Teungku Syik Kuta Karang

Oleh : Azmi Abubakar

Pengajar Sejarah Islam

Abad ke-18 adalah masa Kesultanan Aceh Darussalam menghadapi perang dengan Belanda. Mereka mulai mengincar dan merebut satu persatu wilayah kekuasaan Aceh, baik yang berada di Selat Malaka maupun di pantai Barat Sumatera. Hal ini membuat tradisi keilmuan menjadi terganggu di Kesultanan Aceh Darussalam. Akan tetapi  tradisi  ilmu itu masih bisa berjalan bahkan ketika Belanda menyatakan perang terhadap Aceh pada paruh akhir abad ke-19 atau tahun 1873.

Salah satu ulama yang sangat produktif dalam berkarya pada masa perang Aceh- Belanda tersebut  adalah Teungku Syik Kuta Karang. Dalam literatur,  nama asli Teungku Chik Kuta Karang adalah Syekh Abbas bin Muhammad. Berasal dari Ulee Susu, Lam Kunyet Gampong Kuta Karang, Kecamatan Darul Imarah, Kabupaten Aceh Besar, Provinsi Aceh,  sehingga lebih dikenal dengan lakap Teungku Chik Kuta Karang. 

Teungku Syik Kuta Karang banyak menulis ilmu pengobatan dan astronomi. Pada masa pemerintahan Sultan Alaidin Mansur Syah (1857-1870), beliau memangku jabatan Qadi Malikul Adil di Kerajaan Aceh Darussalam. (Ali Hasymi, 197). Ketika terjadi pergantian Sultan Aceh menjelang masa perang, yaitu dengan naik tahtanya Sultan Mahmud Syah (1870-1874). Saat itu, beliau  masih mendukung kesultanan hingga sultan Aceh mangkat. Beliau  bersama dengan Teungku Chik Tanoh Abee juga menjadi penasehat tokoh perlawanan dalam perang melawan Belanda. 

Syekh Abbas bin Muhammad Kuta Karang kemudian menempuh pendidikannya ke Mekah, beliau bersahabat dengan Syekh Zainuddin al Syekh Ismail Minangkahawi, Syekh Ahmad Sambasi, Syekh Muhammad Saleh Rawa dan ulama lainnya yang berasal dari nusantara. Para ilmuwan dari nusantara yang pernah menjadi gurunya adalah Syekh Daud bin Abdullah al Fathani, Syekh Abdus Samad al Palimbani. Selain itu, beliau belajar pada Sayid Ahmad al Marzuki al Maliki, Syekh  Usman ad Dimyati, Syekh Muhammad Said Qudsi, Syekh  Muhammad Salih bin Ibrahim ar Rais, Syekh Umar A Rasul, Syekh Abdul Hafiz al Ajami dan ulama lainnya. (Azyumardi Azra, 1994).

Banyak tulisannya yang masih tersisa di dayah yang telah dirintisnya di kampungnya Kuta Karang, Darul Imarah Aceh Besar, Sebagian di antaranya ada yang telah lapuk dimakan usia dan yang menyedihkan ada juga yang hilang ditelan masa. Dalam website Masyarakat Peduli Sejarah Mapesa) menukilkan kembali perkataan beliau, tentang bagaimana biadabnya belanda kala itu merusak makam para ulama:

Muslimin dalam negeri Aceh dengan taufiq Allah Ta‘ālā ji bangkit perang dan hal yang raja raja  dan petua-petua  jabatan. Dan orang yang kaya2 hana ji bangkit perang berdiri ke kepala perang hana malee ji tabek kafir Ulanda (Belanda), masuk ke dalam negeri jiboh nyan jirat2 dalam negeri, habeh jigali batee nisan dum, habeh jiboh pada ateung jalan, ladoem ureng jidrop jiboh lam glap hingga matee. Dum nan perbuatan kafee, pakri hana pikee, pakri hana malee..”

Artinya: maka dengan Taufiq Allah Ta’ala rakyat muslimin di negeri Aceh bangkit perang beserta raja-raja dan ketua-ketua jabatan. Sedang orang-orang kaya tidak ikut berperang, tunduk kepada kafir Belanda tanpa rasa malu, padahal mereka masuk ke daerah-daerah menghancurkan semua makam yang ada, digali semua nisan, dibuang ke jalan-jalan, sebagian lagi orang ditangkap dan dipenjara hingga mati. Sedemikian kejam perbuatan kafir, kenapa tidak berpikir, kenapa tidak malu!)

Teungku Chik Kuta Karang mengatakan; “segala bentuk perbuatan yang memberi manfaat kepada kafir, hukumnya orang itu menjadi kafir”. Barangkali karena pemikirannya tersebut, yang telah mencerminkan bahwa dia adalah ulama yang anti penjajahan sehingga terus mengobarkan semangat perlawanan terhadap Belanda dengan jihad fi sabilillah atau perang di jalan Allah (Ibrahim Alfian,  1987). 

Hasil pemikiran Teungku Chik Kuta Karang yang dikenal di Aceh meliputi berbagai disiplin ilmu: di antaranya: Ilmu falak, hisab, hikmah, fikih, pengobatan, pertanian, astronomi, kesusasteraan dan politik. Dalam mengarang, beliau banyak merujuk pada kitab-kitab yang menjadi referensinya, antara lain; Risalah Imam Jakfar as Shadiq Risalah Abu Maksyaril Falaki. Wasilatut Thullah. Umdatur Thalib, Syamsul Maarif al Kubra, Syarhu Nazini Natijatil Migat, Syarhu Sirajil Munir Syarhu Nazhmi Kawakib dan lain-lain (Wan Shagir Abdullah, 2000).Teungku Chik Kuta Karang menyarankan kepada Sultan Aceh bahwa satu-satunya jalan menghindari bahaya perang itu adalah mengumumkan perang di jalan Allah’ atau ‘perang sabil yang harus dijalankan dengan yakin dan sungguh-sungguh (Mohammad Said. 1981).

Teungku Chik Kuta Karang berpulang ke rahmatullah pada bulan November 1895. beliau tidak sempat mengembangkan ilmunya lebih jauh lagi sebagaimana yang dilakukan ulama lain setelah perang usai setelah itu. Untuk mengenang pengorbanan beliau.  nama Teungku Chik Kuta Karang ditabalkan pada nama instansi, sekolah, nama jalan dan perpustakaan di berbagai instansi pemerintah dan swasta di Provinsi Aceh. Di antaranya; Balai Observatorium Teungku Chik Kuta Karang di Lhoknga, SMA Teungku Chik Kuta Karang di Darul Imarah Aceh Besar, dan Jalan Teungku Chik Kuta Karang Kuta Alam Banda Aceh.  Mari mengambil semangat keilmuwan dan perjuangan dari beliau. Semoga Allah merahmati Teungku Syik Kuta Karang.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *