NPD di Sekolah?

Oleh: Niswatul Chaira

Halo sahabat literasi…..

Pernah nggak sih ketemu teman yang susah banget dikasih tahu? Sedikit ditegur langsung marah, dikritik sedikit merasa paling tersakiti, bahkan kadang menganggap guru itu musuh. Sekarang, fenomena seperti ini semakin sering terlihat di lingkungan sekolah, dan tanpa sadar bisa mengarah pada perilaku yang mirip dengan Narcissistic Personality Disorder (NPD), atau dalam bahasa sederhana “merasa diri paling penting, paling benar, dan sulit menerima kritik”.

Tenang, bukan berarti semua anak yang percaya diri itu punya gangguan mental. Tapi ada beberapa sikap yang mulai banyak muncul: merasa diri paling benar, haus pujian, sulit menerima kritik, dan nggak mau disalahkan. Nah, sikap seperti inilah yang kadang bikin guru kewalahan saat mendidik.

Dulu, guru dikenal sebagai sosok yang dihormati. Sekarang? Banyak guru harus ekstra hati-hati saat menegur murid. Sedikit salah bicara bisa dianggap menjatuhkan mental siswa. Bahkan ada yang langsung melawan, membantah, atau merasa harga dirinya diserang hanya karena diberi nasihat.

Padahal, ditegur bukan berarti dibenci. Fenomena ini membuat banyak guru kelelahan secara mental.

Masalahnya, sebagian anak sekarang tumbuh di lingkungan yang terlalu sering memvalidasi tanpa mengajarkan cara menerima kesalahan. Akibatnya, mereka hanya nyaman mendengar pujian dan mulai alergi terhadap kritik.

Media sosial juga punya pengaruh besar. Budaya ingin selalu terlihat keren, paling hebat, dan paling benar bikin banyak anak tanpa sadar menjadikan dirinya pusat segalanya. Jumlah likes, komentar, dan perhatian dari internet perlahan membentuk pola pikir bahwa semua orang harus memahami dirinya.

Ketika pola pikir itu dibawa ke sekolah, guru jadi kesulitan mendidik. Ada siswa yang tidak mau diatur, tetapi juga tidak mau bertanggung jawab. Ingin bebas, tapi tidak siap menerima konsekuensi. Bahkan ada yang menganggap nasihat guru sebagai bentuk menjatuhkan dirinya.

Padahal sekolah bukan cuma tempat cari nilai. Sekolah adalah tempat belajar menghargai orang lain, belajar disiplin, belajar menerima kritik, dan belajar menjadi manusia yang lebih dewasa. Karena di dunia nyata nanti, tidak semua orang akan selalu memuji kita.

Yang paling bahaya adalah ketika anak mulai merasa dirinya selalu benar. Saat itu, ego perlahan menutup kesempatan untuk belajar. Padahal, orang yang hebat bukan orang yang tidak pernah salah, tetapi orang yang mau memperbaiki dirinya ketika salah.

Guru sebenarnya bukan ingin ditakuti. Guru hanya ingin melihat muridnya tumbuh menjadi pribadi yang lebih baik. Teguran guru sering kali lahir dari rasa peduli, bukan rasa benci. Jadi, kalau hari ini masih ada guru yang marah karena kita malas, masih ada guru yang menegur saat kita salah, mungkin itu tandanya masih ada orang yang peduli terhadap masa depan kita.

Pertanyaannya, kenapa NPD bisa muncul pada siswa di sekolah?

Ada beberapa faktor yang bisa membuat perilaku narsistik tumbuh pada anak dan remaja, di antaranya, terlalu sering dipuji tanpa diajarkan rendah hati. Memuji anak memang penting, tetapi kalau semua hal dianggap “hebat” tanpa diajarkan menghargai orang lain, anak bisa tumbuh merasa dirinya paling spesial dan tidak boleh salah.

Lalu sikap kurang menerima kritik sejak kecil. Sebagian anak terbiasa selalu dibela. Saat salah, orang tua atau lingkungan justru menutupi kesalahannya. Akibatnya, anak tidak terbiasa menerima teguran dan mudah marah ketika dikritik. Pengaruh media sosial juga ikut membuat banyak orang ingin selalu terlihat sempurna. Jumlah likes, followers, dan validasi dari internet kadang membuat seseorang merasa nilai dirinya ditentukan dari perhatian orang lain.

Kurangnya rasa empati pada anak juga bisa menjadi penyebab NPD di sekolah. Anak yang jarang diajarkan memahami perasaan orang lain cenderung lebih fokus pada dirinya sendiri. Mereka ingin dimengerti, tetapi sulit memahami orang lain. Disisi lain lingkungan pertemanan yang salah dan toxic juga bisa memengaruhi sikap seseorang. Ketika pertemanan dipenuhi budaya saling pamer, merendahkan orang lain, dan haus popularitas, sikap egois jadi dianggap normal.

Perilaku narsistik bukan cuma bikin guru kesulitan, tetapi juga bisa merusak hubungan sosial anak sendiri, mereka akan sulit bekerja sama dengan teman, mudah tersinggung, tidak mau mengakui kesalahan, merasa paling hebat, dijauhi lingkungan karena terlalu egois dan sulit berkembang karena menolak nasihat. Padahal sekolah bukan cuma tempat cari nilai. Sekolah adalah tempat belajar menjadi manusia yang dewasa dan punya sikap baik.

Banyak cara untuk menghindari sikap NPD sejak dini, diantaranya adalah dengan belajar menerima kritik, tidak semua kritik adalah serangan. Kadang, teguran justru membantu kita menjadi lebih baik. Orang yang dewasa bukan yang selalu benar, tetapi yang mau memperbaiki kesalahan. Kemudian mengurangi kebiasaan haus validasi, tidak semua hal harus diposting untuk mendapat pengakuan orang lain. Nilai diri seseorang tidak ditentukan oleh jumlah likes atau pujian. Kemudian belajar mendengarkan orang lain, jangan selalu ingin dimengerti. Coba belajar memahami perasaan teman, guru, dan orang tua juga. Biasakan introspeksi diri, menghargai guru dan orang tua, bangun rasa empati untuk mengurangi sikap egois.

Di era sekarang, menjadi pintar saja tidak cukup. Anak sekolah juga perlu belajar rendah hati, menghargai orang lain, dan menerima bahwa dirinya tidak selalu paling benar. Karena setinggi apa pun ilmu seseorang, kalau egonya lebih tinggi daripada rasa hormatnya, maka ia akan sulit berkembang. Dan ingat, orang yang benar-benar hebat bukan orang yang selalu ingin dipuji, tetapi orang yang tetap mau belajar meskipun sudah merasa mampu [].

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *