Madinah 13, 14, 15 & 16

Oleh: Niswatul Chaira

Previous-

Cerita ini bukan sekadar lorong asrama, kasur rapi, atau anak-anak yang belajar memakai mukena. Ini adalah kisah kecil tentang ikhlas, sabar, tumbuh, kasih sayang dan cinta yang hadir disetiap pertemuan. Madinah 13, 14, 15, 16 dipersembahkan sebagai hadiah sederhana untuk anak-anak yang pernah mengisi hari-hari di Madinah. Untuk setiap tawa yang pernah pecah, untuk setiap air mata yang jatuh, setiap pelukan hangat yang menjadi rumah kedua. Dan bagi kami, melihat murid tumbuh menjadi anak yang baik, lembut, pintar, dan berakhlak mulia adalah hadiah paling indah yang tidak bisa digantikan apa pun.

__________________

Hari pertama di asrama selalu punya aroma yang khas, bau lemari kayu, koper baru dibuka, dan tangis yang ditahan diam-diam. Empat kamar berjajar di lorong putri itu diberi nama sederhana, “Madinah 13, Madinah 14, Madinah 15, dan Madinah 16″. Di sanalah anak-anak baru memulai hidup yang sama sekali berbeda dari rumah. Ada yang datang sambil tersenyum lebar karena merasa keren bisa mondok. Ada yang diam karena takut. Ada pula yang dari tadi memeluk ibunya erat seperti tidak ingin dilepas.

Di depan lorong, berdiri dua ustazah pembina yang akan menjaga mereka selama satu tahun penuh. Ustazah Nisa terkenal tegas. Suaranya lembut, tapi tatapannya cukup membuat santri langsung merapikan jilbab. Sedangkan Ustazah Ira lebih banyak tersenyum tapi susah dalam menghafal nama, biasanya butuh beberapa bulan beliau dapat menghafal nama mereka satu persatu.

Malam harinya sebelum tidur mereka dikumpulkan di satu kamar untuk mendapatkan arahan dan ucapan selamat datang. Beberapa menit berlalu, murid baru yang bingung harus mengerjakan apa pelan-pelan mengerti bahwa mereka sekarang tinggal di asrama. Hingga sampai pada ucapan Ustazah Nisa “Mulai hari ini, kalian bukan tamu lagi. Kalian keluarga Madinah. Segala sesuatu baik senang maupun sedih ceritakan kepada kami, kami adalah orang tua baru kalian disini”. Sebagian dari mereka mengangguk. Sebagian lagi sibuk menyembunyikan air mata. Diakhir arahan kedua ustazah memiliki kebiasaan mengucapakan selamat malam kepada anak asuh mereka, tiba-tiba….” Good night everyone”…. Ucap ustazah Nisa dan Ustazah Ira mengakhiri malam pertama murid baru di asrama Madinah.

Anak-anak terkejut, sebagian terdiam, sebagian hanya menatap penuh kebingungan. Sontak ekspresi anak-anak membuat ustzah Ira berkata, “Oooo ini adalah kebiasaan kami bersama anak-anak sebelumnya, jadi nanti jika ustzah berkata selamat malam dalam bahasa Inggris, Arab dan lainnya, silakan menjawab “Good night too atau lain sebagainya ya…”. “Naam ustazah jawab mereka mengiyakan”. Lalu mereka kembali ke kamar masing-masing.

Malam pertama adalah kekacauan kecil yang lucu. Mukena dan baju berserakan. Kasur tidak terpasang rapi. Lemari seperti habis diterjang angin. Ada yang bahkan tidak tahu cara melipat selimut. “Ustazah…” suara kecil terdengar dari pojok kamar. “Iya?” “Aku nggak bisa pakai mukena sendiri…”. Semua menoleh. Anak kecil bernama Rania berdiri sambil terlilit mukena sampai hampir jatuh. Beberapa murid tertawa kecil. Tapi Ustazah Ira menghampiri tanpa ikut menertawakan. “Gapapa,” katanya sambil membetulkan mukena itu perlahan. “Semua orang pernah belajar.”

Hari itu, ternyata bukan cuma Rania. Ada yang belum bisa mengikat rambut sendiri. Ada yang tidak tahu cara menyusun baju di lemari. Ada yang menangis hanya karena tidak menemukan sandal. Bahkan malam pertama itu, satu lorong penuh keributan karena ada yang takut tidur tanpa lampu.

Hari-hari awal di Madinah terasa panjang. Subuh terlalu pagi. Antrean kamar mandi terlalu lama. Makanan dapur kadang tidak cocok di lidah. Dan rindu rumah datang diam-diam setelah lampu dimatikan. Beberapa anak menangis di bawah selimut. Ada yang memandangi foto keluarga sebelum tidur. Ada yang terlihat bahagia bisa bertemu teman baru dan lain sebagainya. Semuanya lengkap memenuhi asrama Madinah dari ujung ke ujung.

“Aku mau pulang…”. Kalimat itu jadi kalimat paling sering terdengar dibulan pertama. Ustazah Nisa sebenarnya tahu. Ia sering sengaja berjalan pelan di depan kamar hanya untuk memastikan tidak ada anak yang menangis sendirian. Kadang ia duduk di pinggir kasur santri. Kadang hanya mengusap kepala mereka sambil berkata “Bertahan sedikit lagi ya.” Dan anehnya, kalimat sederhana itu cukup membuat hati mereka lebih tenang.

Beberapa bulan berlalu, Madinah perlahan berubah. Lorong yang dulu penuh tangisan mulai dipenuhi tawa. Anak-anak yang awalnya tidak saling kenal mulai berbagi jepit rambut, mukena, sampai rahasia kecil sebelum tidur. Rania yang dulu tidak bisa memakai mukena kini justru membantu murid di kamar lain. Alya yang dulu selalu berantakan sekarang paling rajin merapikan lemari. Nadira yang awalnya pendiam mulai berani jadi imam doa bersama. Mereka belajar banyak hal yang tidak tertulis di buku. Belajar bangun sebelum azan, belajar meminta maaf, belajar berbagi, menghormati guru dan belajar bahwa disiplin bukan hukuman, tapi bentuk kasih sayang.

Suatu malam setelah evaluasi kamar, Ustazah Salma dan Ustazah Ira berdiri memandangi lorong. Kasur rapi, mukena tergantung baik, lemari tersusun bersih, tidak ada lagi sandal berserakan. Ustazah Nisa tersenyum kecil. “Masih ingat minggu pertama?” tanyanya. Ustazah Ira tertawa pelan. “Yang lemari satu kamar isinya campur semua?” “Yang nangis karena nggak bisa pasang sarung bantal.” Lalu keduanya tertawa.

Di balik pintu kamar, ternyata beberapa santri mendengar percakapan itu. “Eh… ternyata dulu kita separah itu ya,” bisik seseorang. “Parah banget.” Mereka tertawa sampai perut sakit. Namun malam itu, tanpa sadar, semua merasa bangga pada diri sendiri. Karena ternyata mereka sudah tumbuh. Waktu memang berjalan diam-diam, tahun ajaran hampir selesai. Anak-anak Madinah bukan lagi santri kecil yang manja seperti dulu. Kini mereka lebih patuh, lebih mandiri, lebih sopan saat berbicara, rajin mengaji, mengerti adab dan sopan santun. Dan yang paling terlihat, mereka mulai saling menjaga seperti saudara. Sampai akhirnya pengumuman pergantian kamar tiba.

Kabar bahagia itu justru membawa kesedihan baru, artinya mereka harus berpisah kamar, berpisah rutinitas dan berpisah dengan dua ustazah yang selama ini menjadi rumah kedua. Malam terakhir di lorong Madinah terasa berbeda. Tidak ada tawa keras dari kamar Madinah 14 yang biasanya paling ribut. Semua terasa pelan. Tidak ada yang tidur cepat. Semua duduk di lantai sambil membawa makanan kecil. Beberapa anak sibuk menulis surat untuk ustazah. Seolah seluruh penghuni lorong sedang menahan sesuatu di dalam dada. Besok pagi mereka akan pindah kamar. Beberapa lainnya diam karena tidak tahu harus berkata apa. Rania memeluk Ustazah Nisa dan Ustazah Ira erat sekali. “Ustazah… nanti kalau kami beda asrama dan kamar, masih boleh peluk ustazah nggak?” Ustazah Nisa tersenyum sambil menahan air mata.

“Memangnya kalau beda kamar jadi orang lain?” Jawab ustazah Ira. Tangis pecah malam itu. Satu lorong menangis bersama. Ustazah Nisa yang biasanya paling tegas pun akhirnya ikut mengusap mata diam-diam. “Terima kasih ya,” katanya pelan. “Kalian sudah tumbuh jadi anak-anak baik.” Alya tersedu. “Kami bisa begini karena ustazah…” Lorong Madinah malam itu penuh pelukan, doa, dan air mata yang hangat.

Esok paginya, koper kembali dibuka, lemari kembali dikosongkan. Kasur kembali dilipat. Namun kali ini berbeda. Tidak ada anak yang bingung memakai mukena. Tidak ada yang menangis karena tidak bisa membereskan lemari. Tidak ada yang takut tinggal jauh dari rumah. Karena Madinah telah mengubah mereka. Dari anak-anak kecil yang rapuh, menjadi pribadi yang lebih kuat, lebih manis, lebih berakhlak.

Sayangnya, waktu tidak pernah berhenti. Malam itu sebenarnya bukan hanya malam perpisahan. Tepat pukul dua belas nanti adalah ulang tahun Ustazah Ira dan Ustzah Nisa, ajaibnya mereka lahir di bulan dan tanggal yang sama walaupun tahunnya berbeda. Anak-anak Madinah diam-diam menyiapkan kejutan kecil. Mereka patungan membeli roti sederhana dari koperasi. Membuat kartu ucapan memakai kertas bekas tugas. Menulis pesan satu per satu. Namun semakin dekat waktunya, suasana malah semakin sedih. Karena mereka sadar ini mungkin malam terakhir tidur bersama di asrama Madinah.

Pukul sebelas malam. Lampu lorong dimatikan. Namun kamar Madinah 13 masih ramai pelan-pelan. “Awas jangan ribut nanti ustazah bangun.”Senter mana?” “Eh kuenya jangan miring!” Rania yang paling kecil malah sudah menangis duluan. “Kamu kenapa nangis?” tanya Alya. “Besok nggak sama ustazah lagi…” Seketika kamar mendadak hening. Tidak ada yang menjawab karena semua merasakan hal yang sama.

Tepat pukul dua belas malam, mereka berjalan pelan menuju kamar ustazah. “Tok..tok…tok..”. “Man??…” (siapa dalam bahasa arab)” Jawab Ustzah Nisa. Saat pintu dibuka, anak-anak langsung bernyanyi pelan. “Barakallah fii umrik ustazah…” Cahaya senter kecil membuat wajah mereka terlihat sembab karena habis menangis diam-diam. Ustazah Ira dan Nisa menutup mulutnya kaget. “Ya Allah…” Roti kecil itu bahkan tidak terlalu rapi. Tulisan krimnya miring, warna ulang tahunnya berbeda warna semua. Namun bagi Ustazah Nisa dan Ira itu terasa lebih mahal dari apa pun.

“Ada surat juga ustazah…” kata Nadira sambil menyerahkan kotak kecil berisi kertas-kertas lipat. Ustazah Nisa membukanya perlahan. Tulisan pertama milik Rania. “Terima kasih karena dulu ustazah ngajarin ana pakai mukena sampai bisa. Maaf kalau ana sering nangis.” Tulisan kedua. “Maaf pernah tidak ke musalla dan bohong sama ustazah.” Tulisan ketiga. “Kalau nanti kami naik kelas, jangan lupa sama kami ya ustazah…”

Suara tangis mulai terdengar satu per satu. Ustazah Nisa tidak kuat melanjutkan membaca. Air matanya jatuh lebih dulu. Ustazah Ira yang sejak tadi berdiri di pintu sambil memengang roti akhirnya bicara pelan. “Kalian tahu nggak…” Anak-anak menoleh. “Dulu kami sempat takut nggak sanggup ngurus kalian.” Beberapa anak tertawa kecil sambil menangis. “Karena kalian ramai sekali.” “Ustazaaaah…” protes mereka. “Tapi ternyata…” suara beliau mulai bergetar, “kalian justru jadi alasan kenapa lorong ini terasa hidup, jadu alasan kenapa ustazah harus bertahan hanya untuk melihat kalian tumbuh dan belajar”.

Tangis pecah malam itu. Rania langsung memeluk Ustazah Nisa dan Ustzah Ira erat sekali. Disusul yang lain. Satu per satu berebut peluk. Sampai kamar kecil itu penuh isak tangis. Bereka saling berpelukan saling menguatkan. “Ustazah…” Alya berkata sambil sesenggukan, “kami takut nanti nggak ada yang bangunin subuh kayak ustazah lagi…” “Takut nggak ada yang marahin kalau lemari berantakan…” “Takut nggak ada yang dengerin kalau sedih…”

Ustazah Iraa tersenyum sambil mengusap kepala mereka satu per satu. “Sekarang kalian sudah besar, sudah tahu mana baik mana buruk, sudah bisa jaga diri sendiri. Tapi satu hal yang harus kalian ingat…” Beliau menarik napas pelan. “Akhlak jangan pernah ditinggal di mana pun kalian berada.” Anak-anak mengangguk sambil menangis. Malam itu tidak ada yang tidur. Mereka duduk di lorong Madinah sampai hampir subuh sambil bercerita dan mengulang hal lucu yang pernah mereka lakukan. Mengakui kesalahan, hari pertama di asrama, tentang kasur berantakan, mukena terbalik, rindu rumah, hukuman karena terlambat dan semua hal kecil yang dulu terasa berat, namun kini justru paling dirindukan.

Dan di ujung malam, mereka sadar… ternyata tumbuh juga berarti siap berpisah. Pagi harinya koper-koper mulai dibawa keluar, berjalan mengisi kamar baru yang akan mereka huni dengan ustzah yang baru. Lorong Madinah perlahan kosong. Namun sebelum pergi, anak-anak berhenti di depan kamar ustazah. “Terima kasih ustazah, doakan kami sukses ya ustazah, kami sayang ustazah…” teriak mereka kompak.

Suara itu besar tapi rasanya lirih dihati. Ustazah Nisa dan Ustazah Ira tersenyum sambil menahan tangis. “Selamat berpisah sementara anak gadis solehah.” balas ustazah Ira. Rania memeluk beliau untuk terakhir kali. Dan di hari ulang tahun mereka berdua… yang di dapatkan bukan hadiah mahal. Melainkan sesuatu yang jauh lebih indah, melihat anak-anak kecil yang dulu bahkan tidak bisa memakai mukena kini tumbuh menjadi santri yang patuh, pintar, lembut hati, dan penuh adab.

Dan di lorong sederhana bernama Madinah 13, 14, 15, 16, mereka belajar satu hal penting bahwa, rumah bukan selalu tentang tempat kita dilahirkan. Kadang, rumah adalah tempat yang diam-diam mengajarkan kita untuk tumbuh [].

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *