Ada masa ketika manusia harus berpura-pura menjadi orang lain agar dapat diterima. Ada pula masa ketika ia tidak perlu berpura-pura lagi, karena lingkungan sudah cukup mengenalnya untuk berkata, “Memang dia seperti itu.”
Keduanya sama-sama disebut adaptasi.
Namun, keduanya jelas bukan hal yang sama.
Ketika seseorang memasuki lingkungan baru, ia hampir selalu berhadapan dengan sesuatu yang tidak tertulis. Ada aturan resmi yang bisa dibaca, tetapi ada pula aturan sosial yang hanya bisa dipahami dengan mengamati. Bagaimana cara berbicara, bagaimana cara berpakaian, kepada siapa harus menghormati, kapan harus diam, kapan boleh bercanda, bahkan hal-hal kecil seperti cara duduk dan cara menyampaikan pendapat sering kali memiliki “aturan main” sendiri.
Manusia yang baru datang biasanya belum mengetahui semua itu.
Maka ia menyesuaikan diri.
Dalam tulisan ini, adaptasi dapat dilihat melalui dua cara: adaptasi cepat dan adaptasi berkelas.
Adaptasi cepat adalah ketika seseorang mengubah perilakunya agar dapat diterima oleh lingkungan, meskipun dalam dirinya masih terdapat penolakan. Ia mungkin tidak menyukai aturan tertentu, tidak nyaman dengan kebiasaan tertentu, atau bahkan merasa bahwa dirinya harus memainkan peran yang bukan dirinya. Namun, untuk sementara waktu, ia memilih menyembunyikan keberatan itu.
Ia melakukan fake.
Bukan selalu karena ia munafik. Kadang-kadang karena ia sadar bahwa dirinya belum memiliki cukup ruang untuk menjadi dirinya sendiri.
Erving Goffman, melalui gagasannya tentang presentation of self, menggambarkan kehidupan sosial seperti sebuah pertunjukan. Manusia menampilkan dirinya dengan cara tertentu di hadapan orang lain dan berusaha mengelola kesan yang muncul dari penampilan tersebut. Dengan kata lain, sebagian perilaku sosial memang merupakan bentuk pengelolaan diri agar interaksi dapat berjalan sesuai harapan.
Karena itu, seorang pegawai baru yang tiba-tiba menjadi sangat formal, seseorang yang mengubah gaya bicaranya ketika masuk ke lingkungan tertentu, atau seseorang yang mengikuti kebiasaan kelompok meskipun belum sepenuhnya menyukainya tidak selalu sedang kehilangan jati diri. Bisa jadi ia sedang membaca situasi.
Ia sedang mencari cara untuk masuk.
Dan manusia memang memiliki kemampuan luar biasa untuk melakukan itu.
Albert Bandura bahkan melihat hubungan manusia dan lingkungan bukan sebagai hubungan satu arah. Dalam teori kognitif sosialnya, faktor pribadi, perilaku, dan lingkungan saling memengaruhi. Manusia dipengaruhi lingkungan, tetapi pada saat yang sama perilakunya juga dapat mengubah lingkungan tersebut.
Di sinilah adaptasi mulai menjadi menarik.
Sebab pada awalnya seseorang mungkin menyesuaikan diri terhadap lingkungan. Namun, jika ia bertahan cukup lama, mengenal orang-orang di dalamnya, membangun kepercayaan, menunjukkan kompetensi, dan memberi kontribusi, sesuatu yang lain dapat terjadi.
Inilah yang disebut sebagai adaptasi berkelas.
Adaptasi berkelas bukan berarti seseorang akhirnya mampu menaati seluruh aturan lingkungan. Justru kadang-kadang sebaliknya. Ia sudah begitu dikenal sehingga beberapa perbedaan yang dahulu mungkin dianggap aneh tidak lagi dianggap sebagai masalah.
Contoh sederhananya dapat ditemukan di lingkungan kerja.
Misalnya terdapat aturan tidak tertulis bahwa para ustaz harus mengenakan pakaian berlengan panjang selama jam kerja. Namun, ada beberapa orang yang tetap mengenakan kemeja rapi berlengan pendek. Ketika seseorang mempertanyakan hal tersebut kepada orang yang memiliki wewenang, jawabannya hanya:
“Si Fulan memang begitu.”
Selesai.
Tidak ada teguran panjang. Tidak ada pembelaan. Tidak ada penjelasan.
Kalimat pendek itu justru memiliki makna sosial yang besar.
Lingkungan tersebut sudah mengetahui siapa Fulan.
Mereka sudah mengetahui kebiasaannya, karakternya, kontribusinya, dan batas-batas dirinya. Perbedaan yang dimilikinya tidak lagi dibaca sebagai ancaman terhadap keteraturan kelompok. Ia sudah menjadi bagian dari definisi lingkungan itu sendiri.
Dahulu Fulan mungkin harus beradaptasi terhadap lingkungan.
Sekarang lingkungan juga telah beradaptasi terhadap Fulan.
Inilah perbedaan mendasar antara sekadar bertahan dan benar-benar memiliki tempat.
Adaptasi cepat membuat seseorang berkata, “Saya harus menjadi seperti mereka agar dapat diterima.”
Adaptasi berkelas membuat seseorang sampai pada keadaan, “Mereka sudah mengenal saya, dan mereka tetap memberi ruang bagi saya untuk menjadi diri sendiri.”
Tentu saja, istilah “berkelas” di sini bukan tentang jabatan, kekayaan, pendidikan, atau status sosial. Orang dengan kedudukan paling rendah sekalipun dapat memiliki adaptasi yang sangat berkelas. Sebaliknya, seseorang yang memiliki jabatan tinggi dapat terus-menerus berpura-pura karena belum merasa aman untuk menjadi dirinya sendiri.
Ukuran sebenarnya adalah ruang.
Seberapa besar ruang yang harus Anda korbankan dari diri sendiri untuk dapat tinggal di sebuah lingkungan?
Jika setiap hari Anda harus mengubah prinsip, menyembunyikan pendapat, menahan karakter, dan memainkan kepribadian tertentu agar tidak ditolak, mungkin Anda memang sudah beradaptasi. Namun, belum tentu Anda sudah diterima.
Sebaliknya, ketika perbedaan Anda mulai diketahui tanpa selalu dipermasalahkan, ketika orang-orang memahami karakter Anda tanpa harus diberi penjelasan berulang kali, dan ketika keberadaan Anda tidak lagi terasa seperti sesuatu yang harus dibuktikan, mungkin saat itu Anda telah menemukan tempat.
Tetapi ada bahaya yang perlu diperhatikan.
Adaptasi yang pada awalnya merupakan strategi dapat berubah menjadi identitas.
Seseorang mungkin pada awalnya berpikir, “Saya berpura-pura seperti ini agar dapat bertahan.”
Setahun kemudian, ia masih berpura-pura.
Lima tahun kemudian, ia sudah tidak ingat lagi bahwa dirinya sedang berpura-pura.
Pada titik tertentu, manusia dapat begitu lama memainkan sebuah peran sampai peran tersebut terasa sebagai dirinya sendiri.
Karena itu, kemampuan beradaptasi tidak selalu berarti seseorang menjadi lebih kuat. Kadang-kadang seseorang hanya menjadi lebih pandai menyembunyikan perlawanan di dalam dirinya.
Di sinilah agama memberikan perspektif yang penting.
Dalam Islam, perubahan bukan sesuatu yang asing. Al-Qur’an menyatakan bahwa Allah tidak mengubah keadaan suatu kaum sampai mereka mengubah apa yang ada dalam diri mereka.
Ayat ini sering dipahami dalam konteks perubahan keadaan manusia melalui perubahan internal dan usaha mereka. Namun, jika dibaca dalam konteks adaptasi, ada satu prinsip yang dapat direnungkan: perubahan yang paling penting bukan sekadar perubahan yang tampak di luar, tetapi perubahan yang terjadi di dalam diri.
Islam tidak mengajarkan manusia untuk kehilangan dirinya demi mendapatkan penerimaan manusia.
Justru ketauhidan memberikan titik pijak yang sangat penting dalam persoalan ini.
Ketika seseorang meyakini bahwa Allah adalah satu-satunya Tuhan, maka sumber nilai tertinggi dalam hidupnya tidak seharusnya berpindah kepada penilaian manusia. Ia boleh menyesuaikan cara berbicara, cara bekerja, pakaian, kebiasaan, dan strategi sosial. Ia bahkan perlu memiliki hikmah dalam membaca keadaan.
Namun, ada sesuatu yang tidak seharusnya ikut dipertukarkan hanya demi penerimaan: prinsip yang memang diperintahkan Allah.
Di sinilah adaptasi dan ketauhidan bertemu.
Bentuk boleh berubah. Prinsip tidak selalu boleh ditukar.
Seorang Muslim dapat belajar dari lingkungan tanpa harus menyembah lingkungan. Ia dapat menghormati kebiasaan tanpa menganggap semua kebiasaan sebagai kebenaran. Ia dapat menjaga hubungan sosial tanpa menjadikan penerimaan manusia sebagai tujuan tertinggi.
Al-Qur’an juga mengingatkan bahwa manusia memang diciptakan dalam keberagaman bangsa dan suku agar saling mengenal, sementara ukuran kemuliaan di sisi Allah bukan keseragaman, melainkan ketakwaan.
Artinya, keberagaman bukan kesalahan yang harus dihapus dengan memaksa semua orang menjadi sama.
Mungkin justru lingkungan yang sehat adalah lingkungan yang mampu melakukan sesuatu yang lebih sulit daripada sekadar membuat semua orang patuh: memberikan ruang bagi perbedaan tanpa kehilangan prinsip bersama.
Maka, adaptasi terbaik bukanlah ketika seseorang berhasil menghapus seluruh perbedaannya.
Adaptasi terbaik adalah ketika seseorang mengetahui apa yang perlu diubah, apa yang perlu dipertahankan, dan kapan lingkungan perlu diberi kesempatan untuk mengenal dirinya.
Sebab tidak semua perbedaan harus disembunyikan.
Tidak semua aturan harus dilawan.
Dan tidak semua penerimaan harus dibeli dengan kehilangan diri sendiri.
Pada akhirnya, mungkin tujuan adaptasi bukanlah menjadi begitu mirip dengan lingkungan sampai tidak ada seorang pun yang menyadari bahwa Anda pernah datang sebagai orang baru.
Mungkin tujuan adaptasi adalah sesuatu yang lebih indah.
Anda datang sebagai orang asing.
Anda belajar memahami mereka.
Mereka belajar memahami Anda.
Anda berubah sedikit.
Mereka pun memberi ruang sedikit.
Sampai suatu hari keberadaan Anda tidak lagi membutuhkan penjelasan.
Ketika seseorang bertanya, “Mengapa dia seperti itu?”
Orang-orang hanya menjawab:
“Memang dia begitu.”
Dan tidak ada lagi yang perlu dijelaskan.
Sebab pada saat itu, Anda tidak sekadar berhasil menyesuaikan diri dengan sebuah lingkungan.
Anda sudah menjadi bagian dari lingkungan tersebut tanpa harus berhenti menjadi diri sendiri.
