Energi

Sebuah cerpen oleh Thasoedi (Guru MTs)

Bagaimana alur kerja tubuh manusia sebelum melakukan sesuatu, misalnya seperti mengeluarkan kata jorok di acara penting dalam hidupnya?

Pertanyaan itu mungkin terdengar seperti pertanyaan seorang guru Biologi yang terlalu lama berada di laboratorium. Padahal, tubuh manusia melakukan pekerjaan yang jauh lebih rumit sebelum sesuatu yang sederhana terjadi.

Sebelum tangan bergerak, ada perintah dari otak. Sebelum mulut bersuara, ada rangkaian sinyal yang berjalan sangat cepat. Rangsangan diterima, diolah, diberi makna, dipengaruhi emosi dan dorongan, lalu tubuh mempersiapkan gerakan.

Semua itu terjadi dalam waktu yang sangat singkat.

Manusia menyebut hasil akhirnya sebagai tindakan.

Sore itu, sebuah tindakan sudah lebih dahulu sampai ke kantor guru dalam bentuk foto.

Pak Puteh mengirimkan foto sebuah dinding yang dicoret ke grup guru.

Tidak lama kemudian, foto itu sudah terbuka di ponsel Pak Jauhari.

Ia meletakkan ponselnya di atas meja, lalu merapikan posisinya agar sejajar dengan tumpukan buku di sebelahnya.

Pak Sabi memperbesar foto.

Pak Langa bahkan belum selesai membaca pesan ketika tangannya sudah berpindah ke aplikasi lain.

“Sudah ketahuan orangnya?” tanya Pak Jauhari.

“Belum,” jawab Pak Puteh.

“Di mana?”

“Blok belakang.”

“Dinding lagi?”

Pak Puteh mengangguk.

Pak Jauhari menarik napas pendek.

Di depan mereka, sebuah televisi berukuran sangat besar memenuhi hampir separuh dinding kantor guru. Puluhan kotak kecil menampilkan berbagai sudut boarding school: halaman, koridor, tangga, gerbang, lapangan, depan asrama, kantin, dan beberapa sudut lain yang biasanya tidak terlalu diperhatikan.

Di salah satu layar, beberapa murid berlari di koridor.

Satu orang melompat turun dari dua anak tangga.

Dua lainnya mengejar dari belakang.

Pak Langa menunjuk layar.

“Yang itu kalau ditanya pasti bilang sedang olahraga.”

“Bisa jadi memang olahraga,” kata Pak Sabi.

“Kalau begitu saya juga olahraga setiap kali terlambat masuk kelas.”

Pak Puteh tertawa.

Pak Jauhari tidak.

Tangannya justru bergerak mengambil kembali ponsel yang tadi ia letakkan.

Ia memperbesar foto dinding.

Sebuah nama tertulis besar. Di bawahnya ada gambar yang bentuknya tidak begitu jelas. Mungkin burung. Mungkin sandal. Mungkin sesuatu yang hanya dipahami oleh pembuatnya.

“Ini bukan sekadar coretan,” katanya.

Pak Sabi menoleh.

“Kenapa?”

“Dia sengaja membuatnya besar.”

“Justru itu yang menarik.”

“Apa yang menarik?”

“Energinya.”

Pak Jauhari mengangkat wajah.

Pak Sabi menunjuk layar CCTV.

“Lihat mereka.”

Mereka kembali melihat layar.

Seorang murid berlari melewati koridor. Yang lain menyusul. Di layar berbeda, beberapa murid duduk bergerombol. Seorang tiba-tiba berdiri dan menarik temannya.

“Tidak habis-habis,” kata Pak Jauhari.

“Memang,” jawab Pak Puteh.

“Dari dulu juga anak-anak begitu.”

Pak Sabi tersenyum.

“Dari dulu juga orang dewasa mengeluh anak-anak begitu.”

Pak Langa mengangguk.

“Berarti energi kita diwariskan turun-temurun.”

Kali ini Pak Jauhari tertawa pendek.

Pak Sabi kembali memperhatikan foto.

“Saya tidak membenarkan vandalisme.”

“Tidak ada yang bilang begitu,” kata Pak Jauhari.

“Bagus. Berarti kita sudah punya satu kesepakatan.”

Ia mengetuk layar ponselnya.

“Yang saya persoalkan adalah kebiasaan kita menyelesaikan cerita hanya dari apa yang terlihat.”

Pak Jauhari mengernyit.

“Yang terlihat cukup jelas. Anak mencoret dinding.”

“Perbuatannya jelas. Alasannya belum.”

Pak Puteh menyandarkan tubuh.

“Bisa jadi bosan.”

“Bisa jadi ingin dianggap,” kata Pak Sabi.

“Bisa jadi ikut-ikutan,” tambah Pak Langa.

“Bisa jadi memang suka menggambar,” kata Pak Puteh.

Pak Jauhari menatap mereka satu per satu.

“Dan semua kemungkinan itu menghapus kesalahannya?”

“Tidak.”

Jawaban Pak Sabi cepat.

“Kesalahan tetap kesalahan. Mengetahui penyebabnya hanya membuat kita tahu apa yang harus dilakukan setelahnya.”

Pak Jauhari tidak langsung menjawab.

Ia mengambil pena di meja, memutarnya sekali, lalu meletakkannya kembali tepat di samping buku.

Pak Puteh memperhatikan foto tanpa banyak bicara.

Pak Sabi sesekali berpindah antara foto dan layar CCTV, seperti sedang mencari hubungan antara dua hal yang belum selesai ia pahami.

Pak Langa membuka ponsel, membaca sesuatu, mengetik sebentar, lalu kembali menatap televisi.

Empat orang.

Empat gerak.

Empat cara menanggapi satu masalah.

Bahkan energi mereka sendiri tidak sama.

Pak Jauhari seperti arus yang selalu ingin berada di jalur yang benar. Sedikit saja ada benda bergeser, tangannya akan mengembalikannya. Aturan baginya bukan sekadar tulisan yang ditempel di dinding. Aturan adalah cara agar banyak orang bisa hidup dalam satu tempat tanpa saling mengganggu.

Pak Sabi lebih seperti arus yang terus mencari jalan. Ia tidak puas dengan gejala. Kalau ada masalah, ia ingin tahu apa yang terjadi sebelumnya.

Pak Puteh bergerak lebih pelan. Ia jarang menjadi orang pertama yang bicara, tetapi matanya sering menangkap hal yang terlewat.

Pak Langa lain lagi. Energinya cepat berpindah. Dari layar CCTV ke ponsel, dari ponsel ke percakapan, dari percakapan ke lelucon. Tetapi sesekali, di balik candanya, ia justru menyampaikan sesuatu yang sederhana.

“Kalau saya jadi anak itu,” katanya, “saya tidak akan gambar di dinding.”

Pak Jauhari menoleh.

“Lalu?”

“Saya gambar di buku.”

“Lebih aman.”

“Belum tentu. Buku saya dulu pernah disita karena gambar guru.”

Pak Puteh tertawa.

“Makanya jangan gambar guru,” kata Pak Jauhari.

Pak Langa mengangguk serius.

“Sekarang saya gambar pemandangan.”

Pak Sabi menunjuk layar CCTV.

“Masalahnya, mereka punya tenaga, rasa ingin tahu, keinginan untuk diakui, keinginan bermain, ingin mencoba sesuatu. Semua itu bagian dari manusia yang sedang tumbuh.”

“Dan karena itu mereka boleh melakukan apa saja?” tanya Pak Jauhari.

“Tidak.”

Pak Sabi menatapnya.

“Justru karena energinya besar, mereka perlu saluran dan batas.”

Pak Puteh mengangguk.

“Seperti listrik.”

Pak Jauhari menatapnya.

“Mulai lagi.”

Pak Puteh tersenyum.

“Waktu sekolah dulu kita pernah praktik. Baterai, kabel, lampu kecil.”

Pak Langa langsung menyela.

“Dan biasanya ada satu anak yang sok pintar lalu kabelnya ditempel sembarangan.”

“Betul,” kata Pak Puteh.

“Lampunya menyala?”

“Kadang.”

“Kalau tidak?”

“Berarti rangkaiannya salah.”

Pak Sabi mengambil ponsel.

“Padahal baterainya tidak salah.”

Pak Puteh mengangguk.

“Energinya ada. Yang perlu dilihat adalah rangkaiannya.”

Pak Jauhari kembali melihat layar besar.

Murid-murid masih berlari.

“Maksud Anda anak-anak itu baterai?”

“Bukan secara harfiah.”

Pak Puteh tertawa.

“Tubuh manusia jelas lebih rumit. Ada otak, saraf, otot, hormon, neurotransmiter, pengalaman, lingkungan. Tidak ada satu sakelar sederhana yang bisa menjelaskan kenapa seseorang tiba-tiba melakukan sesuatu.”

Pak Sabi menambahkan, “Tetapi prinsip sederhananya bisa dipakai. Apa yang keluar dari seseorang sering merupakan hasil dari rangkaian yang panjang.”

Pak Jauhari diam.

Ia melihat foto dinding lagi.

Coretan itu adalah hasil akhirnya.

Yang terlihat hanya tangan dan cat.

Yang tidak terlihat jauh lebih banyak.

Mungkin kebosanan.

Mungkin dorongan untuk mencoba.

Mungkin pengaruh teman.

Mungkin keinginan menunjukkan kemampuan.

Mungkin sekadar keputusan beberapa detik yang kemudian menjadi masalah panjang.

Tidak satu pun kemungkinan itu membuat dinding menjadi boleh dicoret.

Tetapi tidak satu pun juga cukup untuk menjelaskan manusia hanya dengan satu kata: nakal.

Pak Langa bersandar.

“Kalau begitu kita harus mencari siapa yang menyalakan sakelarnya.”

Pak Sabi tertawa.

“Bukan begitu juga.”

“Sayang sekali. Saya sudah mulai paham.”

Mereka kembali tertawa.

Pak Jauhari membuka foto untuk terakhir kalinya.

Kali ini ia tidak langsung melihat coretannya sebagai kerusakan.

Ia memperhatikan gambar di bawah nama itu.

Garisnya memang kasar, tetapi ada bagian yang dibuat dengan cukup rapi. Proporsinya belum sempurna, namun terlihat bahwa tangan yang membuatnya tahu sedikit tentang menggambar.

Pak Jauhari mendekatkan ponselnya.

“Anak ini bisa menggambar.”

Pak Sabi tersenyum.

“Nah.”

“Jangan mulai.”

“Saya belum bilang apa-apa.”

Pak Puteh ikut melihat.

“Memang ada bakat.”

Pak Langa bangkit sedikit dari kursinya.

“Bakat vandalisme?”

“Bakat menggambar.”

“Bedanya tipis kalau medianya dinding sekolah.”

Pak Jauhari hendak menjawab.

Namun ia berhenti.

Matanya kembali mengikuti garis pada gambar itu.

Ada sesuatu yang membuatnya benar-benar kagum.

Bukan pada pelanggarannya.

Pada kemampuannya.

Bibir Pak Jauhari terbuka sedikit.

Sebuah kata spontan hampir keluar.

Bukan karena marah. Bukan karena tersinggung.

Karena kagum.

Ia segera menutup mulut.

Batuk.

Pak Langa menatapnya.

Pak Sabi menunduk, menyembunyikan senyum.

“Bapak hampir mengeluarkan energi yang lain,” kata Pak Langa.

Pak Jauhari melirik tajam.

“Diam.”

“Siap, Pak.”

Pak Puteh tertawa.

Tidak ada seorang pun di ruangan itu yang tahu bahwa beberapa detik sebelumnya, tubuh Pak Jauhari juga baru saja menyelesaikan sebuah rangkaian panjang.

Sebuah gambar masuk melalui mata.

Otak mengenalinya.

Rasa kagum muncul.

Sebuah kata hampir dipilih.

Otak menahannya.

Mulut menutup.

Kata itu tidak jadi keluar.

Hanya batuk yang tersisa.

Sesederhana itu jika diceritakan.

Serumit itu jika tubuh yang melakukannya.

Di layar CCTV, murid-murid masih berlari.

Tidak ada yang tampak kehabisan tenaga.

Tidak ada pula yang tahu bahwa beberapa meter dari tempat mereka berlari, empat guru sedang membicarakan satu coretan di dinding.

Pak Sabi menatap layar cukup lama.

“Mungkin selama ini kita terlalu sering melihat tindakan sebagai titik akhir.”

Pak Jauhari bersandar.

“Padahal?”

“Padahal mungkin itu baru titik yang terlihat dari sebuah rangkaian panjang.”

Pak Puteh menatap foto.

“Dan tugas kita mungkin bukan hanya memutus rangkaiannya.”

Pak Jauhari menoleh.

“Lalu?”

“Mencari ke mana arusnya seharusnya dialirkan.”

Tidak ada yang menjawab. Pak Langa kembali duduk. Pak Jauhari merapikan ponselnya. Pak Puteh membuka kembali foto.

Di layar besar, seorang murid tiba-tiba berlari keluar dari jangkauan kamera. Yang lain menyusul. Koridor kembali kosong. Hanya beberapa detik. Sebelum kelompok murid berikutnya muncul dari ujung lorong. Pak Jauhari melihat mereka. Kali ini ia tidak langsung menghela napas. Energi rupanya tidak pernah benar-benar pergi.

Ia hanya berpindah.

Kadang menjadi langkah kaki. Kadang menjadi coretan. Kadang menjadi tawa. Kadang menjadi kemarahan. Kadang menjadi sebuah kata yang hampir terucap. Dan mungkin, tugas manusia bukan menghilangkan energi itu. Melainkan belajar memahami rangkaiannya sebelum energi tersebut menemukan jalannya sendiri.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *