Lomba di Tempat Pengajian

Sebuah teks deskripsi oleh Muhammad Raizzu Habiby (Murid Kelas IX-2)

Awal tahun 2024 menjadi lembar terakhir perjalanan saya mengaji di sebuah meunasah yang begitu saya cintai. Tempat sederhana itu bukan sekadar bangunan tempat belajar mengaji, melainkan rumah kedua yang menyimpan banyak kenangan. Di sanalah saya bertemu dengan ustaz, kawan-kawan, serta berbagai cerita yang perlahan menjadi bagian dari hidup saya. Sebelum benar-benar meninggalkan tempat itu, ternyata pengajian kami mengadakan sebuah acara perlombaan yang diikuti oleh para murid, mulai dari kelas I hingga kelas II SMA. Berbagai cabang perlombaan disiapkan dan setiap murid diminta untuk memilih salah satunya. Tanpa berpikir panjang, saya mendaftarkan diri sebagai peserta lomba azan.

Sebenarnya, lomba tersebut bukanlah perlombaan pertama yang saya ikuti. Sebelum itu, saya sudah empat kali mencoba mengikuti perlombaan. Namun, hanya satu kali saya berhasil meraih kemenangan, yaitu sebagai Harapan II dalam lomba azan salat Subuh ketika masih duduk di kelas III SD. Bagi orang lain, mungkin pencapaian itu sudah cukup membanggakan. Akan tetapi, bagi saya, gelar tersebut terasa seperti kemenangan yang berdiri di ambang pintu, tetapi tidak benar-benar masuk ke dalam rumah. Karena itulah, perlombaan kali ini terasa berbeda. Saya ingin menjadikannya sebagai kesempatan terakhir untuk membuktikan bahwa saya mampu berdiri di podium paling tinggi sebelum benar-benar berpisah dengan meunasah tercinta.

Dalam hati, saya menanam sebuah tekad: kali ini saya harus menjadi juara satu. Saya membayangkan sebuah sertifikat dengan nama saya tercetak jelas di atasnya, Muhammad Raizzu Habiby, sebagai juara I lomba azan. Bayangan itu terus berputar di kepala seperti sebuah lagu yang tidak mau berhenti dimainkan. Saya tahu, mungkin keinginan tersebut terdengar sederhana, tetapi bagi saya, itu adalah impian kecil yang ingin saya bawa pulang sebagai kenang-kenangan terakhir dari tempat yang telah menemani masa kecil saya.

Setelah resmi menjadi peserta, kami diminta mengikuti tes untuk setiap cabang yang dipilih. Ketika nama saya dipanggil untuk maju dan mengumandangkan azan, langkah kaki saya terasa lebih berat daripada biasanya. Saya berdiri di hadapan banyak orang, baik murid laki-laki maupun perempuan. Saat itu, rasa malu datang seperti gelombang besar yang tiba-tiba menghantam dada. Pikiran saya mulai dipenuhi berbagai pertanyaan. Bagaimana kalau suara saya terdengar aneh? Bagaimana kalau saya salah? Bagaimana kalau semua orang menertawakan saya?

Namun, semua pertanyaan itu harus saya singkirkan.

Saya pun melangkah ke depan dan mengambil mikrofon berwarna hitam yang sudah tidak asing lagi. Mikrofon itu memiliki bau khas yang entah mengapa masih saya ingat sampai sekarang. Begitu mikrofon berada di tangan, terdengar suara “siiit… siiittt…” yang menggema ke seluruh ruangan. Suara itu seolah-olah menjadi pembuka bagi keberanian yang sejak tadi bersembunyi di dalam diri saya.

Saya menarik napas dalam-dalam.

Kemudian, azan mulai saya kumandangkan.

Suara saya perlahan memenuhi ruangan. Setiap kalimat yang keluar terasa seperti melepaskan satu demi satu rasa takut yang sejak tadi mengikat saya. Irama azan yang saya gunakan sengaja saya keluarkan dengan penuh keyakinan. Dalam hati, saya bahkan sempat khawatir jangan-jangan ada peserta lain yang akan meniru irama tersebut. Namun, saat itu saya berusaha tidak memikirkan apa pun selain menyelesaikan azan dengan sebaik-baiknya.

Setelah sampai pada kalimat terakhir, saya menurunkan mikrofon. Ada sedikit rasa lega yang mengalir dalam dada. Bahkan, sempat terlintas keinginan untuk melirik ke arah murid-murid perempuan. Siapa tahu ada satu atau dua pasang mata yang diam-diam mengagumi penampilan saya. Namun, belum sempat mencari, pikiran saya langsung menyadarkan diri sendiri: mana mungkin ada yang seperti itu? Saya pun tersenyum kecil. Ternyata, orang yang paling mungkin selalu bangga kepada saya bukanlah mereka, melainkan Bunda tercinta.

Setelah giliran saya selesai, saya duduk kembali dan menyaksikan peserta-peserta lain menunjukkan kemampuan mereka. Satu demi satu maju ke depan. Suara azan silih berganti memenuhi ruangan, sementara para ibu sibuk mengabadikan penampilan anak-anak mereka dengan kamera ponsel. Bunda pun tidak ketinggalan. Dari kejauhan, saya melihat beliau merekam penampilan saya. Entah mengapa, keberadaan kamera Bunda membuat saya merasa lebih tenang. Setidaknya, apa pun hasil perlombaan nanti, ada satu orang yang sudah menyimpan perjuangan saya dalam sebuah rekaman.

