“Tahan pedihnya belajar di masa ini, atau kelak engkau akan menahan perihnya kebodohan.”
— Imam As-Syafi’i
Sebuah Opini oleh: Muhammad Nizarullah
Ada sebuah ibarat yang pernah diucapkan oleh Waled Zulfitri, pimpinan Dayah Bustanul Islam Al-Aziziyah, Bireueun. Dulunya, beliau adalah guru di Dayah Jeumala Amal. Saat berkunjung ke Dayah Jeumala Amal pada malam Ramadhan, beliau menyampaikan tausiah kepada murid-muridnya di Dayah tersebut. Ibarat yanag disampaikannya sederhana, tapi memiliki kedalaman yang sulit terlupakan. Ia bercerita tentang besi. Ragam besi rongsokan yang berkarat, yang tergeletak tak berdaya, menunggu nasibnya entah ke mana. Apakah dibiarkan hanya menjadi seonggok besi yang tidak erguna, atau ditempa untuk menjadi besi yang siap digunakan.
Bayangkan sebuah tumpukan besi tua di pinggir jalan. Coklat kemerahan oleh karat. Tak ada yang melirik. Tak ada yang menginginkan. Harganya murah karena memang itulah kondisinya. Tidak berguna dalam wujudnya yang sekarang. Tapi kemudian datanglah seorang pandai besi. Ia memandangi tumpukan itu bukan dengan tatapan jijik, melainkan dengan tatapan seorang yang melihat potensi. Bak pengrajin emas yang melihat butiran-butiran kecil yang siap diolah dan dijual. Seolah besi itu mengemis untuk dipungut dan menunggu untuk ditempa.
Pandai besi itu membeli besi rongsokan tersebut dengan harga yang sangat murah. Banyak sekali. Karena ia melihat nilai setelah ditempa. ia membeli masa depannya. Dan proses mengubah besi rongsokan menjadi sebilah pedang yang tajam bukanlah perkara yang nyaman. Besi itu harus dibakar dalam nyala api yang membakar habis karat dan ketidakmurniannya. Kemudian dipukul, ditempa berulang-ulang di atas landasan besi yang keras. Lalu dicelupkan ke dalam air dingin yang mengejutkan, membekukan bentuk barunya. Begitu seterusnya hingga berulang-ulang, sampai ia benar-benar terbentuk.
Dalam setiap pukulan yang menghantamnya, ada rasa sakit. Dalam setiap bara yang menyalakannya, ada panas yang tak tertanggungkan. Tapi justru di situlah rahasianya. Tanpa tempa, tak ada tajam. Tanpa api, tak ada bentuk. Tanpa penderitaan yang disengaja dan terarah itu, besi hanyalah besi. Tidak berguna, tidak bermakna.
Begitulah ibarat yang disampaikan Waled Zulfitri. Sama seperti seorang murid yang dititipkan oleh orang tuanya ke dayah. Ketika pertama kali ia melangkahkan kaki di sana, ia bagai besi rongsokan tadi. Belum terbentuk. Masih penuh dengan “karat.” Penuh dengan kebiasaan buruk, pikiran yang dangkal, akhlak yang belum terasah, ilmu yang masih kosong menganga. Ia mungkin datang dengan hati yang berat, dengan air mata yang tersimpan, dengan mengorbankan kenikmatan di luar dayah bersama teman-temannya, kebebeasan yang masih ia dambakan, dengan pertanyaan yang belum berani diucapkan: apakah ini sebuah hukuman, atau sebuah hadiah?
Tapi dayah, seperti pandai besi yang bijak itu, tidak melihat apa yang ada sekarang. Dayah melihat apa yang mungkin ada nanti. Dan untuk mewujudkan kemungkinan itu, sang murid harus bersedia untuk dibakar. Dibakar oleh ilmu yang keras, oleh disiplin yang mungkin terasa menyiksa, oleh waktu yang tersita dari kenyamanan duniawi. Tak bisa bermain gadget, tak bisa menikmati pergi ke sekolah dengan mengendarai motor kesayangannya. Ia harus bersedia dipukul — oleh kritikan guru, oleh ujian yang menguras pikiran, oleh malam-malam yang harus dihabiskan bersama kitab dan tumpukan buku ketika yang lain tertidur lelap.
Dan ia harus bersedia dicelupkan ke dalam air. Ke dalam kerendahan hati yang menyadarkannya bahwa semakin tinggi ilmu seseorang, semakin dalam pula ia harus membungkuk. Karena pohon yang paling banyak buahnya adalah pohon yang dahan-dahannya paling menunduk ke bumi. Tidak ada yang berhasil melewati proses itu tanpa luka. Sungguh, Tidak ada. Setiap orang yang pernah mengenyam pendidikan dengan sungguh-sungguh pasti memiliki catatannya sendiri tentang malam-malam yang terasa mustahil. Datang godaan untuk ingin menyerah saja dari semua proses ini. Bahkan, tak jarang pertanyaan yang menggoda mampir di sela-sela keletihannya. “untuk apa saya menghabiskan waktu yang sia-sia disini? Toh, tidak ada perubahan sama sekali dalam diriku!” Dan pertanyaan itu adalah bagian dari proses. Ia belum sadar, ternyata dalam dirinya telah bersemanyam ilmu yang sangat dahsyat. Hanya saja ia tak sadar karena kerendahan hatinya sudah melekat dengan jiwanya. Ia adalah api yang sedang membakar karat. Ia adalah pukulan yang sedang membentuk kontur.
Terbentur, lalu terbentuk. Dua kata yang terdengar mirip, tapi jaraknya adalah seluruh perjalanan seorang manusia menuju versinya yang terbaik.
Saat pandai besi itu selesai dengan tugasnya, ia meletakkan besi yang sudah menjadi pedang, parang, dan pisau itu di atas meja. Ia melihatnya dengan mata yang puas. Besi yang dulu berkarat, yang dulu tak ada harganya, kini berdiri tegak dengan mata yang tajam dan badan yang kokoh. Siap untuk digunakan. Siap untuk bermakna. Dan ketika ia dibawa ke pasar, ia tidak lagi dihargai dengan murah. Ia ditawarkan berkali-kali lipat dari harga awalnya. karena nilainya sudah berubah secara fundamental.
Begitu pula seorang murid yang telah melewati seluruh tempaan di dayah. Ia keluar dengan sudut pandang yang berbeda, dengan adab yang sudah terpatri, ilmu yang sudah menjadi bagian dari cara ia menjalani hidup. Ia keluar bukan hanya dengan ijazah di tangan, tapi dengan amunisi di seluruh sendi keberadaannya. Amunisi itu kini sudah ditembakkan ke segala penjuru, untuk kebaikan dirinya, keluarganya, masyarakatnya, dan agamanya.
Dan di sinilah letak keindahan dari investasi dalam ilmu yang sesungguhnya. Kita hidup di zaman ketika segalanya bisa dibeli dengan uang. (rumah, kendaraan, bahkan ketenaran). Tapi ilmu yang sejati, kebijaksanaan yang terbangun dari proses panjang, karakter yang ditempa oleh disiplin dan pengorbanan, bahkan waktu berproses selama di dayah, itu tidak bisa dibeli dengan cara yang singkat. Ia hanya bisa diperoleh dengan cara yang sama seperti besi rongsokan itu menjadi pedang, parang dan pisau. Hanya melalui api, melalui pukulan, melalui air yang mengejutkan, berulang-ulang, tanpa henti, ia menjadi terbentuk dalam versinya yang baru.
Maka jika hari ini kamu sedang berada di tengah-tengah proses itu, ntah di bangku sekolah, di perantauan, di pondok pesantren, di dayah, di situasi hidup yang terasa seperti sedang ditempa habis-habisan, ketahuilah bahwa pandai besi tidak pernah memukul besi yang tidak ia percayai. Setiap pukulan adalah tanda bahwa ada potensi yang sedang dibentuk. Setiap kesulitan yang kamu rasakan adalah bukti bahwa kamu sedang dalam proses menjadi sesuatu yang jauh lebih bernilai dari dirimu yang sekarang.
Tahan pedihnya belajar hari ini. Karena satu hari nanti, saat kamu berdiri di pasar kehidupan, saat dunia bertanya siapa kamu dan apa yang bisa kamu tawarkan, kamu akan bersyukur bahwa kamu pernah mau dibakar, mau dipukul, dan mau dicelupkan. Karena dari situlah lahir tajammu, lahir value baru dari dirimu. Dan hanya besi yang telah ditempa yang tahu betapa mahalnya harga sebuah ketajaman.[]
