Seutas buah pikir berbentuk opini oleh Thasoedi (Guru MTs)
Hidup kadang seperti berjalan di jalan kampung yang berliku; kita niatnya mau ke rumah tetannga, tapi malah singgah dulu di warung, berhenti sebentar di samping empang karena jumpa dengan kawan-kawan, lalu baru sampai ke tujuan. Begitu pula manusia, sering kali niat awalnya sederhana, tapi jalannya panjang dan penuh persinggahan. Saya teringat cerita seorang ibu yang that gram pada anaknya karena disuruh ke warung beli minyak goreng, eh pulangnya malah bawa mainan kelereng, minyaknya ketinggalan. Dari situ kita bisa belajar bahwa jalan hidup manusia jarang ada yang lurus, sekalinya lurus biasanya tidak lama. Akan ada saja belokan atau singgahan yang tak diduga-duga. Nah, belokan-belokan ini mirip dengan satu permainan yang biasa saya mainkan dengan murid saat pergantian materi pelajaran. Wikiwar namanya.
WikiWar mungkin terdengar asing bagi sebagian orang. Sederhananya, permainan ini dimainkan di Wikipedia. Kita diminta memulai dari satu artikel, lalu harus mencapai artikel tujuan hanya dengan mengklik tautan-tautan yang tersedia di dalam teks. Tidak boleh mengetik langsung di kolom pencarian, hanya klik link satu per satu. Contohnya, start dari artikel “Kopi” dengan target “Albert Einstein”. Dari Kopi bisa menuju Minuman, lalu Budaya, terus ke Sains, hingga akhirnya tiba di artikel Einstein. Pemenangnya bisa ditentukan dari siapa yang paling cepat atau siapa yang menggunakan klik paling sedikit. Sekilas tampak remeh, tapi di balik kesederhanaannya, WikiWar menyimpan makna yang bisa kita tarik ke dalam kehidupan sehari-hari.
Mengapa permainan ini menarik? Karena WikiWar menunjukkan bahwa pengetahuan itu saling terhubung. Tidak ada artikel yang berdiri sendiri; semua punya jalan menuju artikel lain. Sama halnya dengan kehidupan kita. Tidak ada pengalaman yang benar-benar terpisah. Apa yang kita lakukan hari ini, sekecil apa pun, bisa membuka jalan untuk besok. Seorang santri yang awalnya hanya ingin bisa membaca kitab, bisa saja di tengah jalan belajar sabar dari aturan asrama, belajar disiplin dari jadwal shalat berjamaah, bahkan belajar berdagang dari kantin. Tujuan awal tetap penting, tapi jalur yang ditempuh sering kali jauh lebih kaya daripada yang dibayangkan.
Orang tua bijak di kampung sering mengingatkan, “Hidup ini bukan jalan tol, tapi jalan ke Lamno.” Maksudnya, penuh tanjakan, turunan, dan tikungan. Kalau kita takut berbelok, kita akan terjebak di tempat yang sama. Dalam WikiWar, klik yang kita pilih bisa terasa tidak berhubungan, tapi siapa tahu justru itulah jalan tercepat menuju tujuan. Begitu juga dengan hidup: kadang kita menerima tugas kecil, pekerjaan remeh, atau jalan memutar, tapi justru dari situlah terbuka pintu ke peluang besar. Kuncinya adalah berani melangkah, bukan menunggu jalur lurus yang tidak pernah ada.
Lihat saja seorang pemuda yang ingin jadi ustaz. Ia mulai dari mengajar anak-anak kecil mengaji di kampung. Dari situ ia dikenal, lalu dipanggil ke meunasah, kemudian ke kampus, hingga akhirnya menjadi penceramah yang dihormati. Kalau sejak awal ia menolak karena merasa mengajar anak-anak terlalu sepele, mungkin jalur itu tidak akan pernah terbuka. Sama seperti pemain WikiWar yang menolak klik tautan sederhana, ia bisa kehilangan kesempatan sampai ke artikel tujuan. Hidup menuntut keberanian untuk mencoba, meski jalannya tampak kecil atau remeh.
Dalam pandangan Islam, ulama besar seperti Imam al-Ghazali menekankan pentingnya keberanian mengambil langkah. Beliau mengatakan, ilmu itu seperti lautan luas, dan orang yang ingin menyeberang harus berani masuk ke air. Kalau hanya berdiri di tepi pantai, takut basah, ia tidak akan pernah sampai ke seberang. Analogi ini sangat pas untuk menggambarkan WikiWar. Artikel tujuan sudah jelas, jalan ada, tapi keberanian mengklik tautan berikutnya yang menentukan apakah kita sampai atau tidak. Hidup pun demikian: Allah menyediakan banyak pintu, tetapi kita harus berani mengetuknya.
Hal lain yang menarik dari WikiWar adalah jalurnya yang sering tak terduga. Dari Kopi bisa sampai ke Einstein, dari Sepak Bola bisa sampai ke Matematika. Jalurnya kadang aneh, tapi nyata adanya. Begitu juga hidup: ada orang kuliah hukum, tapi rezekinya justru di dunia penulisan. Ada yang belajar teknik, tapi akhirnya menjadi pengusaha kopi. Jalurnya tampak menyimpang, tetapi justru itu yang mengantarkan mereka pada rezeki masing-masing. Ulama Aceh sering berkata, “Rezeki itu punya alamat, tapi jalan menuju alamatnya tidak selalu lurus.” Artinya, kita harus siap menerima jalur aneh sekalipun, karena bisa jadi itu jalan terbaik dari Allah.
Jadi, mari kita tanya diri sendiri: sudahkah kita berani klik artikel berikutnya dalam hidup kita? Jangan sampai kita terlalu lama berhenti di satu halaman, terlalu takut pindah ke babak baru. Hidup tidak pernah linear, tapi justru di situlah keindahannya. Seperti WikiWar, yang penting bukan hanya siapa tercepat sampai ke tujuan, tapi siapa yang konsisten melanjutkan klik, meski jalannya penuh kejutan. Karena pada akhirnya, yang berani melangkah itulah yang akan sampai. nyanban