Setelah semua peserta selesai tampil, saya memilih untuk tidak terlalu memikirkan hasil perlombaan. Saya bahkan tidak terlalu ingin melihat peserta lain lagi. Pikiran saya hanya tertuju pada satu hal: malam pembagian piala.

Hari yang ditunggu akhirnya datang.

Malam itu terasa berbeda. Suasana meunasah dipenuhi keramaian, suara percakapan, dan wajah-wajah penuh harapan. Sementara itu, jantung saya berdetak seperti seseorang yang sedang mengetuk pintu dengan terburu-buru. Saya mencoba terlihat tenang, tetapi sebenarnya perasaan saya berantakan. Saya hanya bisa menunggu sambil berharap nama saya akan disebut sebagai pemenang.

Tiba-tiba, seorang kawan datang dan mengatakan sesuatu yang membuat perasaan saya campur aduk. Katanya, irama azan yang saya gunakan ternyata diikuti oleh salah seorang peserta lain. Namanya juga Habiby, tetapi ia berasal dari kelas V. Mendengar hal itu, hati saya langsung dipenuhi rasa kesal. Dalam benak saya muncul pikiran, “Wah, jangan-jangan irama saya benar-benar ditiru.” Namun, saya hanya bisa menunggu sampai pengumuman membuktikan semuanya.

Akhirnya, saat yang paling menegangkan tiba.

Pembawa acara mulai mengumumkan para juara lomba azan, mulai dari juara I hingga Harapan III. Setiap penyebutan nama membuat jantung saya semakin tidak karuan. Rasanya waktu berjalan begitu lambat, seolah-olah jarum jam sengaja mempermainkan kesabaran saya.

Lalu, nama juara I disebut.

Habiby, kelas V.

Saya terdiam.

Orang yang menurut kawan saya meniru irama azan saya justru berdiri sebagai juara pertama. Sesaat, rasa marah menyala di dalam hati seperti api yang disiram minyak. Saya kecewa, bahkan sangat kecewa. Akan tetapi, saya sadar bahwa saya berada di tengah banyak orang. Mau tidak mau, saya harus menunjukkan wajah yang lapang. Saya pun memasang senyum selebar mungkin dan mencoba menerima hasil tersebut dengan ikhlas, meskipun hati saya belum sepenuhnya tenang.

Namun, ternyata cerita belum selesai.

Nama saya akhirnya disebut sebagai juara II lomba azan.

Seketika itu juga, kemarahan yang sebelumnya memenuhi dada berubah menjadi kegembiraan yang sulit digambarkan dengan kata-kata. Rasanya seperti awan gelap yang mendadak disibak cahaya matahari. Saya memang tidak mendapatkan juara pertama, tetapi saya berhasil memperoleh sesuatu yang selama ini saya kejar: sebuah kemenangan yang terasa jauh lebih berarti daripada sekadar angka di podium.

Hal pertama yang saya lakukan adalah mencari Bunda di tengah keramaian. Mata saya menyapu satu per satu wajah yang ada. Saya ingin menemukan orang yang sejak awal selalu percaya kepada saya. Ketika akhirnya melihat Bunda, hati saya terasa hangat. Saya tahu, mungkin bagi sebagian orang juara II hanyalah posisi kedua. Namun, bagi saya dan Bunda, piala itu adalah bukti bahwa keberanian saya untuk berdiri di depan banyak orang tidak sia-sia.

Perlombaan itu ternyata bukan benar-benar menjadi akhir hubungan saya dengan meunasah. Setelah acara tersebut, saya masih sering datang ke sana. Bahkan, para ustaz di sana sering meminta saya untuk mengumandangkan azan Asar. Meunasah kami berada di tengah kota, sehingga suara azan yang saya lantunkan dapat terdengar dan bergema di berbagai penjuru.

Setiap kali waktu Asar tiba, saya kembali memegang mikrofon. Suara azan pun terbang meninggalkan menara dan dinding-dinding meunasah, menyusuri jalanan kota, mengetuk pintu-pintu rumah, dan mengingatkan orang-orang bahwa waktu untuk menghadap Tuhan telah tiba. Saat itu, saya mulai menyadari bahwa mungkin inilah hadiah terbesar dari perlombaan tersebut. Saya tidak menjadi juara pertama, tetapi saya mendapatkan kesempatan untuk terus mengumandangkan azan di tempat yang sangat saya cintai.

Kini, ketika mengingat kembali peristiwa itu, saya menyadari bahwa sebuah perlombaan tidak selalu tentang siapa yang berdiri paling tinggi di podium. Kadang-kadang, kemenangan justru hadir dalam bentuk keberanian untuk maju ketika rasa takut sedang menguasai diri. Piala mungkin suatu hari akan berdebu, sertifikat mungkin tersimpan di dalam lemari, tetapi kenangan tentang suara azan yang pernah menggema di meunasah sebelum Ramadan akan tetap tinggal.

Dan mungkin, itulah alasan mengapa saya selalu mengingat Lomba Sebelum Ramadan sebagai salah satu kenangan paling berharga sebelum saya benar-benar meninggalkan meunasah tercinta.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *