Seuntai kisah perjalanan oleh: Khairul Walidin (Pelancong Internasional)
Pukul sembilan pagi, pesawat akhirnya mendarat di bumi Mesir. Begitu keluar dari bandara, matahari pagi menyambut dengan cahayanya yang terang. Namun anehnya, angin dingin masih terasa menyentuh wajah. Udara yang mengenai pipiku seolah membawa sesuatu yang akrab, seperti angin dari kampung halaman yang datang menyapa setelah perjalanan yang panjang. Tetapi beberapa langkah kemudian, aku sadar bahwa Mesir memiliki cara sendiri untuk menyambut seorang pendatang.
Kairo riuh. Suara kendaraan bersahutan dari berbagai penjuru, klakson terdengar tanpa jeda, orang-orang berlalu-lalang, dan percakapan bercampur dengan hiruk-pikuk jalanan. Semuanya bergerak seolah tanpa menunggu. Suasana ini terasa begitu berbeda dari Saudi yang selama ini akrab denganku. Lebih tertib, tenang, dan tenteram.
Di Kairo, aku seperti dilempar ke dalam sebuah kota yang tidak pernah benar-benar diam. Ada pasangan suami istri yang sedang beradu argumen. Seorang pria bertubuh besar sibuk bernegosiasi dengan sopir taksi. Di tengah keramaian itu, aku hanya tersenyum.
“Selamat datang di Mesir,” batinku. Bang Fikri langsung mengambil koperku.
“Bikhidmatikum ya shahbi,” senyumnya merekah sembari menjulurkan tangannya kepadaku.
Aku balik tersenyum, dan menerima juluran tangannya. kami berpelukan sesaat sebelum akhirnya berpisah. Sederhana, tetapi hangat.
Begitulah barangkali persahabatan. Tidak selalu membutuhkan kalimat panjang. cukup perhatian kecil membuat suasana terasa mengesankan. Hari itu, aku menuju kawasan Al-Azhar dan kemudian tinggal di Asrama Imam Ad-Dardir bersama Bang Fikri Haekal dan Alghibran. Tempat itu berada di lingkungan masjid yang di dalamnya dimakamkan seorang ulama besar: Imam Ad-Dardir, atau Abu Al-Barakat.
Ada sesuatu yang terasa berbeda ketika mengetahui bahwa tempat yang akan kutinggali bukan sekadar sebuah asrama, tetapi berada di tengah jejak panjang para ulama dan penuntut ilmu. Namun, sebelum benar-benar sampai kami sempat singgah diwarung legendaris belakang masjid Azhar menikmati segelas asab dari tebu khas Mesir.
“Kalau di Saudi welcome drink-nya Zamzam, tapi kalau di Mesir ada asab wee…,” sahut ustaz Fikri dengan candaan khasnya. Kelihatannya sederhana, tetapi menjadi salah satu kenangan pertama yang membuatku tersenyum.
Dalam perjalanan menuju asrama, pandanganku justru lebih banyak tertuju kepada bangunan-bangunan tua di sepanjang jalan. Dinding dengan ukiran yang dahulu mungkin begitu megah, kini sebagian telah rapuh dimakan usia. Menara-menara tua menjulang di antara bangunan kota. Jejak berbagai zaman seperti masih tersimpan di balik batu-batu yang telah berabad-abad menyaksikan manusia datang dan pergi.
Kami melewati Masjid Al-Azhar. Aku memandang sekeliling dan tiba-tiba pikiranku melayang jauh. Bagaimana jika aku datang ke tempat ini seribu tahun yang lalu? Bagaimana jika jalan-jalan yang kini penuh kendaraan ini dahulu dipenuhi para penuntut ilmu dari berbagai penjuru dunia? Para ulama duduk mengajarkan kitab. Para pedagang memenuhi lorong-lorong kota. Para penguasa dan bangsawan melintas dengan kemegahan mereka. Kairo bukan hanya sebuah kota. Ia pernah menjadi salah satu panggung besar peradaban. Di tanah ini, sejarah panjang pernah ditulis. Dinasti berganti. Para raja dan pangeran lahir. Para ulama mengabdikan hidupnya untuk ilmu. Generasi-generasi manusia datang untuk mencari sesuatu yang lebih tinggi daripada sekadar dunia.
Mungkin itulah yang membuat perasaanku aneh. Ada bahagia karena akhirnya sampai. Namun, ada pula kesedihan yang sulit dijelaskan. Sebab saat memandang bangunan-bangunan tua itu, aku seperti sedang berdiri di hadapan waktu. Kairo tidak semuanya indah. Ada debu, sampah, bangunan kusam, dan jalanan yang riuh. Tetapi aku memilih untuk melihat sisi yang lain.
Aku teringat sebuah nasihat dari Abon Anwar Yusuf, guruku saat menimba ilmu di Dayah Jeumala Amal dulu. “Ke mana pun kau pergi, kau akan menemukan apa yang kau cari. Niatmu sangat memengaruhi apa yang akan kau terima dalam perjalanan.” Kalimat itu terus terngiang-ngiang di kepalaku. Mungkin benar. Sebab perjalanan tidak selalu memperlihatkan kepada kita apa yang ada di depan mata. Sering kali, perjalanan justru memperlihatkan apa yang ada di dalam diri kita. Orang yang datang hanya untuk mencari kekurangan, akan pulang membawa keluhan. Orang yang datang untuk mencari kesempurnaan, mungkin akan kecewa. Tetapi, orang yang datang dengan hati yang ingin belajar, akan menemukan pelajaran. Bahkan, dari sebuah jalan yang penuh debu.
Hari itu aku baru pertama kali tiba di Mesir. Aku belum tahu ke mana perjalanan ini akan membawaku. Belum tahu siapa saja yang akan Allah pertemukan denganku. Belum tahu makam siapa yang kelak akan kudoakan. Belum tahu majelis ilmu mana yang akan kudatangi. Belum tahu perpisahan apa yang kelak akan membuatku diam lebih lama dari biasanya. Aku hanya tahu satu hal. Kakiku baru saja menginjak Mesir. Tetapi, rasanya perjalanan yang sesungguhnya baru saja dimulai. Barangkali inilah sebabnya sebuah perjalanan tidak pernah benar-benar dimulai ketika kendaraan bergerak. Ia dimulai ketika hati mulai membuka mata.
Dan di pagi pertama itu, di tengah suara klakson, aroma jalanan, segelas asab, bangunan tua, Masjid Al-Azhar, dan wajah-wajah sahabat yang menyambutku, aku mulai belajar bahwa, setiap tempat memiliki cerita. Tetapi, hanya hati yang datang dengan niat yang benar yang mampu mendengarnya.
Aku datang ke Mesir untuk melihat. Tapi, Mesirlah yang perlahan mulai mengajariku cara melihat.
