AFKARUKA AQDARUK

Sebuah paradigma berfikir oleh: Muhammad Nizarullah

Ada sebuah pertanyaan yang jarang kita renungkan dengan serius: siapa yang sesungguhnya mengendalikan hidupmu? Banyak orang menjawab dengan lantang, “tentu saja diri sendiri.” Tapi kalau kita jujur, berapa banyak dari kita yang setiap pagi bangun lalu langsung tenggelam dalam kecemasan yang sama, memutar ulang kenangan yang sama, atau mengkhawatirkan masa depan yang belum tentu terjadi? Kalau pikiranmulah yang mengendalikan dirimu, dan pikiranmu sendiri tidak mampu kamu kendalikan, maka siapa sebenarnya yang memegang kendali?

Saya akan paparkan dulu mengenai neorosains, yang nantinya akan nyambung dengan pembahasan mengenai cara otak bekerja sama menghasilkan pikiran, emosi, ingatan, dan kesadaran. Secara sederhana, neorosains itu adalah ilmu yang mempelajari sistem saraf. Bayangkan otak sebagai supercomputer biologis dengan sekitar 86 miliar neuron (sel saraf). Setiap neuron bisa terhubung ke ribuan neuron lain melalui titik sambung yang disebut sinapsis. Jadi jumlah koneksi di otak manusia lebih banyak dari bintang di galaksi Bima Sakti, sekitar 100 triliun koneksi. Koneksi tersebut akan saling gotong royong untuk menghasilkan pikiran, emosi, ingatan, dan kesadaran.

Makanya, segala sesuatu yang kita lakukan setiap hari, semua akan terekam di dalam sistem saraf tersebut. Tidak ada penyaringan sama sekali yang dilakukan oleh sistem saraf. Jika positif kebiasaan yang dilakukan, itulah yang dioleh oleh sistem saraf. Jika kebiasaan buruk yang terus diulang setiap hari, juga akan mempengaruhi cara pandang, cara berfikir, hingga bagaimana pengambilan keputusan. Lalu, yang menyaring baik buruk perbuatan yang dilakukan siapa dong? Itulah tugas perasaan. Empati yang terus dibentuk berdasarkan perbuatan baik tadi juga memiliki tanggung jawab untuk memilah mana yang sekiranya dianggap baik dan buruk. Semua itu tak terlepas dari ilmu yang dipelajari, apa yang dibaca, dilihat, pengalaman yang dilalui, dan juga doktrin yang ditanam ke dalam qalbu.

Dapat poinnya? Yup… Apa yang sering diulang, akan direkam. Catat itu, kisanak.

Neurosains modern memberikan jawaban yang mengejutkan sekaligus membebaskan. Otak membentuk jalur saraf (neural pathway) yang semakin lama semakin kuat. Ia kemudian memicu dopamin, neurotransmiter yang menciptakan rasa “ingin mengulangi lagi.” Inilah mengapa kebiasaan baik yang konsisten pada akhirnya terasa ringan, bahkan menyenangkan. Dan inilah pula mengapa kebiasaan buruk begitu sulit dihentikan. Bukan karena kita lemah, tapi karena otak kita sudah terlanjur membangun jalan tol menuju ke sana.

Artinya apa? Pikiranmu bukan sekadar cerminan hidupmu. Pikiranmu bukan hanya sebagai pelengkap anggota tubuh. Pikiranmu adalah arsiteknya.

Kita akan sedikit healing ke kebun keislaman. Sebenarnya, jauh sebelum neurosains menemukan ini, sebuah Hadis Qudsi telah menyatakannya dengan jauh lebih ringkas dan jauh lebih dalam. Allah berfirman: “Inni fi ‘abdi adh-dhanni.” Artinya: “Aku sesuai dengan persangkaan hamba-Ku.” Inilah bukti hukum alam semesta yang difirmankan langsung oleh Sang Khaliq. Apa yang terus-menerus kamu ulang di kepala, itulah yang akan membentuk realita hidupmu. Husnuzhan yang dipelihara setiap hari bukan hanya membuat jiwa tenang, secara harfiah membuka pintu keajaiban yang tidak akan terbuka bagi mereka yang pikirannya penuh dengan su’uzhan dan ketakutan yang mengakar.

Allahjuga berfirman “ud’uni astajiblakum.” Allah memerintahkan kita untuk mengadu sama Allah. “Minta apa pun yang kau inginkan, akan Aku kabulkan kok.” Tapi, Allah maha tahu yang terbaik untuk hambanya. Kalau sekarang tidak diijabah, bukan sekarang waktu yang tepat untuk keinginanmu. Bisa jadi, itu menjadi petaka bagimu. Tugas kita hanya ikhtiar dan berbaik sangka kepada Allah. Serahkan saja semua urusan sama Allah. Allah yang mengatur segalanya hingga menjadi puzzle yang menarik. Kalau Allah sudah berfirman “kun fayakun,” maka makhluk mana yang bisa menghentikan kuasa Allah? Jalan yang sebelumnya penuh liku, terasa melompong, deras baik air telaga yang terjun bebas. Maka, alasan apa lagi yang membuat kita tidak yakin dengan pilihan Allah, terus-menerus su’uzhan sama Allah? Bahkan kita lebih yakin dengan bantuan manusia dengan cara yang tidak Allah ridhoi, dibandingkan bersabar dengan ketetapan Allah yang sudah pasti baik untuk kehidupan kita. Lalu, kenapa keputusan kita terkadang keliru, di mana letak masalahnya?

Masalahnya ada di pikiran. Pikiran itu liar kalau tidak dilatih. Dibiarkan begitu saja, ia akan berlari ke masa lalu membawa penyesalan, atau melompat ke masa depan membawa kecemasan. Dalam Islam, masa lalu adalah ranah Qadarullah, sesuatu yang sudah ditetapkan dan harus diikhlaskan, bukan diulang-ulang dalam kepala sampai menggerogoti ketenangan hari ini. Sedangkan masa depan adalah ranah tawakkal, diserahkan sepenuhnya kepada Allah setelah ikhtiar, bukan dijadikan bahan baku untuk membangun berbagai skenario bencana yang mungkin tidak pernah terjadi. Kedua area itulah yang paling sering disusupi pikiran destruktif. Kalau kamu merasa hidupmu baik-baik saja tapi selalu tidak tenang, coba periksa, di mana pikiranmu paling sering berkeliaran?

Hal penting lain yang perlu dipahami: tidak semua pikiran yang singgah itu fakta, dan kita tidak wajib menanggapi semuanya. Banyak skenario ketakutan yang bersarang di kepala kita, yang sesungguhnya hanyalah asumsi, atau dalam bahasa agama, waswas, bisikan yang memang sengaja dirancang untuk mencuri ketenangan. Syaitan — kata para ulama— paling suka bermain di dua area: masa lalu yang membuat kita menyesal, dan masa depan yang membuat kita cemas. Level tertinggi dari pengendalian diri bukan menekan perasaan atau berpura-pura selalu kuat, melainkan membiarkan pikiran buruk lewat begitu saja tanpa memberinya panggung. Ucapkan ta’awudz, lalu abaikan. Jangan diajak ngobrol.

Inilah yang membedakan jiwa yang tenang (mutmainnah) dengan jiwa yang terus-menerus bergolak. Bukan soal hidupnya bebas dari masalah — utang, ujian, kehilangan, atau tekanan tetap ada. Yang berbeda adalah cara mereka memperlakukan pikiran. Jiwa yang tenang telah berlatih mengembalikan segala urusan kepada Sang Pemilik Skenario. Mereka memperbanyak dzikrullah bukan hanya sebagai ritual, tapi sebagai cara aktif menutup celah agar pikiran negatif tidak punya ruang untuk tumbuh.

Maka pertanyaannya kembali kepada kita masing-masing: pikiran apa yang paling sering kita ulang setiap hari? Karena otak kita sedang merekamnya. Dan apa yang direkam hari ini, akan menjadi jalan yang kamu tempuh esok hari.

Seorang ulama Arab pernah berkata: “Afkaruka aqdaruk. Pikiranmu adalah takdirmu. Apa yang kamu harapkan itulah yang akan datang. Harapkan kebaikan, maka kebaikan akan datang. Harapkan keburukan, maka keburukan akan datang. Pikirkan bahwa kamu hebat, maka kamu akan menjadi hebat. Pikirkan bahwa kamu sukses, kamu akan sukses. Pikirkan bahwa kamu gagal, maka kamu akan gagal. Pikirkan bahwa Allah tidak bersamamu, Allah akan menyerahkanmu pada dirimu sendiri. Pikirkan bahwa Allah tidak akan meninggalkanmu sedetik pun, maka Dia benar-benar tidak akan meninggalkanmu sedekit pun.

Maka, mulai sekarang, kamu bisa memilih pikiran seperti apa yang ingin kau izinkan untuk tetap bersemanyam dalam kepalamu. Hingga, pikiranmu sendiri yang menentukan takdir seperti apa yang kau dambakan.[]

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *