Pagi itu, suasana sekolah mendadak berbeda. Biasanya, pukul tujuh pagi anak-anak sudah sibuk masuk kelas, sebagian masih menguap, sebagian lagi sibuk mencari pulpen yang katanya tadi ada di meja, padahal ternyata terselip di dalam tas. Tapi hari itu bukan hari biasa. Lapangan sekolah sudah dipenuhi bendera merah putih. Umbul-umbul warna-warni bergoyang tertiup angin. Tali rafia berseliweran di sana-sini. Beberapa guru sibuk mengatur persiapan acara. Dan tentu saja… Anak-anak sibuk mencari tahu “Hadiah lombanya apa?”. Karena begitulah manusia, kalau disuruh kerja bakti jawabannya “Capek, Bu.” Tapi kalau mendengar kata “hadiah” bergegas menjawab “SIAP, BU!”.
Salah satu anak yang paling bersemangat pagi itu adalah Raka. Raka adalah sahabatku. Dia punya tiga kelebihan. Pertama, percaya diri. Kedua, banyak bicara. Ketiga, percaya diri meskipun sebenarnya tidak tahu apa yang sedang dibicarakan. Pagi itu dia datang sambil membawa bendera kecil di tangan. “MERDEKA!” teriaknya bersemangat. Aku yang sedang duduk di teras kelas langsung menoleh. “Rak, ini masih tanggal lima belas.” ucapku padanya. Dia melihat kalender. Terdiam. Melihat kalender lagi. Lalu berkata,
“Ya sudah. Anggap saja latihan.” Aku menggeleng.
“Semangatmu memang luar biasa.” balasku padanya setengah bercanda.
“Terima kasih.” balas Raka.
“Itu bukan pujian.” ucapku lagi.
“Oh.” (sambil berbalik badan lalu pergi).
Seminggu sebelum perayaan kemerdekaan, sekolah kami sudah mulai sibuk mempersiapkan berbagai kegiatan. Ada lomba menghias kelas, lomba kebersihan, makan kerupuk, balap karung, estafet karet, memasukkan pensil ke botol, tarik tambang, dan berbagai lomba lainnya. Ketika guru mengumumkan bahwa setiap kelas harus ikut berpartisipasi, suasana kelas langsung berubah. “Siapa yang ikut lomba?” tanya walikelasku. Hening. Semua menunduk. Ada yang tiba-tiba sibuk membuka buku. Ada yang pura-pura membaca. Ada yang tiba-tiba ke toilet. Aku menatap teman-temanku.
“Kenapa semuanya diam?” tanya Bu Ema lagi.
Raka mengangkat tangan. “Saya siap!”
Aku langsung lega.
“Nah, bagus. Kamu ikut apa?” Tanya Bu Ema memastikan.
“Belum tahu bu…” Jawab Raka singkat.
“Terus kenapa angkat tangan?” Bu Ema Penasaran.
“Biar kelihatan berani.” Jawab Raka lagi.
Seluruh ruang kelas sontak tertawa…..Aku menutup wajah dengan kedua tangan sambil menahan tawa ku yang hampir pecvash. Akhirnya, setelah perdebatan panjang, kami membagi tugas. Aku ikut lomba estafet karet. Raka ikut lomba makan kerupuk. “Kenapa kamu pilih makan kerupuk?” tanyaku. Raka tersenyum. “Karena aku punya pengalaman.” Jawab Raka. “Pengalaman apa?” tanyaku kembali. “Dari kecil aku sudah makan.” Raka menjawab penuh percaya diri. Aku kembali terdiam. “Logikamu luar biasa.” ucapku sambil bertepuk tangan.
Hari berikutnya, kami mendapat tugas menghias kelas. Wali kelas kami sudah memberikan pesan sederhana. “Buat yang rapi, kreatif, dan bernuansa kemerdekaan.” Kedengarannya mudah. Tapi ternyata… Tidak semudah itu, Marimar. Kami mulai dengan menempelkan kertas merah putih di dinding. Lima menit pertama masih aman. Sepuluh menit kemudian, masalah mulai muncul. “Siapa yang bawa gunting?” tanya Raka.
“Aku.” Jawabku spontan.
“Mana?” Raka kembali bertanya.
“Di meja.” Jawabku singkat.
“Yang mana?” Raka tidak berhenti bertanya.
“Meja!!!.” aku sedikit kesal.
“Semua meja di kelas ini ada tujuh!” Raka mulai jengkel.
“Oh iya.” Jawabku lagi.
Kami mencari gunting selama lima belas menit. Setelah semua panik… Ternyata guntingnya ada di tangan Raka.
“Rak!” panggilku.
“Iya?”
“Guntingnya dari tadi di tanganmu!” sambil menunjuk gunting.
Dia melihat tangannya.
“Oh…” jawabnya sepele.
“Kenapa kamu diam?” tanyaku sedikit kesal.
“Aku kira ini penggaris.”Jawab Raka tidak merasa bersalah
Raka mengira itu lucu. Aku ingin pulang kataku kepada mereka. Belum selesai dengan gunting, muncul masalah baru. Tulisan “DIRGAHAYU REPUBLIK INDONESIA” yang kami buat ternyata tidak muat di dinding. Hurufnya terlalu besar. Akhirnya kami mengubahnya. “DIRGAHAYU RI.” Masih terlalu panjang. “DIRGAHAYU.” Akhirnya tulisan itu dipasang. Sayangnya, huruf Y jatuh. Kemudian huruf A miring. Huruf G malah terbalik. Raka memandang hasilnya dengan serius.
“Menurut kalian bagus?” tanyanya.
Kami semua diam.
“Bagus,” kataku akhirnya.
“Serius?”
“Serius.” Jawabklu lagio.
“Kenapa wajahmu seperti orang kehilangan dompet?” Tanyanya padaku
“Karena saya sedang berusaha menghargai karya seni.” Jawabku padanya.
Akhirnya tibalah hari perlombaan. Sejak pagi, lapangan sekolah sudah ramai. Anak-anak memakai pakaian olahraga. Ada yang membawa topi, ada yang membawa air minum, dan ada juga yang membawa bekal. “Ini lomba atau piknik?” tanyaku. Raka menjawab, “Persiapan harus lengkap.” Acara dimulai dengan sambutan. Setelah itu, lomba pertama adalah makan kerupuk. Peserta berdiri di depan kerupuk yang sudah digantung. Raka berdiri dengan penuh percaya diri. Aku berteriak… “RAKA! SEMANGAT!” Dia mengacungkan jempol. “Tenang! Aku juara!”
Guru memberi aba-aba. Semua bersiap.
“SATU!”…. “DUA!”
Raka membuka mulut lebar-lebar.
“TIGA!”….
Dia langsung melompat. Kerupuk bergerak. Raka mengejar. Kerupuk ke kanan. Raka ke kiri. Kerupuk ke kiri. Raka ke kanan. Kami yang menonton mulai tertawa.
“RAKA! KERUPUKNYA DI DEPAN!”
“Aku tahu!”
“TERUS KENAPA DIKEJAR KE BELAKANG?”
“ANGINNYA CURANG!”
Aku hampir jatuh karena tertawa. Setelah perjuangan panjang, akhirnya Raka berhasil menggigit kerupuk. Dia tersenyum. “HAHA! MENANG!” Tapi ketika dia hendak menarik kerupuk… Kerupuknya patah. Separuh masuk ke mulutnya. Separuh lagi jatuh. Dia menatap tanah. Kemudian berkata, “Yang penting setengah.”
Lomba berikutnya adalah balap karung. Aku awalnya tidak berniat ikut. Tapi salah satu peserta tiba-tiba sakit. “Siapa yang bisa menggantikan?” Semua melihat ke arahku. Aku menunjuk diri sendiri. “Aku?” tanytaku penasaran.
“Iya.” Jawab Raka.
“Kenapa aku?”
Raka menjawab, “Karena kamu paling dekat.”
Alasan yang sangat ilmiah. Akhirnya aku berdiri di garis start. Karung sudah dipasang sampai pinggang. Peserta lain terlihat sangat serius. Ada yang melakukan pemanasan. Ada yang menarik napas dalam-dalam. Aku juga melakukan pemanasan. Tapi sebenarnya aku hanya pura-pura.
“Siap!”
Aku menunduk.
“Mulai!”
Aku melompat. Satu lompatan. Dua lompatan. Tiga lompatan. Kemudian… BRUK! Aku jatuh. Semua orang tertawa. Raka berteriak, “BANGUN! KEMERDEKAAN BELUM SELESAI!” Aku bangkit. Melompat lagi. BRUK! Jatuh lagi. Kali ini aku tidak tahu harus tertawa atau menangis. Akhirnya aku sampai di garis finis. Posisi? Terakhir. Tapi anehnya, teman-temanku menyambutku seperti seorang juara. “HEBAT!” Aku tertawa. “Kenapa kalian senang?” Raka menjawab, “Karena kamu berhasil menyelesaikan perjuangan.” “Padahal aku terakhir.” memastikan jawaban mereka. “Yang penting tidak menyerah.” Aku tersenyum. Entah kenapa kalimat sederhana itu terasa berbeda.
Lomba terakhir yang paling ramai adalah tarik tambang. Dua kelompok berdiri berhadapan. Talinya tegang. Semua peserta bersiap. Aku berada di barisan belakang. Raka berada tepat di depanku.
“Rak.”
“Apa?”
“Kalau kalah gimana?”
“Kita jangan kalah.”
“Kalau tetap kalah?”
“Kita bilang ini strategi.”
“Strategi apa?”
“Strategi memberikan kesempatan kepada lawan.”
Aku tertawa. Peluit berbunyi. Semua menarik tali…..
“Ayo!”
“Tarik!”
“Jangan lepas!”
Kami mengerahkan seluruh tenaga. Kaki menahan tanah. Tangan memegang tali erat-erat. Wajah mulai merah. Ada yang berteriak. Ada yang tertawa. Ada yang hampir jatuh. Tiba-tiba… “AAAA!” Salah satu teman kami terpeleset. Barisan belakang ikut tertarik. Dan akhirnya… BRUK! Kami semua jatuh bersamaan. Lapangan langsung dipenuhi tawa. Tidak ada yang marah. Tidak ada yang menyalahkan. Kami hanya saling membantu berdiri. Saat itulah aku menyadari sesuatu. Mungkin inilah salah satu makna sederhana dari kebersamaan. Ketika satu orang jatuh, yang lain membantu. Ketika satu orang lelah, yang lain menyemangati. Ketika satu orang gagal, yang lain tidak menertawakan untuk menjatuhkan, tetapi tertawa bersama agar kegagalan terasa lebih ringan. Merdeka Bukan Sekedar Lomba…
Setelah semua perlombaan selesai, kami duduk bersama di bawah pohon. Baju sudah penuh keringat. Kaki pegal. Suara hampir habis. Tapi wajah semua orang terlihat bahagia. Raka duduk sambil memegang kerupuk sisa lomba.
“Rak.”
“Hm?”
“Kamu tahu nggak kenapa kita merayakan kemerdekaan setiap tahun?”
“Karena ada lomba?”
Aku memukul pundaknya.
“Serius!”
Dia tertawa.
“Ya karena Indonesia merdeka.”
Aku mengangguk.
Di depan kami, bendera merah putih berkibar tertiup angin. Tiba-tiba suasana terasa lebih tenang. Selama ini, kami sering menganggap perayaan kemerdekaan hanya sebagai hari untuk lomba, tertawa, mendapatkan hadiah, atau sekadar menikmati suasana, padahal ada cerita panjang di balik tanggal 17 Agustus. Ada perjuangan. Ada pengorbanan. Ada air mata. Ada keberanian. Ada orang-orang yang rela mempertaruhkan hidup agar generasi setelah mereka bisa merasakan kebebasan.
Dan sekarang, tugas kami memang berbeda. Kami tidak lagi harus mengangkat senjata di medan perang. Perjuangan kami adalah belajar. Berjuang menjadi generasi yang jujur. Menghargai guru. Menghormati orang tua. Menjaga persahabatan. Tidak mudah menyerah. Menggunakan ilmu untuk kebaikan. Dan menjaga persatuan meskipun kami berbeda. Karena ternyata… menjadi generasi merdeka bukan berarti bebas melakukan apa saja. Menjadi generasi merdeka berarti memiliki kebebasan untuk memilih jalan yang baik. Bebas bermimpi. Bebas belajar. Bebas berkarya. Bebas menjadi diri sendiri. Dan yang paling penting… Bebas menentukan masa depan Indonesia dengan tindakan kita hari ini.
Ternyata masih ada satu lomba lagi. Aku sedang menikmati suasana ketika tiba-tiba guru datang.
“Anak-anak!”
Semua menoleh.
“Setelah acara ini, kita bersihkan lapangan bersama-sama, ya.”
Seketika suasana berubah.
Raka berdiri.
“Aku izin.”
Guru bertanya,
“Izin ke mana?”
“Ke toilet.”
Aku langsung curiga.
“Rak, jangan kabur!”
Dia tersenyum.
“Aku bukan kabur.”
“Terus?”
“Aku sedang mencari kebebasan.”
Guru tertawa.
“Raka!”
Dia langsung lari.
“MERDEKAAAA!”
Aku mengejarnya.
“WOI! KEMBALI!”
Anak-anak lain ikut tertawa dan berlari mengejar. Pada akhirnya kami semua kembali ke lapangan dan membersihkan tempat acara bersama-sama. Raka bahkan mendapat tugas paling berat, mengumpulkan sampah.
“Kenapa aku?”
Guru menjawab,
“Karena kamu paling cepat larinya.”
Raka menghela napas.
“Beginilah nasib orang berbakat.”
Kami semua tertawa.
Sore itu, lapangan sekolah akhirnya kembali bersih. Bendera merah putih masih berkibar. Langit mulai berubah warna. Kami berdiri sejenak memandang bendera tersebut. Tidak ada lomba lagi. Tidak ada teriakan. Tidak ada kerupuk yang harus dikejar. Tidak ada karung yang membuat kami jatuh. Yang tersisa hanya rasa bangga. Bangga menjadi bagian dari Indonesia. Aku melihat Raka.
“Rak.”
“Apa?”
“Besok kalau ada lomba lagi, kamu ikut apa?”
Dia berpikir cukup lama.
“Mungkin lomba tidur.”
Aku tertawa.
“Memang ada?”
“Kalau belum ada, kita usulkan.”
Aku menggeleng.
Dasar Raka. Tapi mungkin memang begitulah cara kami menikmati kemerdekaan. Dengan tawa. Dengan kebersamaan. Dengan persahabatan. Dengan semangat. Dan dengan kesadaran bahwa di balik semua kesenangan itu, ada tanggung jawab besar yang harus kami teruskan. Karena kemerdekaan bukan hadiah. Kemerdekaan adalah amanah. Dan sebagai generasi muda, kami punya tugas untuk mengisinya dengan hal-hal yang berarti. Bukan harus menjadi pahlawan besar. Cukup mulai dari hal-hal kecil. Belajar dengan sungguh-sungguh. Berbuat baik kepada sesama. Menghargai perbedaan. Menjaga persatuan. Tidak mudah menyerah.
Dan kalau sesekali gagal dalam lomba… Tidak apa-apa. Sebab yang paling penting bukan selalu menjadi juara. Yang paling penting adalah berani mencoba, mau bangkit ketika jatuh, dan tetap bisa tertawa bersama. Karena pada akhirnya… Merdeka itu bukan cuma soal menang lomba. Merdeka adalah tentang kesempatan untuk menjadi manusia yang lebih baik. Dirgahayu Republik Indonesia! [].
