Tua itu pasti, dewasa adalah pilihan

Walikamar Series (part 1)

Oleh: Niswatul Chaira

Pola asuh di rumah lahir dari cinta, kebiasaan keluarga, serta harapan orang tua terhadap masa depan anaknya. Tidak ada orang tua yang ingin anaknya gagal. Semua ingin memberikan yang terbaik sesuai versi mereka dengan cara yang berbeda-beda.

Namun ketika seorang anak sudah dititipkan di sekolah, dayah, pesantren atau asrama sekalipun, maka ada tanggung jawab lain yang ikut berjalan di dalamnya. Anak bukan hanya menjadi tanggung jawab orang tua, tetapi juga amanah bagi guru, ustaz, ustazah, dan wali kamar yang membersamai mereka setiap hari. Di sinilah kadang terjadi gesekan atau benturan kecil yang memunculkan perasaan dilema. “Apakah ini salah? atau, Kenapa ya, kok bisa?” ini yang kerap kali dipertanyakan saat menghadapi benturan.

Sebagian orang tua ingin pola asuh rumah tetap diterapkan sepenuhnya di lingkungan pendidikan. Padahal lingkungan pendidikan memiliki aturan, sistem, dan cara pembentukan karakter yang berbeda. Guru tidak hanya bertugas mengajar pelajaran, tetapi juga membentuk adab, kedisiplinan, kemandirian, dan mental anak agar siap menghadapi kehidupan.

Kadang anak perlu ditegur, kadang mereka harus belajar menerima konsekuensi, kadang mereka perlu dibentuk melalui aturan yang mungkin tidak selalu nyaman bagi mereka. Dan itu bukan berarti guru membenci, justru karena peduli guru berusaha untuk mendidik. Karena jika hanya ingin disukai, semua orang bisa memilih diam dan membiarkan. Tetapi mendidik memang membutuhkan ketegasan, kesabaran, dan keberanian untuk dianggap “jahat” demi kebaikan anak di masa depan.

Maka ketika anak sudah berada di lingkungan pendidikan, yang dibutuhkan sebenarnya bukan saling mencurigai antara orang tua dan guru, melainkan saling percaya. Karena tujuan keduanya sama-sama ingin melihat anak tumbuh menjadi pribadi yang lebih baik.

Ada yang menarik, ini mungkin dekat dengan kita, menjadi walikamar.

Title ini…kalau di pikir-pikir mudah untuk di dapat, tapi sangat sulit untuk dijalani. Tidak semua orang paham pekerjaannya, tapi banyak orang salah mengartikan. Mereka adalah second home, bisa jadi kakak, guru, pendengar curhat, pengingat aturan, bahkan kadang jadi “alarm hidup” setiap hari.

Zaman sekarang menjadi wali kamar bukan cuma soal menjaga absensi, memastikan kamar rapi, atau membangunkan anak-anak untuk salat subuh. Menjadi wali kamar berarti siap menjadi tempat pulang bagi anak-anak yang sedang belajar tumbuh jauh dari rumah. Dan lucunya, tantangan terbesar kadang bukan datang dari anak-anaknya, tapi dari orang tuanya.

Ada fenomena yang makin sering terjadi, usia dijadikan ukuran utama kedewasaan. Wali kamar yang masih muda kadangkala sering dianggap belum pantas dalam membimbing. Belum cukup pengalaman, belum tahu cara menghadapi anak, bahkan kadang dianggap “masih anak-anak” hanya karena umurnya tidak jauh dari murid yang diasuh.

Padahal, tua dan dewasa itu dua hal yang berbeda. Kenyataannya, tidak semua orang yang usianya lebih tua mampu bersikap dewasa. Dan tidak sedikit anak muda yang justru belajar bertanggung jawab lebih cepat karena keadaan, amanah, dan pengalaman hidup.

Menjadi wali kamar di era sekarang memang tidak mudah. Anak-anak datang dengan karakter yang berbeda. Ada yang sensitif, ada yang keras kepala, ada yang diam-diam menyimpan luka. Belum lagi tekanan media sosial yang membuat banyak anak mudah membandingkan hidupnya dengan orang lain. Di tengah kondisi seperti itu, wali kamar dituntut hadir bukan hanya sebagai pengawas, tetapi juga sebagai pendengar.

Namun sayangnya, masih ada orang tua yang justru terlalu masuk ke dalam proses pembentukan anak. Sedikit-sedikit komplain. Anak dimarahi sedikit, langsung dianggap tidak nyaman. Anak ditegur karena melanggar aturan, wali kamar dianggap galak. Anak menangis karena rindu rumah, pengasuh dianggap tidak lihai dalam mendampingi.

Padahal proses mendidik memang tidak selalu terasa manis. Kadang anak perlu belajar kecewa, perlu belajar ditegur, perlu belajar bertanggung jawab atas kesalahannya sendiri tanpa selalu dibela. Karena dunia nyata tidak akan selalu memeluk mereka dengan lembut. Yang sering terlupakan adalah wali kamar juga manusia. Mereka belajar sambil bertumbuh. Mereka mengorbankan waktu, tenaga, bahkan perasaan demi memastikan anak-anak di bawah tanggung jawabnya tetap baik-baik saja. Banyak wali kamar yang diam-diam begadang menemani murid sakit, mendengarkan curhatan sampai larut malam, atau menangis sendiri ketika merasa gagal menjadi tempat nyaman bagi anak-anaknya.

Tetapi karena usianya muda, semua usaha itu sering kalah oleh stigma “Masih muda, memang bisa apa?” Padahal kemampuan mengasuh tidak selalu lahir dari umur panjang. Kadang ia lahir dari hati yang mau belajar, kesabaran yang terus dilatih, dan rasa tanggung jawab yang dijaga setiap hari.

Orang tua tentu berhak peduli pada anaknya. Itu wajar. Tapi ketika rasa peduli berubah menjadi terlalu ikut campur dalam setiap proses pendidikan, anak justru sulit tumbuh mandiri. Mereka akan terbiasa mencari perlindungan setiap kali menghadapi ketidaknyamanan.

Padahal di sekolah, asrama atau tempat pendidikan lainnya bukan tempat yang dibuat untuk memanjakan. Tempat itu dibuat untuk membentuk. Dan proses pembentukan itu membutuhkan kepercayaan. Percayalah bahwa wali kamar sedang berusaha menjalankan amanahnya. Percaya bahwa anak-anak juga perlu belajar menghadapi kehidupan tanpa selalu bergantung pada orang tua. Karena suatu hari nanti, mereka akan hidup di dunia yang tidak selalu bisa diatur sesuai keinginan mereka.

Menjadi dewasa bukan soal usia dan angka. Tapi tentang cara berpikir, cara menyikapi masalah, dan cara memperlakukan orang lain dengan bijak. Karena kita percaya “tua itu pasti, tapi dewasa benar-benar sebuah pilihan” [].

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *