Untuk Apa Sebenarnya Kita Sekolah?

Opini Oleh: Muhammad Nizarullah

Sering terbersit dalam pikiran saya saat menerapkan kedisiplinan kepada murid, terlebih di boarding school. Kadang saya berfikir, apakah tindakan saya kurang tepat sehingga membuat murid tidak nyaman dengan berbagai aturan yang berlaku di dayah. Sebenarnya, aturan itu sangat gampang dijalankan oleh murid selama mereka masih murid kelas 1-5—kelas 1 tingkat Tssnawiyah s/d kelas 2 tingkat Aliyah. Namun, saat meranjak kelas 6 atau kelas 3 Aliyah dan sudah diberikan jabatan sebagai pengurus OSMID, mereka sudah susah untuk menjalankan aturan yang dulu pernah dijalankan.

Di mana letak masalahnya? Saat mereka masih junior, ada senior yang menegakkan aturan dengan tegas. Apakah asatiz tidak mampu menegaskan? Tentu mampu. Tapi dengan cara selayaknya seorang guru, bukan lagi menggunakan cara senior. Itu jelas beda. Cara senior, lebih menanamkan rasa takut kepada junior agar aturan bisa dijalankan maksimal. Sedangkan cara guru lebih menanamkan kesadaran, rasa tanggung jawab, dan adab. Seorang guru sudah sepatutnya memberikan contoh, baik dalam bersikap, maupun dalam tindakan. Sehingga murid menjalankan aturan itu bukan lagi atas dasar takut kepada guru, melainkan karena rasa segan, rasa hormat, dan saling menghargai. Outputnya adalah memunculkan rasa malu dengan sendirinya saat ia membuat kesalahan atau melanggar aturan yang berlaku.

Kalian para murid, pasti sering bertanya, mengapa di dayah dan sekolah ada begitu banyak aturan?

Mengapa harus datang tepat waktu? Mengapa harus memakai seragam? Mengapa ada tata tertib? Mengapa ketika guru berbicara kita diminta memperhatikan? Mengapa kita harus meminta izin ketika meninggalkan kelas? Mengapa kita tidak boleh mengejek teman, melakukan perundungan, atau mengganggu orang lain? Dan masih banyak mengapa-mengapa lainnya.

Selama ini, kita selaku murid mungkin melihat semua itu hanya sebagai aturan dayah dan sekolah. Bahkan, terkadang aturan dianggap sebagai sesuatu yang mengekang tanpa ada maksud mengembangkan kepribadian kita di masa depan. Padahal, tanpa kita sadari aturan itu sedang membentuk kita di masa depan. Saya sering mengatakan kepada siswa saya, “Kalian hari ini adalah cerminan kalian di 5 tahun yang akan datang.” Sudah tentu valid bahwa aturan yang sedang mereka jalani saat ini adalah bentuk investasi di kehidupan mereka di masa depan, setelah mereka lulus. Baik itu di masyarakat, lingkungan kerja, atau di mana pun nantinya.

Dayah adalah tempat terbentur

Hari ini mungkin kamu merasa bahwa aturan dayah dan sekolah hanya berlaku selama kamu menjadi siswa. Tetapi, suatu hari nanti kamu akan meninggalkan gerbang dayah. Kamu akan memasuki lingkungan masyarakat. Kamu akan bekerja bersama orang lain. Kamu akan bertemu dengan orang yang berbeda karakter, pemikiran, latar belakang, kemampuan, dan kepentingan.

Tidak semua orang akan berpikir seperti kamu. Tidak semua orang akan menyukai kamu. Tidak semua keputusan akan sesuai dengan keinginanmu. Pada saat itulah kemampuan akademik saja tidak cukup. Kamu membutuhkan kemampuan untuk menghargai orang lain, mengendalikan diri, memahami aturan, bertanggung jawab, bekerja sama, menerima teguran, menyelesaikan perbedaan, dan menjaga sikap. Dan sebagian besar kemampuan itu sebenarnya sedang dilatih sejak kamu berada di dayah dan sekolah.

Semua kesalahan seharusnya sudah kamu habiskan di masa sekolah. Masa percobaan dalam menggali banyak ilmu dan mempelajari apapun yang membuatmu penasaran. Setelah kamu implementasikan dalam pembelajaranmu, ternyata masih banyak terdapat kesalahan. Evaluasi kesalahan itu, jangan ulangi kesalahan yang sama. Biarkan kamu terbentur berkali kali pada percobaan yang berbeda. Setelah kamu jalani, ternyata bukan itu jalan terbaik, segera banting setir untuk memperbaiki kesalahanmu. Keterbenturan yang berulang kali akan membuatmu terbentuk.

Ketika sekolah meminta kamu datang tepat waktu, yang sedang dilatih bukan hanya kemampuan untuk tidak terlambat. Kamu sedang belajar disiplin. Ketika kamu diminta memakai seragam sesuai ketentuan, kamu sedang belajar bahwa dalam kehidupan bersama terdapat aturan yang harus dipatuhi demi keteraturan. Ketika kamu harus meminta izin kepada ustaz/ustazah untuk keluar kampus, kamu sedang belajar menghargai otoritas dan prosedur. Ketika kamu menerima teguran karena melakukan kesalahan, kamu sedang belajar bahwa kehidupan tidak selalu memberikan pembenaran terhadap apa yang kita lakukan.

Namun, ini bukan berarti siswa harus belajar patuh secara buta. Dalam kehidupan bermasyarakat, kita perlu memahami alasan sebuah aturan, menghormati aturan yang sah, menghargai keputusan yang sudah disepakati bersama, dan tetap memiliki kemampuan untuk berpikir kritis ketika menemukan sesuatu yang keliru.

Porosnya begini! Ketika kamu mengikuti aturan, kamu sedang belajar hidup dalam keteraturan.  Ketika kamu menghormati guru, kamu sedang belajar menghargai orang lain. Ketika kamu bekerja dalam kelompok, kamu sedang belajar berkolaborasi. Ketika kamu menghadapi teman yang berbeda pendapat, kamu sedang belajar toleransi. Ketika kamu menerima kritik, kamu sedang belajar memperbaiki diri. Ketika kamu membantu teman, kamu sedang belajar solidaritas. Ketika kamu gagal mendapatkan nilai yang kamu inginkan, kamu sedang belajar bahwa kegagalan bukan akhir dari proses. Dan ketika suatu hari kamu berdiri di luar gerbang dayah sebagai seorang dewasa, semua pengalaman kecil itu akan ikut bersamamu.

Jadi, yang sebenarnya sedang dibentuk dayah dan sekolah bukanlah manusia yang hanya bisa berkata “Sami’na waata’na, Kami dengar dan kami patuh.” Melainkan manusia yang mampu memahami “Saya tahu mengapa saya harus bertanggung jawab atas tindakan saya.”

Hubungan siswa dan guru juga merupakan latihan sosial. Di sekolah kamu belajar bagaimana berbicara kepada orang yang lebih tua, bagaimana menerima arahan, bagaimana menyampaikan pendapat dengan sopan, dan bagaimana menerima kritik. Mungkin suatu hari kamu merasa tidak setuju dengan teguran guru. Tidak apa-apa. Kamu boleh memiliki pendapat. Tetapi cara menyampaikan ketidaksetujuan itulah yang menunjukkan pendidikanmu. Semakin kamu menunjukkan kesopanan, semakin tinggi ilmu yang sudah kamu dapatkan. Dan hebatnya, kamu sudah bisa mengimplementasikan semenjak kamu masih bersekolah.

Sebab di masyarakat nanti, kamu juga akan bertemu dengan atasan, rekan kerja, pemimpin, orang tua, tokoh masyarakat, dan berbagai macam orang yang memiliki posisi serta tanggung jawab berbeda. Kalau sejak di sekolah kamu belajar bahwa ‘berbeda pendapat tidak berarti harus kehilangan adab,’ maka kamu sedang memiliki bekal penting untuk kehidupan.

Mari beralih ke ruang kelasmu. Lihat teman-teman di kelasmu. Ada yang pintar. Ada yang biasa saja. Ada yang pendiam. Ada yang banyak bicara. Ada yang humoris, Ada yang punya power. Ada yang suka merundung temannya. Ada yang cepat memahami pelajaran. Ada yang membutuhkan waktu lebih lama. Ada yang memiliki kelebihan yang tidak kamu miliki. Ada pula yang mungkin memiliki kekurangan yang berbeda denganmu.

Itulah masyarakat dalam bentuk kecil. Kelas adalah sebuah miniatur kehidupan sosial. Karena itu, ketika temanmu salah menjawab pertanyaan, kamu tidak perlu menertawakannya. Ketika temanmu mengalami kesulitan, kamu bisa membantunya. Ketika berdiskusi, kamu belajar memberikan kesempatan kepada orang lain untuk berbicara. Ketika melakukan kesalahan kepada teman, kamu belajar meminta maaf. Dan ketika kamu menerima bantuan, kamu belajar menghargainya.

Hal-hal yang terlihat sederhana tersebut sebenarnya tidak sesederhana itu. Sesuatu yang jauh lebih besar sedang menunggu. Kamu akan memiliki kemampuan untuk hidup bersama.

Sekolah bukan ajang perlombaan untuk menjatuhkan orang lain.

Saat kamu diberikan mandat sebagai pengurus OSMID, jangan gunakan kekuasaan itu untuk menindas orang lain. Jangan belajar cara kotor di sekolah, di dayah, di asrama, di mana pun kalian sedang menuntut ilmu. Saat-saat seperti itu adalah masa paling produktif menyerap ilmu apapun. Kalau kalian sudah menabung cara kotor sejak masih sekolah, siap-siap kalian akan menuai hasil dari cara kotor itu.

Prestasi memang penting. Mendapatkan nilai bagus tentu merupakan sesuatu yang patut diperjuangkan. Tetapi, ada perbedaan besar antara berkompetisi untuk berkembang dan berkompetisi untuk menjatuhkan orang lain.

Kalau temanmu mendapatkan nilai tinggi, keberhasilannya tidak otomatis membuatmu gagal. Kalau temanmu mendapatkan penghargaan, itu tidak berarti kesempatanmu telah habis. Kamu bisa menjadikan keberhasilan orang lain sebagai motivasi untuk berkembang.

Sebab masyarakat membutuhkan manusia yang mampu bersaing secara sehat sekaligus bekerja sama. Dunia tidak hanya membutuhkan orang yang mampu menjadi nomor satu. Dunia juga membutuhkan orang yang ketika berhasil tetap mampu membantu orang lain untuk berhasil.

Lalu, Apa Hubungannya Semua Ini dengan Pendidikan?

Di sinilah kita perlu mengubah cara pandang terhadap sekolah. Sekolah tidak hanya mendidik apa yang kamu tahu, tetapi juga mendidik bagaimana kamu menggunakan apa yang kamu tahu. Seseorang bisa mendapatkan nilai tinggi, tetapi jika ia tidak mampu menghargai orang lain, sulit bekerja sama, tidak bertanggung jawab, dan tidak mampu mengendalikan dirinya, maka masih ada bagian penting dari pendidikan yang belum selesai.

Karena ilmu tanpa adab tidak otomatis membuat seseorang menjadi manusia yang baik bagi lingkungannya. Pengetahuan memberikan kemampuan. Tetapi, karakter menentukan bagaimana kemampuan itu digunakan.

Jadi, ketika kamu berada di dayah, sebenarnya kamu sedang berlatih menjadi bagian dari masyarakat. Saya uraikan kesibukanmu mulai dari bangun pagi hingga kamu berangkat ke sekolah, yang semua itu akan membentuk kepribadianmu di masa depan. Bangun pagi dengan tergesa-gesa dan harus segera menuju ke mesjid untuk shalat Subuh. Dipaksa harus membaca al-Qur’an di saat mata sedang tidak bersahabat. Pulang ke asrama untuk mandi. Menuju ruang makan untuk sarapan. Bersiap ke sekolah tanpa boleh telat sedikit pun. Jika tidak, kamu akan mendapatkan sanksi dari piket. Semua aturan yang awalnya berasal dari paksaan hingga membentuk habit baru, bukan mengajak kamu untuk lari maraton tanpa tujuan. Itu semua adalah proses membentuk disiplin dalam dirimu, agar kamu bisa survive dalam masyarakat.

Itulah mengapa dayah jauh lebih besar daripada ruang kelas. Dayah adalah tempat kita belajar sebelum benar-benar masuk ke kehidupan. Maka, jangan hanya bertanya “Apa yang akan saya dapatkan dari dayah?” Tapi, mulailah bertanya “Manusia seperti apa yang sedang dibentuk oleh semua pengalaman saya di dayah? Akankah pengalaman itu akan berguna di masa depan saya?”

Pendidikan bukan hanya didapatkan di ruang kelas. Pendidikan yang mempersiapkanmu agar mampu menggunakan pengetahuan, mengendalikan diri, menghormati orang lain, dan hidup dengan baik di tengah masyarakat didapatkan dari hasil perilaku baikmu yang selalu kamu implementasikan dalam kehisupan sehari-hari. Dan itu semua kamu dapatkan dari sistem dayah dan sekolah yang selama ini kamu anggap sebagai praktik yang membosankan dan sia-sia.[]

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *