Bangku Paling Belakang

Namanya Ilham.

“Kalau mau cari anak bermasalah, lihat saja bangku paling belakang.”

Kalimat itu pernah Ilham dengar dari seseorang yang bahkan tidak pernah benar-benar mengenalnya. Lucunya, Ilham tidak marah. Ia hanya tersenyum tipis. Karena mungkin, bagi sebagian orang, bangku paling belakang memang cocok untuk anak seperti dirinya.

Anak yang sering terlambat.

Anak yang beberapa kali lupa mengerjakan tugas.

Anak yang lebih sering diam daripada bicara.

Anak yang pernah tertidur saat pelajaran.

Anak yang kalau dipanggil guru hanya menjawab,

“Iya, Bu.”

Tanpa penjelasan.

Tanpa pembelaan.

Tanpa drama.

Raka sudah terlalu lelah untuk menjelaskan bahwa tidak semua diam berarti tidak peduli.

Kalau guru masuk kelas, hampir semua orang tahu di mana dia berada. Bangku paling belakang. Dekat jendela. Paling pojok. Tempat yang entah kenapa selalu jadi markas anak-anak yang katanya “susah diatur”.

Ilham juga punya reputasi yang lumayan terkenal. Sering terlambat. Tugas kadang lupa. Kalau ditanya guru, jawabnya singkat. Kalau ditegur, cuma mengangguk. Sering ketahuan tidur di kelas. Pernah juga keluar kelas tanpa izin. Pokoknya, kalau ada daftar siswa yang dianggap “bikin masalah”, nama Ilham hampir selalu masuk nominasi.

“Ilham itu sebenarnya pintar, cuma malas.”

“Anaknya susah banget diarahkan.”

“Kalau terus begini, mau jadi apa nanti?”

Kalimat-kalimat seperti itu sudah terlalu sering mampir ke telinganya. Awalnya Ilham peduli. Lama-lama? Capek. Akhirnya dia memilih satu cara paling aman menurutnya. Tidak menjelaskan apa-apa. Pagi itu, Ilham kembali terlambat. Bel masuk sudah berbunyi sejak lima menit lalu ketika pintu kelas perlahan terbuka.

“Assalamualaikum.”

Satu kelas menoleh. Guru yang sedang menjelaskan materi langsung berhenti.

“Ilham.”

“Iya, Bu.”

“Jam berapa sekarang?”

Ilham melihat jam di dinding. “Jam tujuh lewat lima, Bu.”

“Dan masuk sekolah jam berapa?” tanya Bu Yuli.

“Jam tujuh.” jawabnya singkat.

“Jadi?” Bu Yuli semakin geram.

Ilham diam. Beberapa teman di depan mulai tersenyum kecil.

“Duduk.” ucap Bu Yuli sambil menunjuk kursi.

Ilham berjalan menuju bangkunya. Bangku paling belakang. Seperti biasa. Ia duduk, membuka buku, lalu pura-pura membaca. Padahal pikirannya sedang jauh ke mana-mana. Tadi pagi ia bangun terlambat karena semalaman membantu ibunya menjaga adiknya yang demam. Ayahnya sedang bekerja di luar kota. Ibunya harus berjualan sejak pagi.

Dan Ilham? Ia yang menemani adiknya sampai hampir tengah malam. Tapi semua itu tidak pernah ia ceritakan. Bukan karena tidak mau. Ia hanya tidak tahu harus mulai dari mana. Hari-hari berikutnya berjalan seperti biasa.

Ilham tetap di belakang. Tetap dianggap malas. Tetap menjadi anak yang paling gampang dicurigai. Sampai suatu hari, sebuah dompet milik salah satu teman sekelas hilang. Suasana kelas langsung ramai. Semua mencari. Tas diperiksa. Laci dibuka. Meja digeser. Sampai akhirnya seseorang berkata,

“Coba lihat tas Ilham.” kata teman sekelasnya.

Ilham yang sedang duduk langsung mengangkat kepala. “Kenapa tas aku?” tanyanya penasaran.

“Ya… siapa tahu.” jawab teman nya yang lain.

“Kenapa harus aku?” tanya nya kesal. Tidak ada jawaban. Tapi tatapan orang-orang sudah cukup menjelaskan. Mereka mencurigainya. Ilham tersenyum kecil. Bukan karena lucu. Tapi karena rasanya percuma membela diri.

“Silakan.” jawabnya pasrah.

Tasnya dibuka. Buku. Pulpen. Kotak makan. Botol minum. Tidak ada dompet. Beberapa menit kemudian, dompet itu ditemukan. Ternyata terselip di bawah meja pemiliknya sendiri.

“Eh, ternyata di sini.” kata pemilik dompet. Seseorang tertawa. “Waduh, salah curiga.”

Ilham tidak ikut tertawa. Ia hanya memasukkan kembali barang-barangnya ke dalam tas. Hari itu, untuk pertama kalinya, ia sadar. Ternyata sekali seseorang diberi label buruk, apa pun yang dilakukannya bisa terlihat salah.

Seminggu kemudian, guru BK memanggilnya.

“Ilham, duduk.” kata Bu Ira.

Ilham duduk di kursi depan meja BK. Ia sudah bisa menebak percakapan ini. Tentang keterlambatan. Tentang tugas. Tentang sikapnya. Tentang nilainya. Tentang masa depannya. Namun kali ini berbeda. Guru BK tidak langsung mengeluarkan buku catatan. Tidak juga bertanya, “Kenapa kamu nakal?”. Ia hanya bertanya,

“Ilham, kamu capek?” taya Bu Ira.

Ilham terdiam. Pertanyaan sederhana itu justru membuat pertahanannya runtuh. Ia menunduk. Beberapa detik berlalu. Kemudian ia menjawab pelan,

“Iya, Bu.” jawab Ilham pelan.

“Capek kenapa?” tanya Bu Ira lagi.

Ilham menarik napas panjang lalu berkata, “Capek dianggap nggak peduli.”

Matanya mulai berkaca-kaca. “Saya sebenarnya pengin cerita, Bu. Tapi setiap kali saya mau ngomong, orang-orang sudah punya kesimpulan sendiri.” katanya sedih.

Guru BK diam, membiarkannya melanjutkan.

“Saya bukan malas. Saya cuma… kadang nggak tahu harus gimana.” ungkap Ilham.

Untuk pertama kalinya setelah sekian lama, Ilham bercerita. Tentang adiknya. Tentang ibunya. Tentang ayahnya yang jarang pulang. Tentang tugas sekolah yang sering tidak selesai karena malamnya ia harus membantu di rumah. Tentang bagaimana setiap kali datang terlambat, ia ingin menjelaskan. Tapi akhirnya memilih diam karena takut dianggap mencari alasan.

Guru BK mendengarkan. Tidak memotong. Tidak menghakimi. Tidak mengatakan, “Kamu harusnya lebih disiplin.” Hari itu Ilham pulang dengan perasaan yang aneh. Bukan karena masalahnya selesai. Masalahnya masih ada. Tapi setidaknya sekarang ada seseorang yang tahu alasan di balik diamnya.

Beberapa minggu berlalu. Ilham masih duduk di bangku paling belakang. Bedanya, sekarang ia tidak lagi merasa sendirian. Ia mulai berusaha datang tepat waktu. Tugasnya mulai dikerjakan. Nilainya perlahan naik. Dan yang paling mengejutkan, suatu hari ia maju ke depan kelas untuk mempresentasikan tugas kelompok.

Teman-temannya terdiam. Ilham yang biasanya paling belakang ternyata bisa menjelaskan materi dengan sangat baik. Setelah presentasi selesai, gurunya tersenyum.

“Ilham, ternyata kamu bisa.” kata gurunya.

Ilham tersenyum lalu berkata, “Bisa, Bu. Cuma selama ini kayaknya nggak ada yang nanya.”

Satu kelas tertawa. Kali ini Ilham ikut tertawa. Bukan tawa yang dibuat-buat. Tapi benar-benar lega. Sejak hari itu, bangku paling belakang tidak lagi menjadi tempat persembunyian Ilham. Tempat itu justru menjadi pengingat. Bahwa setiap siswa punya cerita yang tidak selalu terlihat dari nilai, seragam, keterlambatan, atau catatan pelanggaran.

Ada yang terlihat malas karena sedang lelah. Ada yang terlihat diam karena takut salah bicara. Ada yang terlihat keras karena sebenarnya sedang terluka. Dan ada yang terlihat tidak peduli karena terlalu sering merasa tidak dipedulikan.

Ilham akhirnya mengerti satu hal. Kadang seorang anak tidak membutuhkan ceramah panjang. Ia hanya membutuhkan satu orang yang mau berhenti menghakimi dan bertanya, “Kamu sebenarnya sedang kenapa?”

Karena bisa jadi, di balik seorang siswa yang dianggap bermasalah, ada seseorang yang sebenarnya hanya sedang mencari tempat untuk dipahami. Dan kita tidak pernah benar-benar tahu cerita apa yang sedang dibawa seorang anak ketika ia datang ke sekolah.

Jadi, sebelum memberi label, mungkin kita perlu belajar satu hal sederhana, dengarkan dulu. Sebab terkadang, seorang anak tidak membutuhkan orang yang menyelamatkannya. Ia hanya membutuhkan seseorang yang berkata,

“Aku dengar. Ceritakan saja.” [].

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *