Anak Emas

Seutas refleksi oleh Thasoedi (Guru MTs)

“Keadilan bukan tentang memperlakukan semua orang dengan cara yang sama, melainkan memberi setiap orang apa yang benar-benar ia butuhkan. — tidak ada yang tahu persis siapa yang pertama mengucapkannya, tapi setiap guru yang jujur pasti pernah merasakannya.

Pernahkah Anda tanpa sengaja membuat seseorang merasa istimewa — dan baru menyadarinya bertahun-tahun kemudian, dari sebuah jawaban ujian?

Hari itu saya sedang memeriksa lembar ujian akhir murid kelas IX. Soal esai: tulis sepuluh kalimat lengkap berstruktur SPOK. Sederhana. Rutin. Tidak ada yang istimewa dari soal itu. Tapi di sanalah saya terhenti. Bukan pada satu lembar, melainkan pada beberapa. Kata majemuk yang sama muncul berulang — anak emas — dan tiba-tiba dada saya terasa seperti disentil dari dalam.

Bukan ditampar. Bukan dilukai. Hanya — disentil. Pelan, tapi tepat sasaran.

Kata anak emas dalam khazanah bahasa Indonesia bukan sekadar idiom biasa. Ia lahir dari tradisi panjang masyarakat kita yang mengenal hierarki kasih sayang dalam keluarga: anak yang paling disayangi, paling diutamakan, paling sering disebut namanya. Dalam konteks ruang kelas, padanan Aceh-nya mungkin lebih pedas lagi — aneuk ie — anak air, yang dimanjakan seperti air yang selalu diberi jalan.

Dan rupanya, tanpa saya sadari betul, beberapa murid saya merasakan hal itu.

Saya mulai rewind. Tiga tahun ke belakang.

Nama siapa yang saya panggil ketika kelas mulai riuh dan saya butuh suasana seungap — hening sejenak — supaya penjelasan saya bisa berjalan? Seungap, kata yang indah sebenarnya; bukan diam karena takut, melainkan diam karena hormat dan perhatian. Tapi siapa yang saya percaya untuk menciptakan keheningan itu?

Nama siapa yang saya tunjuk mengumpulkan infaq dan kas kelas, karena saya tahu ia teliti, bisa dipercaya, dan tidak akan membuat urusan uang menjadi keruh?

Dan nama siapa yang saya andalkan untuk memastikan kelas bersih — bukan karena saya paksa, melainkan karena saya tahu ia memang senang bebersih, dan caranya bisa menular ke teman-temannya?

Pertanyaan-pertanyaan itu berputar. Dan perlahan saya mulai menghitung: berapa banyak nama yang berulang dalam semua peran itu?

Tidak banyak.

Ini bukan tuduhan pada diri sendiri. Saya tidak mau bersikap berlebihan. Tapi saya juga tidak mau berkelit. Karena yang menggelisahkan bukan sekadar apakah saya punya anak emas — melainkan bahwa murid-murid yang jarang berinteraksi lebih dengan saya, yang tidak pernah saya panggil namanya untuk tugas-tugas itu, yang duduk di barisan tengah atau belakang tanpa pernah benar-benar saya lihat — justru mereka yang menuliskan kata itu. Dari luar, mereka melihat apa yang dari dalam tidak saya sadari.

Ironi yang cukup pahit untuk ditelan sambil pegang pulpen merah.

Lalu ada sesuatu yang naik ke permukaan — semacam pembelaan diri yang datang dengan senyum malu-malu.

Murid-murid saya pun punya guru favorit mereka sendiri. Di usia kelas IX, di mana rasa ingin tahu tentang lawan jenis sedang pada puncaknya, mereka pernah bercerita dengan polosnya kepada saya: “Ustadzah ini baik,” atau “Ustad itu galak.” Saya adalah guru sekaligus wali kelas yang dipercaya untuk menampung cerita-cerita itu.

Dan saya manusia juga.

Suka dan tidak suka itu ada. Ketertarikan pada murid yang kooperatif, yang aktif, yang responsif — itu bukan kejahatan. Tapi tanggung jawab sebagai pendidik adalah persis di situ: menyadari kecenderungan itu, dan tidak membiarkannya bekerja diam-diam di bawah permukaan selama tiga tahun.

Guru yang adil bukan guru yang tidak punya preferensi. Guru yang adil adalah guru yang tahu preferensinya — dan memilih untuk tidak membiarkan preferensi itu menentukan siapa yang ia lihat dan siapa yang ia lewati.

Itu yang berat. Dan jujurnya, hari itu saya belum sepenuhnya lulus dari ujian itu.

Tapi mungkin inilah yang indah dari pekerjaan ini: murid-murid kita adalah cermin yang paling jujur. Mereka tidak selalu mengatakannya langsung. Kadang mereka mengatakannya lewat sepuluh kalimat SPOK dalam soal ujian akhir — dan dua kata yang tidak ada dalam kisi-kisi manapun: anak emas.

Terima kasih sudah jujur, anak-anakku. Maaf kalau Ustad belum selalu adil.

Nyan Ban

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *