan suara gemetar. “Kenapa aku tidak bisa melihatnya?”
Nyak Ubit tidak bisa menjawab. Ia juga melihat anomali-anomali itu, namun ia masih bisa melihat Ka’bah dengan jelas.
Malam itu, Baka Itam tak bisa tidur. Ia duduk di halaman hotel, menatap langit Makkah yang penuh bintang. Panik dan gelisah menyesakkan dadanya. Ia teringat semua dosanya, kebohongan kecil, kata-kata kasar, dan yang paling menyakitkan: niatnya datang ke tanah suci ini bukan karena Allah semata, tapi untuk lari dari patah hati.
“Aku munafik,” bisiknya pada diri sendiri. “Aku pengecut yang bersembunyi di balik ibadah.”
“Bukan pengecut, Baka. Kau hanya manusia yang tersesat.”
Suara itu membuat Baka Itam melompat berdiri. Di bawah pohon kurma, berdiri Nek Saudah.
Namun bukan Nek Saudah yang tua dan bungkuk yang ia kenal. Wanita di hadapannya ini berdiri tegak, wajahnya segar berseri, matanya bersinar seperti bulan purnama. Ia mengenakan pakaian putih yang bercahaya lembut.
“Nek… Nek Saudah? Bagaimana… Nenek ada di sini?”
Nek Saudah tersenyum. “Aku sudah menunggumu, Baka. Menunggu sampai kau siap mendengar.”
“Tapi… Nenek di Aceh…”
“Aku di mana-mana dan tidak di mana-mana,” jawab Nek Saudah dengan tenang. “Aku adalah penjaga dongeng, Baka. Penjaga cerita-cerita yang perlu didengar oleh jiwa-jiwa yang terluka.”
Baka Itam terduduk lemas. “Aku tidak bisa melihat Ka’bah, Nek. Kenapa?”
Nek Saudah duduk di sampingnya, meski tak ada kursi di sana, ia duduk di udara seperti ada sofa tak kasat mata.
“Karena hatimu masih tertutup kabut, Baka. Ka’bah bukan sekedar bangunan batu. Ia adalah manifestasi panggilan Allah. Hanya hati yang bersih yang bisa melihatnya dengan jelas. Hati yang penuh dendam, dusta, dan niat yang salah akan melihatnya kabur, atau bahkan tidak melihatnya sama sekali.”
Air mata Baka Itam jatuh. “Lalu, apa yang harus kulakukan, Nek?”
“Mandi taubat. Shalat taubat. Buka hatimu, bukan hanya mulutmu. Minta ampun bukan karena kau takut neraka, tapi karena kau benar-benar menyesal. Karena kau mendambakan keridhaan Ilahi”
Nek Saudah berdiri. Tubuhnya mulai berkilau, menjadi transparan.
“Aku akan pergi sekarang. Tapi ingat, Baka—dongeng terindah adalah dongeng tentang manusia yang kembali pulang. Bukan pulang ke tanah kelahiran, tapi pulang ke fitrahnya.”
Dalam sekejap mata, Nek Saudah menghilang.
Pagi itu, sebelum subuh, kala fajar masih muda, Baka Itam melakukan mandi taubat. Air zamzam yang dingin membasuh tubuhnya, namun lebih dari itu, ia merasakan sesuatu yang lebih dalam sedang dibersihkan.
Ia shalat taubat dua rakaat dengan air mata yang tak berhenti mengalir. Dalam sujudnya yang panjang, ia berbisik semua penyesalannya, tentang cinta yang dijadikan Tuhan, tentang ibadah yang dijadikan pelarian, tentang kesombongan dan keputusasaan.
“Ya Allah, ampuni hamba. Hamba datang dengan niat yang salah. Hamba mencari cinta manusia, bukan cinta-Mu. Hamba lari dari sakit hati, bukan berlari kepada-Mu. Maafkan hamba…”
Saat ia mengangkat kepala dari sujud terakhir, dunia terasa berbeda. Udara lebih segar, cahaya lebih terang, dan yang paling penting, ada kedamaian yang turun ke dadanya seperti hujan setelah kemarau panjang. Ia bergegas ke Masjidil Haram bersama Nyak Ubit. Kali ini, saat memasuki halaman masjid, pandangannya jernih.
Dan ia melihatnya, sekarang.
Ka’bah.
Bangunan berbentuk kubus dengan kiswah hitam berkilau emas itu berdiri megah di tengah lautan manusia. Namun, bukan kemegahannya yang membuat Baka Itam menangis. Ia merasakan… cinta. Cinta yang murni, tanpa pamrih, tanpa luka. Rasa yang sebelumnya tak pernah singgah di hati Baka Itam. Ia merasakan panggilan yang lembut namun kuat, seperti seorang anak yang lama tersesat akhirnya melihat rumahnya.
“Aku melihatnya, Ubit. Aku melihatnya!” serunya sambil memeluk sahabatnya. Senyuman tulus bercampur haru tersungging di bibir Baka.
Nyak Ubit ikut menangis. “Alhamdulillah, Baka. Alhamdulillah.”
Mereka thawaf tujuh putaran mengelilingi Ka’bah. Setiap langkah terasa ringan, setiap doa terasa sampai. Anomali-anomali yang mereka lihat sebelumnya masih ada—orang berkepala babi, orang gelagapan, uang yang hilang—namun kini Baka Itam memahaminya. Itu semua adalah cermin jiwa. Tanah suci memang tidak menyembunyikan cacat. Ia justru memperlihatkannya, agar manusia sadar dan bertaubat.
Setelah menyelesaikan ibadah umrah, Baka Itam dan Nyak Ubit kembali ke Istanbul dengan hati yang berbeda. Baka Itam tidak lagi mencari sang kekasih lama. Ia membiarkan masa lalu tetap di masa lalu.
Suatu sore, saat berkunjung ke Museum Istana Topkapi, sebuah istana megah peninggalan Ottoman yang penuh sejarah. Baka Itam melihat seorang wanita berdiri di depan koleksi perhiasan kerajaan. Ia mengenakan abaya gamis hitam yang elegan, kerudungnya menutupi rambut namun memperlihatkan wajah yang cantik dan tenang.
Wanita itu melirik ke arah Baka Itam, lalu tersenyum. “Apakah Anda tertarik dengan sejarah Ottoman?” tanyanya dalam bahasa Inggris.
Baka Itam tergagap. Nyak Ubit menyikutnya, memberi isyarat agar ia menjawab.
“I-iya… Maksudnya, elbete… Eh…” Baka Itam bingung antara bahasa Inggris dan Turkey yang pas-pasan.
Wanita itu tertawa lembut. “Saya lihat Anda kesulitan. Anda dari Indonesia?”
“Aceh,” jawab Baka Itam. “Saya Baka Itam, ini teman saya Nyak Ubit.”
“Nama saya Gülce,” katanya sambil mengulurkan tangan. “Senang bertemu Anda.”
Gülce sedikit banyak paham bahasa Indonesia, ia sedang mempelajari bahasa Indonesia untuk meneliti budaya Islam di Indonesia, khusunya Aceh. Sepanjang berbicara dengan Baka Itam, sebisanya Gülce menggunakan bahasa Indonesia yang terbata-bata. Walaupun ia bisa melafalkannya, tetap saja logat yang dikeluarkannya Indonesia berlogat Turkey.
Dari pertemuan singkat itu, percakapan berlanjut ke kafe museum, lalu ke pertemuan-pertemuan berikutnya. Gülce adalah mahasiswa pascasarjana jurusan Sejarah Islam. Ia tertarik dengan budaya Indonesia, terutama Aceh yang punya sejarah keislaman panjang.
Baka Itam menemukan sesuatu yang berbeda pada Gülce. Ia tidak seperti kekasih lamanya yang dulu ia kejar dengan putus asa. Gülce adalah seperti air tenang-menenangkan, menyejukkan, dan membuat ia merasa utuh.
“Kau tahu, Baka,” kata Gülce suatu malam saat mereka berjalan di tepi Bosphorus, “Allah kadang mengambil sesuatu dari kita bukan untuk menyakiti, tapi untuk memberi ruang bagi yang lebih baik.”
Baka Itam tersenyum. “Itu seperti dongeng yang pernah diceritakan seorang nenek bijak padaku.”
“Dongeng yang bagus pasti punya akhir yang indah,” jawab Gülce singkat.
Sebulan kemudian, Baka Itam melamar Gülce. Pernikahan sederhana digelar di Istanbul, disaksikan keluarga Gülce dan beberapa teman Aceh yang tinggal di Turkey, termasuk Nyak Ubit.
Namun yang mengejutkan, saat resepsi berlangsung, Nek Saudah muncul. Ia duduk di sudut ruangan dengan senyum yang bijak, meski tak seorang pun—kecuali Baka Itam dan Nyak Ubit—yang bisa melihatnya.
Setelah menikah, Baka Itam dan Gülce memutuskan untuk tinggal di Madinah. Baka Itam bekerja sebagai manajer agen perjalanan di salah satu travel umrah milik pengusaha Aceh yang terkenal. Nyak Ubit bekerja sebagai manajer tour di travel yang sama.
Setiap hari, Baka Itam bisa melihat Masjid Nabawi dari jendela apartemennya. Kubah hijau itu menjadi pengingat setiap pagi. Mengingatkannya tentang dongeng yang menjadi nyata, tentang patah hati yang menjadi jalan menuju hidayah, dan tentang cinta yang datang saat hati sudah bersih.
Ketika malam sempurna menjemput, tepatnya di sepertiga malam, saat manusia terlelap dalam tidurnya, Baka Itam bangkit menunaikan shalat tahajud di Masjid Nabawi, ia merasakan kehadiran yang familiar. Ia menoleh dan melihat Nek Saudah duduk di shaf belakang, bercahaya lembut.
Nek Saudah tersenyum, lalu membisikkan kata-kata tanpa suara yang terdengar jelas di hati Baka Itam: “Dongeng terindah adalah dongeng yang ditulis oleh Allah, Baka. Dan dongengmu baru saja dimulai.”
Kemudian ia menghilang, meninggalkan aroma bunga kesturi di udara. Baka Itam tersenyum dalam sujudnya yang panjang. Dalam sujudnya, ia bergumam “Allahumma inni asalukal jannah waa’uzubika minannar. Allahumma inni asaluka husnul khatimah. Allahummarzuqni taubatannasuha qablal maut.”
Ia pulang. Bukan ke Aceh, bukan ke Turkey, tapi pulang ke tempat yang lebih dalam—pulang ke jalan yang lurus, pulang ke fitrahnya, pulang ke cinta yang sejati. Dan di tanah para Nabi itu, di bawah bimbingan cahaya yang tak pernah padam, ia menulis guratan takdir barunya. Guratan dongeng terindah yang pernah ia jalani.[]
