Dulu kami pikir cinta itu sesederhana
dibelikan sepatu baru, diberi uang saku,
diantar ke sekolah, lalu ditanya,
“Sudah makan?”
Sekarang kami mengerti,
ternyata cinta itu jauh lebih rumit
Cinta adalah Ayah yang tetap berangkat bekerja,
meski tubuhnya berkali-kali meminta pulang.
Cinta adalah Ibu yang berkata,
“Tidak apa-apa, Ibu masih punya,”
padahal mungkin, itu adalah satu-satunya yang tersisa.
Aneh, ya?
Kalian selalu berkata,
“Yang penting kalian cukup.”
Padahal agar kami merasa cukup,
kalian sering kali harus belajar
bagaimana caranya bertahan dengan kekurangan,
bagaimana caranya tersenyum
ketika hidup sebenarnya sedang tidak baik-baik saja.
Kami tumbuh dengan mimpi yang semakin besar,
sementara kalian diam-diam mengecilkan keinginan sendiri.
Kami ingin sekolah di tempat terbaik, kalian usahakan.
Kami ingin buku baru, kalian carikan.
Kami ingin mencoba sesuatu, kalian berkata,
“Coba saja.”
Seolah tidak ada yang sulit
selama kami masih ingin bermimpi.
Dan lucunya,
kami pernah menganggap semua itu biasa.
Sampai suatu hari kami melihat
tangan Ayah yang semakin kasar,
rambut Ibu yang perlahan berubah warna,
dan wajah kalian yang mulai menyimpan lelah
yang selama ini tidak pernah kalian ceritakan.
Saat itulah kami sadar,
rumah yang selama ini kami sebut nyaman
ternyata dibangun dari banyak hal
yang kalian korbankan diam-diam.
Ada keringat yang tidak pernah kami lihat,
ada air mata yang tidak pernah kalian tunjukkan,
ada doa yang diam-diam kalian titipkan
untuk masa depan kami.
Ayah…
Mungkin kami tidak tahu
berapa banyak keinginanmu yang kau tahan
agar kami bisa mendapatkan apa yang kami inginkan.
Mungkin kami tidak pernah tahu
berapa kali kau berkata,
“Tidak apa-apa,”
ketika sebenarnya keadaan
sedang tidak baik-baik saja.
Ibu…
Mungkin kami tidak pernah tahu
berapa banyak malam yang kau habiskan dalam doa
setelah kami tertidur.
Berapa banyak kekhawatiran yang kau simpan sendiri.
Berapa banyak air mata yang kau hapus
sebelum kami sempat melihatnya.
Kalian tidak pernah meminta kami membalas semuanya.
Kalian hanya berkata,
“Jadilah orang baik.”
Sesederhana itu.
Ayah, Ibu…
Terima kasih,
karena ketika hidup terasa mahal,
kalian tetap berusaha membuat kami merasa cukup.
Kalian mengajarkan kami,
bahwa cinta tidak selalu datang dalam bentuk kata-kata.
Ayah, Ibu…
Jika nanti kami berhasil,
itu bukan hanya kemenangan kami.
Tapi kemenangan yang selama ini kalian tuai.
