DJA BEKALI GURU BK, WALI KELAS, DAN WALI KAMAR TANGANI MASALAH SANTRI MELALUI PELATIHAN BIMBINGAN DAN KONSELING

Jeumala Amal – Lueng Putu, Pidie Jaya (19/9) Dayah Jeumala Amal (DJA) menggelar pelatihan profesionalisme layanan bimbingan dan konseling bagi guru BK, wali kelas, dan wali kamar di aula DJA, Sabtu (19/9/2026).

Kegiatan ini menghadirkan Muhammad Asri, M.Pd., Kons. sebagai pemateri. Pelatihan ini bertujuan meningkatkan profesionalisme para pendamping santri dalam memberikan layanan bimbingan dan konseling, sehingga mereka mampu menyelesaikan persoalan yang selama ini sulit ditangani.

Bpk. Asri mengulas berbagai studi kasus yang pernah terjadi di dayah, mulai dari tahap awal murid masuk dayah hingga mereka mampu beradaptasi. Menurutnya, peran konselor, baik di kamar maupun di kelas, sangat berpengaruh terhadap tumbuh kembang murid. Ia menguraikan bahwa masa awal murid baru di dayah kerap menjadi titik paling rawan. Pada fase tersebut, santri harus berpisah dari keluarga sekaligus menyesuaikan diri dengan ritme kehidupan yang sama sekali baru.

“Anak yang baru masuk dayah itu sedang berpisah dari rumah, dari orang tua, dan dari kebiasaan lamanya. Di fase awal ini disebut dengan fase ‘bulan madu.’ Iming-iming sebelum masuk ke dayah apakah sesuai dengan realitas yang didapat? Di sinilah  wali kamar sering jadi orang pertama yang mereka temui ketika sedang goyah,” ujarnya.

Bpk. Asri menambahkan, persoalan yang tampak sepele, seperti rindu rumah, tidak betah, sulit bergaul, atau sering menyendiri, dapat berkembang menjadi masalah yang lebih besar bila tidak segera ditangani. Karena itu, kepekaan konselor dalam membaca gejala sejak dini menjadi kunci. Menurutnya, seorang konselor harus mampu mendampingi homsickness yang dialami murid.

“Kalau ada murid yang rindu rumah, katakan padanya, rindu rumah itu wajar. Semua murid baru juga sama seperti kamu. Justru kalau kamu gak rindu rumah yang bahaya. Peran kita terletak di sini. Bisa gak kita mendampinginya.” Pungkas Pak Asri.

Penanganan yang efektif, lanjutnya, juga menuntut keterlibatan seluruh sistem untuk menyelesaikan persoalan peserta didik. Menurutnya, kerja sama seluruh sistem, mulai dari manajemen hingga konselor sangat mempengaruhi mental dan pola pikir peserta didik. Ia juga menegaskan bahwa konselor tidak dituntut selalu memberikan jawaban atas setiap masalah. Peran utamanya adalah mendampingi santri agar mampu menemukan jalan keluarnya sendiri. “Tugas kita sebagai konselor itu adalah membantu orang lain. Dan kita harus mampu menjaga kerahasiaan murid. Konsseling itu bukan untuk menggali informasi orang lain. kia berurusan dengan murid yang sedang berasa di depan kita,” ucapnya.

Melalui pelatihan ini, panitia berharap para guru BK, wali kelas, dan wali kamar dapat memberikan layanan bimbingan dan konseling yang lebih profesional dan terarah. Dengan bekal studi kasus dan pendekatan yang telah dibahas, para konselor diharapkan mampu menyelesaikan persoalan yang selama ini sulit ditangani, sehingga santri dapat tumbuh dan berkembang secara optimal selama menempuh pendidikan di dayah.[]

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *