Udaranya masih sama
Angin pesisir tetap berdesir
seperti waktu itu
Tapi, haluan nahkoda kini berpaling
Petuah Endatu sudah tak bersemayam
Uluran tangan masa silam terlupakan
Ingatanmu tentangku sudah redup
Negeri sudah makmur
berbalut emas
Dekapku kau lupa
Penjajah lari terbirit-birit
Kau datang dengan menggamit
Pelanggaran masih berseliweran
Kau berdalih efisiensi anggaran
Tambang tak mengapa menjulang
Udara dan air
toh juga tak tercemar
Masih tertakar kah ikrarku
yang dulu sempat mengakar?
Jangan kau lupa
siapa yang pernah kau sapa
Kini sapamu berujung sapu
Diriku kau leburkan jadi satu
Bersampingan denganku
kau anggap persimpangan
Tercebur hanyut dalam pusaramu
Peringatan semakin berlalu
Perjanjian kita juga hampir semu
Seperti tamu asing saja
Mampir sebentar
sekedar melepas dahaga
“Sebentar ya,
sedang diusahakan!
Doakan saja”
SEMOGA tanah hitammu
masih mengundang cangkul
Emas di perut bumimu
belum habis kami cungkil
Sedang aku merambat pelan
di antara janji dan lupa
Harapku pada MOU yang membelit
Masih kau apit
walau tanpa jerit
Sampai kapan
aku hanya jadi gema
di telinga yang pekak?
DJA/September/2025
