El Niño

Ada saatnya alam seperti sedang mengingatkan manusia bahwa kehidupan tidak pernah sepenuhnya berada dalam kendali kita. El Nino adalah salah satu pengingat tersebut. El Nino merupakan fenomena iklim ketika suhu permukaan laut di wilayah tengah dan timur Pasifik tropis mengalami pemanasan yang tidak biasa. Perubahan tersebut kemudian memengaruhi pola angin, hujan, suhu, dan cuaca di berbagai wilayah dunia. Dampaknya tidak selalu sama: sebagian wilayah mengalami kekeringan, sementara wilayah lain justru menghadapi hujan ekstrem dan banjir. Namun bagi sejumlah negara, terutama Indonesia, Australia, dan beberapa wilayah Asia, El Nino dapat terasa begitu menyakitkan karena membawa musim yang jauh lebih kering daripada biasanya.

Bayangkan sebuah desa yang biasanya memiliki sawah hijau. Sungai mengalir, sumur masih menyediakan air, dan petani dapat menjalankan aktivitas seperti biasa. Kemudian hujan semakin jarang. Hari berganti minggu. Minggu berganti bulan. Tanah mulai mengering, tanaman sulit tumbuh, debit sungai menurun, dan masyarakat harus semakin berhati-hati menggunakan air. Inilah salah satu wajah kekeringan yang dapat diperparah oleh pola El Nino.

El Nino tidak hanya memengaruhi Indonesia. Organisasi Meteorologi Dunia (WMO) menjelaskan bahwa fenomena ini dapat mengubah pola suhu dan curah hujan di berbagai wilayah dunia, meningkatkan risiko kekeringan, panas ekstrem, maupun hujan lebat di daerah tertentu. Karena itu, El Nino mengingatkan kita bahwa persoalan lingkungan tidak mengenal batas negara. Kekeringan di satu wilayah dapat memengaruhi pertanian, perdagangan, dan kehidupan masyarakat di wilayah lain. Dunia yang saling terhubung membutuhkan kerja sama, bukan sikap saling menyalahkan.

Di Indonesia dan Australia, El Nino secara umum meningkatkan peluang kondisi kering. Kekeringan tersebut dapat berdampak pada pertanian, ketersediaan air, serta meningkatkan risiko kebakaran hutan dan lahan. Yang mengering bukan hanya tanah. Kekeringan juga dapat mengeringkan harapan. Petani khawatir gagal panen. Masyarakat khawatir persediaan air semakin terbatas. Harga sejumlah komoditas pangan dapat terdampak ketika produksi pertanian terganggu. Dengan kata lain, El Nino bukan sekadar persoalan cuaca. Ia dapat berubah menjadi persoalan ekonomi, pangan, kesehatan, dan kehidupan sosial.

Salah satu hal yang sering kita lupakan adalah bahwa dunia saling terhubung. Ketika produksi pertanian terganggu di suatu wilayah, dampaknya dapat merambat ke pasar dan perdagangan internasional. NOAA mencatat bahwa kondisi El Nino dapat memengaruhi produksi pertanian dan ketersediaan komoditas pangan di pasar dunia. Kekeringan juga dapat meningkatkan risiko kebakaran hutan. Pada peristiwa El Nino yang kuat, Indonesia pernah mengalami kekeringan yang berkaitan dengan kebakaran hutan besar dan masalah kualitas udara. Asap dari kebakaran tidak mengenal batas administrasi. Ia dapat bergerak melewati wilayah, mengganggu aktivitas masyarakat, mengurangi kualitas udara, dan memperlihatkan betapa eratnya hubungan antara perubahan iklim, lingkungan, dan kehidupan manusia.

Tetapi kita juga harus berhati-hati. Tidak tepat jika setiap kekeringan atau bencana langsung disalahkan kepada El Nino. Para ilmuwan menjelaskan bahwa El Nino mengubah kemungkinan dan pola cuaca, bukan secara otomatis menyebabkan setiap kejadian ekstrem tertentu. Dampaknya juga berbeda-beda berdasarkan wilayah dan musim. Artinya, El Nino adalah bagian dari persoalan yang lebih kompleks. Perubahan iklim, kerusakan hutan, pengelolaan air yang buruk, perubahan penggunaan lahan, serta kesiapan masyarakat menghadapi bencana juga ikut menentukan seberapa besar dampak yang dirasakan.

Kekeringan misalnya, kekeringan seharusnya tidak hanya membuat kita takut. Ia seharusnya membuat kita belajar. Kita belajar bahwa air bukan sesuatu yang boleh dianggap tidak terbatas. Kita belajar bahwa hutan bukan sekadar kumpulan pohon. Kita belajar bahwa pertanian membutuhkan lingkungan yang sehat. Dan yang paling penting, kita belajar bahwa manusia tidak boleh hanya bereaksi ketika bencana sudah terjadi. Kesiapsiagaan harus dimulai sebelum kekeringan datang. Masyarakat perlu memiliki pengelolaan air yang baik, petani membutuhkan informasi iklim yang dapat membantu mengambil keputusan, dan pemerintah perlu memperkuat sistem peringatan dini serta kesiapan menghadapi kekeringan.

Pada akhirnya, El Nino memberikan sebuah pesan sederhana. Apa yang kita anggap biasa hari ini mungkin menjadi sesuatu yang sangat berharga ketika kita kehilangannya. Hari ini kita dapat membuka keran dan mendapatkan air. Besok belum tentu keadaan selalu sama. Hari ini kita melihat sawah hijau. Tetapi tanpa air yang cukup, hamparan hijau itu dapat berubah menjadi tanah kering. Karena itu, menghadapi El Nino bukan hanya tugas pemerintah, ilmuwan, atau petani. Kita semua memiliki bagian. Menghemat air, menjaga lingkungan, tidak membakar hutan dan lahan sembarangan, serta meningkatkan kesadaran tentang perubahan iklim mungkin terlihat sebagai tindakan kecil.

Tetapi ketika dilakukan oleh jutaan orang, tindakan kecil dapat menjadi kekuatan besar. Sebab pada akhirnya, El Nino mungkin datang sebagai fenomena alam, tetapi seberapa besar penderitaan yang ditimbulkannya sangat dipengaruhi oleh seberapa siap manusia menghadapinya. Dan ketika langit terlalu lama tidak menurunkan hujan, semoga kita tidak hanya bertanya, “Kapan hujan akan datang?”

 

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *