sebuah cerpen oleh Muhammad Emil Najib (Murid Kelas VIII-2)
Tidak ada yang bisa menjelaskan dengan tepat bagaimana rasanya terbangun dari mimpi buruk dan mendapati bahwa kasurmu basah.
Aku sudah mengalaminya. Dan meski malu mengakuinya, aku pikir cerita ini terlalu konyol untuk tidak ditulis.
Namaku Emil. Santri kelas dua Tsanawiyah, kamar nomor tujuh, kasur paling pojok kiri. Aku bukan orang yang mudah takut — begitu yang selalu aku katakan kepada teman-temanku. Tapi malam itu membuktikan bahwa ada batas dari semua keberanian yang diucapkan.
Malam itu dimulai seperti malam-malam biasa di pondok. Setelah kegiatan malam selesai dan Akhon sudah mematikan lampu utama kamar, kami semua rebahan di kasur masing-masing. Beberapa teman masih berbisik-bisik sebentar sebelum tidur, tapi aku langsung menutup mata.
Dan tidak butuh waktu lama untuk aku masuk ke dalam mimpi.
Mimpi itu dimulai dengan aku berdiri di suatu tempat yang gelap total. Tidak ada dinding, tidak ada lantai yang terlihat, tidak ada langit-langit. Hanya gelap yang terasa seperti ruangan tanpa batas.
Dari sudut kegelapan itu, ada sesuatu yang bergerak.
Aku tidak bisa melihat jelas wujudnya — hanya bayangan yang lebih gelap dari kegelapan di sekitarnya, bergerak dengan cara yang tidak wajar, seperti gerakan yang diputar mundur.
Aku berlari. Di dalam mimpi, kakiku terasa berat seperti dilapisi timah, tapi aku tetap berlari. Bayangan itu mengejarku — tidak terdengar suaranya, tapi aku tahu dia mengejar karena gelapnya semakin dekat.
Kemudian tiba-tiba aku berada di sebuah kota. Kota yang aneh — gedung-gedungnya ada, jalannya ada, tapi tidak ada satupun orang yang kukenal. Wajah-wajah di sekeliling semua asing. Aku mencoba bertanya kepada seorang bapak tua yang berdiri di tepi jalan.
“Pak, saya ada dimana ini?”
Bapak itu tidak menjawab pertanyaanku. Dia hanya menatapku dengan mata yang terlalu besar, kemudian tiba-tiba berteriak keras.
“LARI!”
Aku berlari lagi. Bayangan itu muncul kembali dari balik gedung, lebih besar dari sebelumnya. Aku berlari tanpa tahu arah, berbelok ke kiri, ke kanan, melewati gang-gang sempit yang entah berakhir di mana.
Sampai akhirnya aku melihat sesuatu yang familiar — bangunan berlantai dua dengan papan nama yang aku kenal. Gedung kantor Tsanawiyah.
Aku berlari masuk. Dan di dalam, di lorong yang menyambut pintu masuk, berdiri seseorang yang langsung aku kenal.
Ustaz Thoriq. Salah satu ustaz yang paling disegani di pondok kami. Berjanggut tipis, kacamata kotak, selalu berpakaian rapi.
“Ustaz! Tolong, Ustaz, aku dikejar sesuatu—”
Ustaz Thoriq menatapku. Ekspresinya tidak berubah.
Kemudian perlahan, sangat perlahan, wajah beliau berubah. Fitur-fiturnya meleleh dan terbentuk ulang menjadi sesuatu yang sama sekali berbeda — wajah yang lebih besar, mata yang lebih bulat, bulu-bulu kasar menutupi pipi.
Wajah monyet.
Aku berteriak dan berlari lagi. Sosok itu mengejarku melalui lorong-lorong gedung. Aku berlari tanpa arah sampai akhirnya menemui sudut mati — tembok di depan, tembok di kiri, tembok di kanan.
Aku berbalik. Sosok itu sudah tepat di depanku, mengangkat tangannya—
Dan disitulah tangan kiriku menyentuh sesuatu yang dingin dan keras di kasur — ternyata tangan itu memegang gagang sapu pendek yang tersandar di dinding dekat kasurku.
Dalam kepanikan mimpi yang masih setengah merasuki kesadaranku, aku mengayunkan sapu itu.
Lalu terbangun sepenuhnya.
Kamar sudah terang — bukan karena lampu dihidupkan, tapi karena sudah pagi dan cahaya masuk dari celah jendela. Dari kasur-kasur di sebelahku, beberapa teman sudah duduk dan menatapku dengan ekspresi campur antara kaget dan menahan tawa.
“Emil, kamu ngapain?”
Aku menurunkan sapu yang masih aku pegang dengan kedua tangan.
“Mimpi,” jawabku lemah.
Tawa meledak di kamar itu.
Aku tidak langsung tertawa — masih butuh beberapa detik untuk jantungku kembali ke ritme normal dan otak menyadari sepenuhnya bahwa sosok yang baru saja dikejarnya hanyalah produk imajinasinya sendiri yang terlalu aktif.
Tapi kemudian aku melihat ke bawah.
Kasurku basah.
Dan tawa di kamar itu semakin keras.
Aku langsung bangkit, menggulung sprei secepat mungkin, dan berjalan ke kamar mandi dengan langkah setengah berlari sambil berharap tidak ada yang melihat. Tentu saja semua orang sudah melihat.
Di kamar mandi, aku mencuci muka dengan air dingin, membiarkan air itu mengalir deras di pipi dan dahi sampai kantuknya benar-benar pergi.
Dari cermin diatas wastafel, wajahku menatap balik dengan ekspresi yang bahkan aku sendiri tidak yakin harus dikategorikan sebagai apa.
Aku berwudhu, kemudian keluar dan shalat Tahajud di sudut kamar yang sepi. Lalu menunggu adzan Subuh dengan membaca Al-Quran pelan-pelan, membiarkan kata-kata itu menenangkan sisa-sisa kepanikan yang masih ada.
Ketika adzan berkumandang, aku beranjak ke masjid dengan sprei kotor yang sudah terlipat rapi di bawah lenganku — siap dicuci setelah shalat.
Teman sekamarku Haris mensejajarkan langkahnya denganku di koridor.
“Masih takut?” tanyanya, dan aku bisa mendengar senyumnya dari suaranya.
“Nggak,” jawabku.
“Bohong.”
Aku tidak menjawab. Tapi di sudut bibirku, ada senyum kecil yang tidak bisa aku tahan.
Karena memang lucu, kalau dipikir-pikir. Dikejar sosok misterius melintasi kota-kota di dalam mimpi, hampir mengalahkannya dengan sapu, lalu terbangun dengan kasur basah.
Mungkin ini yang namanya pelajaran — bahwa keberanian bukan soal tidak pernah takut. Tapi soal bisa tertawa setelah ketakutan itu berlalu.
Dan malam itu, aku sudah cukup tertawa.
