Hal yang Disesali Setelah Diungkapkan

Seuntai Cerpen Oleh”: Muhammad Nizarullah

Begini. Kalau kau lahir jadi anak pintar tapi lahir juga dari keluarga yang pas-pasan, jangan harap hidupmu bakal tenang. Kepintaranmu bukan lagi milikmu sendiri. Ia jadi aset. Jadi jalan keluar untuk semua masalah. Itulah satu-satunya alasan kenapa SPP-mu bisa lunas, kenapa nama sekolahmu bisa naik daun, kenapa ibumu bisa sedikit bernapas di tengah hidup yang sudah lama sesak. Satu hal yang tak pernah ditanya, apa sebenarnya yang benar-benar diinginkan anak berprestasi itu?

Namaku Darma, teman sebangku Naya. Sekarang, kami kelas XI IPA 1. Kelas yang dipenuhi anak-anak berprestasi di sekolah. Naya tinggal di sebuah rumah kecil, yang hanya bisa ditempati dua orang. Rumahnya terletak di dekat kali pinggiran kota. Dia seorang anak tunggal yang tinggal Bersama ibunya. Sedangkan bapaknya? Sudah lama pisah dengan ibunya. Kini, bapaknya menetap di Batam Bersama istri barunya dan seorang anak perempuan.

Rumah

Ibu Naya bekerja sebagai petugas kebersihan di sebuah klinik kecil, tak jauh dari rumah petak yang ukurannya hanya bisa mereka tempati berdua. Bapaknya sudah lama pergi. Minggat, ntah ke antah berantah mana bapaknya kini mendekam. Kalau boleh jujur, eneg juga aku lihat kelakuan Bapaknya yang tak bertanggungjawab itu. selaku temannya Naya, aku lumayan peduli dengannya, dibanding teman-teman yang lain. Naya anak yang pintar dan rajin. Tapi, aku rasa ada sesuatu yang ia tutupi dariku. Kalau dia tidak mau cerita, tak apa. Toh, itu haknya. Yang aku tahu dari Naya, kabar terakhir yang sampai ke telinganya, bapaknya tinggal di Batam bersama istri baru dan seorang anak perempuan yang usianya jauh di bawahnya. Adik tiri yang bahkan tidak pernah ia lihat wajahnya, kecuali dari unggahan yang sesekali muncul di layar ponsel orang lain, lalu buru-buru ia geser sebelum sempat terasa sakit.

Jadi, tinggallah mereka berdua. Naya dan ibunya. Dan di rumah itu, tidak ada rak piala yang dipajang mengkilap seperti di rumah-rumah orang berada. Piala-piala itu dibiarkan memamerkan dirinya di atas buffet tv. Piala-piala itu rasanya sesak berdesakan dengan kawan-kawannya yang lain. Kalau piala-piala itu bisa ngomong, mungkin ia akan mengeluh. Kenapa kau begitu tega menyiksa kami di rumah mungilmu, Nay? Oh, satu lagi. Sertifikat berbagai kejuaraan tak ada satu pun yang dipajang di rumahnya. Semuanya dimasukkan ke dalam map lusuh dan disimpan di tempat terpelosok di dalam buffet tv. Seolah ia tak bangga dengan semua pencapaiannya. Mungkin, ia simpan untuk keperluan syarat pengajuan beasiswa. Setiap prestasi Naya, bagi ibunya, seperti napas buatan. Memberikan napas untuk kelangsungan hidup. Memberikan prestasi untuk kelangsungan sekolah. Bagi ibunya, itu jaminan bahwa bulan depan tidak perlu memikirkan cara membayar SPP yang sebenarnya jauh dari sanggup mereka bayar.

“Kamu itu harapan Ibu, Nay,” kata ibunya suatu malam, sambil melipat baju kerja yang sudah pudar warnanya. Bagi Naya yang sudah bertahun-tahun mendengar kalimat itu, tidak lagi terasa hangat. Malahan perlahan berubah jadi beban yang dibungkus kasih sayang. Tidak ada salahnya sih. Meskipun ia tahu, ibunya sangat takut jika nilai rapor Naya turun. Akibat dari turunnya nilai rapor Naya, tak bisa kalian bayangkan sehancur apa hidup mereka.

Naya sama sekali tidak setuju sebenarnya dengan paksaan ibunya. Tapi, dia tidak pernah membantah ibunya sekali pun. Ia tahu betul, kalau ia berhenti berprestasi, bukan hanya harga dirinya yang runtuh, tapi juga dapur dan kehidupan mereka juga hancur.

Sekolah

Di sekolah, bu Rahmah, wali kelas sekaligus pembina lomba, punya alasan sendiri untuk terus mendorong Naya. Anak seberprestasi Naya, dengan latar belakang ekonomi seperti itu, adalah kombinasi yang nyaris sempurna untuk sekolah. Dia adalah orang yang paling tepat untuk “dipergunakan” oleh pihak sekolah. Aku mengatakan dipergunakan bukan tanpa maksud. Naya selalu saja diikutsertakan dalam berbagai macam lomba. Dia memang anak yang pintar dan rajin. Tapi, Naya sering tidak suka dengan berbagai lomba yang diikutsertakan oleh sekolah. Naya diajukan sebagai penerima beasiswa prestasi-dhuafa. Memang sih, dia termasuk anak yang kurang mampu. Tapi, sekaligus jadi bukti bahwa sekolah mereka “peduli pada anak kurang mampu yang berbakat” kalimat yang sering kali dipakai untuk ajang promosi sekolah. Fotonya terpampang di berbagai baliho sekolah, dan berbagai proposal untuk dana sekolah.

Sebenarnya Naya bisa saja mencari beasiswa dari lembaga lain, yang lebih sesuai dengan minatnya, yang mungkin tidak menuntutnya ikut segala macam lomba dari debat hingga olimpiade sains. Tapi ia enggan. Banyak pihak yang harus ia jaga. Ibunya yang kesulitan ekonomi, sekolah yang harus ia harumkan Namanya, dan demi dapurnya agar tetap menyala. Toh, kalau ia mengajukan beasiswa ke lembaga-lembaga lain pun pada akhirnya cuma akan memperlakukannya sama dengan sekolah dan ibunya memperlakukannya. Ia hanya dianggap sebagai nama yang menguntungkan mereka, bukan sebagai anak yang punya keinginan mengembangkan bakat yang ia inginkan.

Bu Rahmah, dan sekolah, dan bahkan ibunya sendiri, sebenarnya tidak jahat. Mereka cuma sama-sama berdiri di titik yang sama. Mereka butuh Naya untuk terus menang, karena kemenangan itu, dengan caranya masing-masing, menyelamatkan hidup mereka. Yang tidak pernah mereka sadari, di tengah kebutuhan itu, ada satu manusia kecil yang sudah lelah jadi solusi buat semua orang, tapi tidak pernah jadi pertanyaan bagi siapa pun.

Teman

Di kelas, Naya dikenal sebagai anak yang pendiam. Kalau diajak bicara, dia mau-mau saja meladeni. Hanya saja jarang memulai. Ia duduk di bangku kedua dari belakang, dekat jendela, dan satu-satunya orang yang biasa mengajaknya bicara adalah aku, kawan sebangkunya. Itu pun hanya sekadar hal-hal perlu, pinjam penghapus, tanya PR, dan keperluan tugas lainnya.

Aku bukan tipe anak yang kepo. Tapi, aku selalu memperhatikan Naya yang sering melamun menatap luar jendela sehabis diumumkan menang lomba. Wajahnya datar, seolah kemenangan itu bukan miliknya. Suatu sore, saat kelas sudah kosong dan Naya masih duduk sendirian merapikan buku dengan gerakan lambat. Sepertinya, banyak hal yang ia pikirkan di tempat lain.

“Kamu nggak capek menang terus?” Aku memberanikan diri untuk bertanya.

Pertanyaan sederhana itu, anehnya, membuat sesuatu di dada Naya longgar sedikit. Tersungging senyum dari bibirnya. Mungkin, dia jarang mendapat pertanyaan yang se-peduli itu dengannya.

Dari situ, sedikit demi sedikit, Naya mulai bercerita. Tentang ibunya yang bekerja di klinik. Tentang bapaknya yang entah di mana rimbanya. Memulai hidup baru di Batam yang tidak pernah menyisakan tempat untuknya. Tentang rumah petak kecil yang sering hening karena cuma ada dua orang di dalamnya. Aku mendengarkan tanpa menyela, tanpa berkomentar sok tahu, cuma sesekali menyodorkan minuman kotak dari kantin sebagai bentuk simpati yang tak perlu kata-kata.

Sore itu, sepulang sekolah. Naya menceritakan sesuatu kepadaku yang ia kunci rapat-rapat cerita itu. Tentang kekecewaannya pada ibunya dan Bu Rahmah. Tentang rasa lelah menjadi jalan keluar bagi masalah orang lain. Baginya, mengeluh soal ibunya yang sudah susah payah membesarkannya sendirian, atau soal Bu Rahmah yang sudah repot mengurus segala keperluan lombanya, terasa seperti bentuk tidak tahu berterima kasih yang tidak boleh diucapkan. Jadi ia pendam sendirian selama ini. Sampai ke titik yang bahkan sampai saat ini ia masih enggan menceritakan semuanya padaku.

Maaf

Suatu malam, sepulang dari lomba karya tulis ilmiah tingkat provinsi. lomba yang lagi-lagi Naya menangkan, dengan wajah tersenyum di depan panitia dan wajah kosong begitu masuk angkot pulang.

Di rumah, ibunya menyambut dengan mata berbinar. “Alhamdulillah, Nay. Coba lihat, kalau kamu terus begini, tahun depan kita bisa ajukan lagi beasiswa yang lebih besar. Ibu udah tanya-tanya, katanya ada juga beasiswa buat kuliah nanti, asal prestasinya konsisten.”

“Aku capek, Bu.” Suaranya pelan, tapi cukup untuk membuat ibunya berhenti bicara.

“Aku capek jadi jalan keluar buat semua masalah. Buat SPP. Buat beasiswa. Buat nama baik sekolah. Ibu sama Bu Rahmah nggak pernah tanya, aku sendiri maunya apa. Yang ditanya cuma menang lomba apa lagi minggu ini.”

Ibunya terdiam, wajahnya berubah pucat. “Nay, Ibu… Ibu nggak ada maksud…”

“Aku tahu, Ibu nggak ada maksud jahat. Tapi Ibu juga nggak pernah tanya. Selama ini aku diam. Aku ga baik-baik saja, buk. Aku diam karena aku takut. Aku takut berhenti menang, bu. Aku takut ibu bakal kesusahan lagi. Aku senang melakukan semua itu, bu. Tapi, apa pernah ibu tanya apa yang aku mau? Selama ini, aku cuma jadi solusi keuangan Ibu.”

Kalimat itu keluar begitu saja. Tanpa pernah ia rencanakan sebelumnya dalam kepala. Begitu diucapkan, Naya sendiri kaget mendengar betapa pahitnya kalimat itu di telinganya sendiri. Ibunya menangis, bukan histeris, tapi tangisan lelah seorang perempuan yang selama ini juga menahan banyak hal sendirian. Sampai ia lupa menanyakan apa yang putrinya inginkan.

Beberapa hari setelahnya, giliran Bu Rahmah yang mendengar hal serupa. Naya datang ke ruang guru, menyerahkan map beasiswa yang belum ditandatangani, dan berkata pelan namun tak lagi gemetar seperti biasanya.

“Bu, saya nggak mau ikut lomba lagi bulan ini. Apa gunanya buat saya, selain dapat profit! Saya mau-mau saja ikut lomba, bu. Tapi selama ini saya ga pernah diikutsertakan lomba yang sesuai dengan pasion saya. Selama ini saya cuma jadi nama yang menguntungkan sekolah. Nggak ada yang tanya, saya sendiri maunya jadi apa.”

Bu Rahmah terdiam lama, tangannya berhenti di atas map itu. Selama ini ia pikir, memberi Naya kesempatan lomba dan beasiswa adalah cara terbaik menolongnya keluar dari kesulitan ekonomi. Ia tidak pernah berpikir bahwa pertolongan tanpa tanya, lama-lama, bisa terasa seperti pemanfaatan yang dibungkus rapi dengan kata “demi kebaikanmu”.

“Ibu minta maaf Nay, ibu terlalu lalai dengan administrasi sekolah, dan megikutsertakan kamu hampir di semua perlombaan. Ibu ga menyangka, ternyata selama ini membuatmu beban. Kamu pingin jadi apa, Nay? Ibu Rahmah menatap lamat-lamat dengan rasa iba ke arah Naya.

Malam hari, di rumah petak yang sempit, Naya dan ibunya duduk berdua di lantai, tanpa kursi. Seperti biasa, mereka makan malam di atas selembar tikar yang sudah lusuh. Makanan yang sudah berjejer di depan mereka, seolah jadi pajangan, tanpa disentuh. Dua perempuan itu hanya bicara jujur setelah bertahun-tahun saling menjaga perasaan dengan cara yang salah.

“Ibu minta maaf,” kata ibunya dengan suara serak. “Ibu terlalu takut miskin, Nay, sampai Ibu lupa nanya, kamu sendiri capek atau nggak. Ibu pikir, kalau Ibu bangga sama prestasimu, itu udah cukup buat nunjukin sayang Ibu.”

“Aku juga minta maaf, Bu,” jawab Naya dengan suara lirih, “karena aku nggak pernah cerita. Aku takut kalau aku ngeluh, Ibu bakal ngerasa udah gagal jadi orang tua. Padahal Ibu udah kerja keras banget buat aku sendirian.”

Untuk pertama kalinya dalam waktu yang lama, mereka berpelukan tanpa ada alasan prestasi di baliknya.

“Maafin aku, Bu. Aku terlalu egois. Aku ga mikir perasaan Ibu.” Naya semakin erat memeluk ibunya. Suaranya semakin sesunggukan. Ibunya tak membalas sepatah kata pun. Ia hanya menahan agar tangisnya tak pecah di pelukan anak perempuannya.

Pengakuan

Suatu siang di sekolah, sehabis jam pelajaran selesai dan sebagian murid sudah keluar kelas. Naya duduk sendirian, menatap kosong ke luar jendela, memegang selembar kertas yang ia remas berkali-kali sampai teksturnya kusut seperti kain lap. Tangan satunya menggenggam pulpen, dan entah karena tegang atau karena pikirannya jauh melayang ke tempat lain, ia menekan ujung pulpen itu terlalu keras ke ibu jarinya sendiri, sampai kulitnya lecet dan setitik darah merembes, menodai kertas yang sedang ia remas.

Naya tidak sadar, atau mungkin sadar tapi tidak peduli. Ia melempar kertas itu keluar jendela, seperti membuang sesuatu yang terlalu berat untuk terus dibawa-bawa.

Aku yang sedari tadi diam-diam memperhatikan gelagat Naya dari balik jendela, buru-buru memungut kertas yang jatuh tak jauh dari kakinya. Aku membuka lipatannya, dan menemukan sesuatu yang membuatku terperanjat. Ada tulisan tangan Naya di sana. Tentang rencana dan keinginan yang selama ini disimpan sendiri, tidak pernah diceritakan ke siapa pun, bahkan kepadaku sekalipun. Dan di sudut kertas itu, ada noda darah yang sudah mengering. Hanya setitik, tapi ntah kenapa membuat dadaku berdegub kencang.

Ia tidak berpikir dua kali. Ia bawa kertas itu ke ruang guru, mencari Bu Rahmah.

“Bu, aku ga tau apakah catatan ini akan mengubah pandangan Ibu tentang Naya, atau malah memperburuk keadaan,” katanya dengan suara agak bergetar. “Yang jelas, Ibu harus membaca catatan ini.”

Tak lama berselang, Naya dipanggil ke ruang BK agar lebih leluasa bicara. Awalnya, mereka hanya berbincang soal perlombaan yang akan diikuti Naya minggu depan. Semakin lama perbincangan mereka semakin menjurus ke persoalan keluarga. Hingga akhirnya, bu Rahmah mengungkapkan sesuatu yang tak pernah terpikirkan Naya selama ini.

“Naya, sebenarnya ada satu rahasia yang selama ini ibu sembunyikan dari kamu. Tapi, karena persoalan ini, ibu terpaksa memberitahumu rahasia ini agar tidak terjadi kesalahpahaman antara kamu, ibu dan ibumu,” Ibu Rahmah menatap lurus dan yakin ke arah Naya.

“Ibumu punya penyakit jantung, Nay!” ekspresi Naya seketika berubah tegang. Ia tak percaya dengan apa yang didengarnya barusan.

“Ibumu sering kelelahan saat bekerja di klinik. Tak jarang juga ia harus keluar masuk IGD, yang selama ini dirahasiakan darimu. Ibumu meminta ibu untuk merahasiakan ini dari kamu. Biar kamu fokus belajar dan tetap berprestasi tanpa harus memikirkan kondisi ibumu.” Seketika pipi Naya dibanjiri bulir hangat yang tak diundang. Tangisnya semakin terisak tanpa mengeluarkan suara.

Ibu Rahmah membuka kertas yang sudah kusut itu pelan-pelan. Seolah takut sesuatu yang rapuh di dalamnya akan hancur kalau dibuka terlalu kasar. “Ibu nemu ini tadi di depan kelas kalian.” Kata Bu Rahmah sambil merapikan kertas yang sudah terlanjur kusut itu. Ia tidak mengatakan kalau kertas itu diterima dari aku.

“Bu, aku capek.

Aku capek jadi anak yang cuma dilihat kalau aku berhasil membawa pulang piala. Aku masih ingat, pelukan Ibu yang paling erat, yang paling lama, yang paling hangat, selalu datang setelah namaku disebut di depan panggung. Setelah itu, pelukan itu tak sehangat dulu lagi, hingga ia kembali hinggap saat aku menang lagi.

Bu, boleh gak aku minta lagi pelukan yan hangat itu? Bukan pelukan kemenangan, tapi karena aku adalah anak Ibu. Anak yang merindukan pelukan hangat ibundanya. Aku rindu dekapan hangatmu, Bu!”

Hanya itu yang tertulis di kertas itu. Tak ada lain, kecuali setitik tetesan darah tangan Naya di ujung kertas.

Bu Rahmah membaca tulisan itu berulang kali. Setiap kali membaca, rasa bersalah di dadanya makin menumpuk. “Ibu, sekali lagi minta maaf ya, Nay. Selama ini Ibu cuma lihat kamu sebagai anak berprestasi, bukan sebagai anak yang juga punya batas dan keinginan sendiri.” Ia peluk erat Naya, kali ini giliran Ibu Rahmah yang menyemburkan air mata.

“Kamu boleh ikut lomba yang kamu senangi. Ibu tidak akan memaksa kamu untuk mengikuti semua lomba. Kamu berhak bahagia, Nay! Ibu Rahmah tersenyum haru menatap wajah siswanya.

Sore hari, saat Naya sedang menyapu halaman rumahnya, Naya memberanikan diri untuk bercerita ke ibunya. kini, nadanya pelan dan jujur.

“Bu, aku tau sekarang kenapa Ibu maksa aku berprestasi terus,” katanya. Matanya mulai berkaca-kaca. “Aku tadi dipanggil ke ruang BK, jumpa bu Rahmah. Katanya, Ibu sudah lama sakit jantung. Kenapa nggak pernah bilang ke aku, Bu?”

Ibunya terdiam, lalu menarik napas panjang. “Ibu takut membuatmu kepikiran, Nay. Nanti malah mengganggu belajarmu. Kamu jadi gak fokus sekolah. Ibu cuma pengin, kalau suatu hari Ibu nggak ada, kamu udah bisa berdiri sendiri. Bisa hidup, tanpa gantung sama siapa pun.”

Di sekolah, Bu Rahmah menepati janjinya. Naya tidak lagi didaftarkan otomatis ke setiap lomba yang ada. Ia dipersilakan memilih sendiri, mau ikut lomba apa, atau bahkan tidak ikut lomba sama sekali, asal ia menikmati apa yang ia lakukan. Dan pelan-pelan, ia kembali pulih. Ia menjadi orang yang periang. Pribadi yang selama ini jauh dari sifat seorang Naya.

Kini, jam-jam senggang yang dulu Naya habiskan dengan melamun sendirian, perlahan berubah jadi waktu untuk membuka buku sketsanya.Bukan lagi coretan sembunyi-sembunyi di halaman belakang buku matematika, tapi di buku khusus yang sengaja ia sisihkan uang jajannya untuk membeli.

Aku sering menyaksikan perubahan itu, meski tak pernah aku ucapkan. Dulu, setiap kali Naya sedang asyik menggambar dan tidak sadar sedang kuperhatikan, begitu ketahuan, tangannya refleks menutup buku itu cepat-cepat, seolah menggambar adalah rahasia yang tak boleh diketahui siapa pun. Padahal, bisa saja dia memberitahukan kepadaku apa yang diinginkan. Toh, aku sudah tahu sejak lama. Hanya saja, aku memilih untuk diam.  Tak semua hal harus buru-buru aku tanyakan, dan tidak semua rahasia Naya harus aku tahu semua.

Tapi sekarang, tak ada lagi yang buru-buru ditutup-tutupi. Naya menggambar dengan tenang, kadang sambil bersenandung kecil, tanpa lagi peduli ada yang lewat atau bahkan melirik ke arahku. Dia tak perlu lagi was-was terhadap orang yang lalu lalang di sekitarnya. Sekarang, dia semakin tenang. Sekarang, dia jadi sering senyum.[]

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *