Sebuah cerpen oleh M. Raska Ulhaq (Murid Kelas IX-5)
Sore itu, langit seperti kain kelabu yang dibentangkan perlahan di atas bumi. Matahari tidak benar-benar menghilang, hanya bersembunyi di balik awan dan meninggalkan cahaya lembut yang jatuh di atas rerumputan. Angin berembus sejuk, menyisir pucuk-pucuk rumput dan menggoyangkan daun-daun dengan suara lirih.
Di sebuah lapangan luas yang tidak jauh dari rumahnya, Raska berdiri sendirian. Di samping kakinya tergeletak beberapa batang bambu tipis, kertas minyak berwarna biru, benang, lem, gunting, dan sepotong kain yang akan dijadikannya ekor layang-layang.
Hari itu bukan hari biasa bagi Raska.
Sejak siang, ia sudah membayangkan sebuah layang-layang biru menari di langit. Selama ini ia hanya bisa melihat layang-layang milik anak-anak lain. Ia sering mendongak sampai lehernya terasa pegal, mengikuti benda-benda kecil itu yang bergerak seperti burung tanpa sayap.
Kali ini, ia ingin membuatnya sendiri.
Raska memang anak yang senang mencoba sesuatu. Baginya, rasa penasaran adalah pintu yang selalu ingin dibuka. Ia pernah mencoba menanam biji mangga, membuat perahu dari kertas, bahkan memperbaiki mainan yang rusak meskipun hasilnya tidak selalu sesuai harapan.
Kakeknya pernah berkata bahwa membuat sesuatu dengan tangan sendiri bukan sekadar pekerjaan. Ada kesabaran yang harus diselipkan di antara setiap gerakan, ada ketelitian yang harus dijaga, dan ada kegagalan yang kadang-kadang datang lebih dahulu daripada keberhasilan.
“Kalau ingin sesuatu terbang tinggi, jangan buru-buru melepaskannya,” kata Kakek waktu itu.
Raska belum benar-benar memahami maksudnya.
Mungkin hari ini ia akan mengerti.
Ia mengambil dua batang bambu. Salah satunya lebih panjang daripada yang lain. Dengan hati-hati, ia menyilangkan kedua bambu itu hingga membentuk tanda salib. Bagian tengahnya kemudian diikat menggunakan benang.
Sekali.
Dua kali.
Tiga kali.
Raska menarik benang itu sekuat mungkin.
“Harus kuat,” gumamnya.
Ia kemudian mengikat benang dari satu ujung bambu ke ujung lainnya. Benang itu membentuk garis yang mengelilingi rangka. Setelah beberapa kali mencoba, bentuk layang-layang mulai terlihat.
Raska tersenyum.
Untuk sesaat, semuanya terasa mudah.
Ternyata membuat layang-layang tidak sesulit yang ia bayangkan.
Setidaknya, begitu pikirnya.
Ia membentangkan kertas minyak biru di atas tanah, lalu meletakkan rangka bambu di atasnya. Dengan gunting, ia memotong kertas mengikuti bentuk rangka. Setelah itu, ia mengoleskan lem pada bagian-bagian tertentu dan menempelkan kertas tersebut.
Di sinilah masalah mulai berdatangan.
Lem yang dioleskannya terlalu banyak.
Kertas minyak yang semula halus berubah kusut di beberapa bagian. Raska mencoba meratakannya dengan telapak tangan, tetapi justru membuat lipatan baru.
“Ah!”
Ia menghela napas.
Belum selesai dengan kertas, masalah lain muncul. Salah satu bambu ternyata sedikit bengkok. Akibatnya, rangka layang-layang tampak miring.
Raska menarik salah satu sisinya.
Tidak pas.
Ia menarik sisi lainnya.
Tetap tidak pas.
Ia mulai kesal.
Bukannya semakin rapi, layang-layang itu malah terlihat seperti sedang sakit pinggang.
Raska tertawa kecil melihat bentuknya sendiri, tetapi tawa itu segera menghilang.
Benang yang tadi diikat dengan susah payah juga ternyata kurang kuat. Salah satu ujung rangka terlepas.
Kertas minyak ikut terangkat.
Raska terdiam.
Baru beberapa menit lalu ia merasa dirinya hampir menjadi seorang pembuat layang-layang hebat. Sekarang, benda di hadapannya bahkan belum layak disebut layang-layang.
Ironisnya, ia sudah membayangkan layang-layang itu menari di langit, sementara benda yang ada di tanah bahkan belum sanggup berdiri dengan benar.
“Aku mungkin memang nggak bisa,” katanya pelan.
Ia duduk di rerumputan. Tangannya masih memegang sisa benang. Angin terus berembus seolah-olah tidak peduli pada kegagalannya.
Beberapa anak yang sedang bermain di sisi lapangan memperhatikan Raska. Mereka kemudian datang menghampirinya.
“Kenapa?”
“Layang-layangnya rusak,” jawab Raska.
Salah seorang anak melihat hasil buatannya, lalu tersenyum.
“Ya, memang belum bagus.”
Raska menatapnya.
Anak itu segera melanjutkan, “Tapi belum bagus bukan berarti nggak bisa jadi bagus.”
Kalimat sederhana itu membuat Raska terdiam.
Ia kembali teringat kepada kakeknya.
Kegagalan bukan tanda bahwa seseorang harus berhenti. Kadang-kadang kegagalan hanya cara lain untuk menunjukkan bagian mana yang harus diperbaiki.
Raska berdiri.
“Coba lagi.”
Ia membongkar bagian yang bermasalah. Bambu yang terlalu bengkok ia ganti. Ikatan benang yang longgar ia lepaskan dan pasang kembali dengan lebih kuat. Kali ini, ia tidak terburu-buru.
Ia belajar dari kesalahan pertama.
Dua batang bambu disilangkan kembali. Bagian tengahnya diikat kuat. Benang dipasang dari ujung ke ujung hingga rangka membentuk pola yang seimbang. Raska beberapa kali memeriksa ukuran kedua sisinya.
Kiri.
Kanan.
Kiri lagi.
Ia memastikan keduanya tidak terlalu berbeda.
Setelah rangka selesai, ia kembali membentangkan kertas minyak biru. Kali ini lem digunakan secukupnya. Ia menekan kertas perlahan agar tidak kusut.
Tangannya bergerak lebih hati-hati.
Pekerjaan itu ternyata jauh lebih lama daripada yang ia bayangkan.
Namun, untuk pertama kalinya sore itu, Raska tidak merasa sedang berlomba dengan waktu.
Ia hanya ingin menyelesaikan satu bagian dengan benar sebelum berpindah ke bagian berikutnya.
Ketika kertas sudah menempel, ia memasang benang utama di bagian tengah layang-layang. Di bagian bawah, ia mengikat sepotong kain panjang sebagai ekor.
Raska mengangkat layang-layang itu.
Kali ini bentuknya tampak jauh lebih baik.
Bukan sempurna.
Tetapi cukup baik untuk dicoba.
Ia membawanya ke tengah lapangan.
Langit masih berwarna abu-abu. Beberapa bagian awan mulai terbuka dan cahaya matahari sore menyelinap di antaranya. Angin bertiup dari arah yang cukup kuat.
Raska menggenggam benang.
Ia menarik napas.
Lalu berlari.
Layang-layang itu bergerak mengikuti angin.
Naik sedikit.
Kemudian jatuh.
Raska berhenti.
Ia mencoba lagi.
Kali ini layang-layang naik lebih tinggi, tetapi tiba-tiba miring dan kembali menyentuh tanah.
Raska menatapnya.
Dulu ia mengira layang-layang hanya perlu dibuat dan dilempar ke udara. Ternyata benda ringan itu memiliki caranya sendiri untuk mengajarkan kesabaran.
Ia mencoba sekali lagi.
Raska berlari lebih pelan. Ia mengatur posisi tangannya dan membiarkan angin melakukan sebagian pekerjaan.
Perlahan, layang-layang biru itu terangkat.
Sedikit demi sedikit.
Naik.
Terus naik.
Raska berhenti berlari.
Matanya mengikuti layang-layang yang kini menggantung tinggi di langit. Ekor kainnya berkibar seperti pita yang sedang menari. Warna birunya tampak semakin jelas di antara awan kelabu.
Raska tersenyum lebar.
Tidak ada tepuk tangan.
Tidak ada hadiah.
Tidak ada seorang pun yang memberinya gelar sebagai pembuat layang-layang terbaik.
Hanya ada seorang anak, sebuah benang, dan layang-layang sederhana yang akhirnya berhasil terbang.
Namun, bagi Raska, itu sudah cukup.
Ia tiba-tiba mengerti ucapan kakeknya.
Ternyata, yang membuat sesuatu bisa terbang bukan hanya angin.
Ada tangan yang mau mencoba, ada kepala yang mau belajar, dan ada hati yang bersedia gagal berkali-kali.
Layang-layang itu terus bergerak di langit.
Raska menggenggam benangnya erat-erat. Benang tipis itu terasa seperti sebuah jalan kecil yang menghubungkan dirinya dengan sesuatu yang jauh di atas sana.
Matahari mulai turun.
Lapangan perlahan berubah lebih sepi. Anak-anak yang tadi bermain mulai pulang satu per satu. Angin sore juga mulai terasa lebih dingin.
Raska akhirnya menurunkan layang-layangnya.
Ia menggulung benang dan membawa hasil karyanya pulang.
Di tengah perjalanan, ia melihat layang-layang biru itu sekali lagi.
Ada beberapa lipatan pada kertasnya. Salah satu bagian rangkanya juga tidak benar-benar lurus. Ekor kainnya bahkan sedikit miring.
Tetapi Raska tidak lagi melihat kekurangan-kekurangan itu sebagai sesuatu yang memalukan.
Justru di sanalah cerita tentang layang-layang itu berada.
Ia pulang sambil tersenyum.
Sore itu Raska memang berhasil membuat layang-layang.
Namun, tanpa disadarinya, ia juga telah membuat sesuatu yang jauh lebih penting: keyakinan bahwa kegagalan bukanlah akhir dari sebuah usaha.
Kadang-kadang, kita memang harus jatuh berkali-kali sebelum tahu bagaimana caranya terbang.
