Ikan Yang Terselip di Antara Kejujuran dan Kecurangan

Salah satu cerpen pemenang Librofest 2025, oleh: Fikri Muzaki (Murid XII-MIA I)

Suasana di Dayah Jeumala Amal pagi itu cukup berbeda dari biasanya. Udara segar menyelimuti seluruh area pesantren, dan para santri mulai beraktivitas dengan penuh semangat. Namun, ada tiga pemuda yang sedang merencanakan sesuatu yang tidak biasa di ruang belakang dapur, mereka adalah Syarif, Mujek, dan Zahri. Tiga sahabat yang seringkali mendapat julukan “At-Talami” di kalangan santri lain.

Makan pagi di DJA cukup sederhana, tapi bergizi. Ada nasi, sayur, dan lauk berupa ikkan yang dimasak dengan bumbu khas Aceh. Namun, ketiganya merasa bahwa lauk pagi itu terlalu sedikit terutama ikan yang hanya disajikan dalam porsi sangat terbatas menurut mereka.

“Saya rasa ikan itu belum cukup buat kita bertiga”, kata Zahri.

“Bagaimana kalau kita ambil sedikit lagi ikannya, pasti ngak akan ada yang tahu, kan?” ujar Mujek sambil melirik ikan-ikan yang terletak diatas meja makan khusu untuk Ustad. Akan tetapi Zahri ragu.

“Tapi itu kan ruang makan khusus untuk Ustad, Mujek. Gimana kalau kita ketahuan, repot kita nanti”.

Syarif yang paling cerdik diantara mereka semua mencoba untuk menenangkan situasai.

“Tenang saja kawan. Kan kita cuma ambil sedikit! Ngak ada yang bakalan curiga kok!!”. Dengan intonasi menjanjikan perkataan Syarif sangat mereka perlukan di situasi saat itu. Kemudian Syarif menimpali, “Kawan, lagi pula aku ini ahli dalam bidang ini, dan kita belum makan banyak. Ya kan?”

Sepakatlah “At-Talami” ini. Ketiganya mulai berjalan menuju ruang makan Ustad. Mereka tahun bahwa Bang Haikal yang memang bertugas mengawasi makanan, sedang sibuk di bagian lain. Dengan hati-hati mereka membuka pintu ruang tersebut. Mereka melihat meja yang penuh dengan lauk enak. Disisi meja, beberapa ikan goreng tersisa dan tentu saja sambal khas dapur Jeumala. Berbinar-binar mata ketiganya.

“Hehe! Ini kesempatan kita”. Syarif berkata dan tanpa banyak bicara ketiganya mulai beroperasi. Lauk-lauk itu diambil dan dikondisikan sedemikian rupa ke dalam piring mereka masing-masing.

Perlu diingat dan selalu menjadi perhatian kaum muda bahwa hari sial tidak ada di kalender. Waspadalah. Nah itulah yang terjadi kepada mereka. Nasib baik tidak berpihak ke mereka. Tanpa mereka sadari, Bang Haikal yang sedang membawa keranjang plastik penuh dengan nasi melintas di depan ruang makan dan melihat kejadian itu. Mereka sedang mencuri lauknya para Ustad.

Bang Haikal terhenti dan memperhatikan. “OOOIIIIIIIIIIIIIII!!!! BEK KAPLUNG!!!!!” teriak Bang Haikal. Suaranya menggelegar, sontak membuat seisi dapur yang luas membeku sejenak. Ketiganya sontak terkejut mendengar lolongan tersebut. Mereka mencoba menyembunyikan ikan-ikan yang sudah mereka gasak tadi, namun sudah terlambat. Bang Haikal langsung mengarahkan mereka keluar dari ruang makan.

Dengan tegas, Bang Haikal mulai mengeluarkan unek-uneknya.

“Ini ruang makan Ustad. Makanan disini bukan hak kalian!”. Mukanya menyeramkan sekali saat-saat seperti ini.

“Sekarang kalian bertiga ikut saya!!!”. Perintah Bang Haikal.

Dengan langkah yang berat, mereka mengikuti beliau menuju ruang makan santri, tempat dimana semua santri biasa makan. Disana, mereka harus menghadapi Ustad Saif yang sudah menunggu dengan wajah tidak kalah menyeramkan dengan Bang Haikal. Kalau kita perhatikan lama-lama Ustad Saif ini, semua hal jadi serius entah kenapa.

Bang Haikal mendekat kearah Ustad, kemudian membisikkan sesuatu. Mulai dari sini, Ustad Saif ambil alih.

“Saya dengar dari Bang Haikal, kalian mencuri ikan! Benar?”. Tanya Ustad Saif. Matanya menatap tajam dengan kacamata. Syarif yang biasanya pandai mencari alasan, kali ini ia terdiam. Zahri menundukkan kepala, sementara Mujek hanya bisa menggigit bibir.

Ustad tidak langsung mencela, ia menunggu mereka berbicara sebentar. Ustad memberi kesempatan bagi mereka.

“eh, apa yang kalian cari dengan mencuri makanan yang bukan hak kalian? Kalian tahu kan? ini bukan hanya soal ikan, tapi juga soal kejujuran!!”. Suara Ustad menyeruak masuk telinga mereka.

Syarif akhirnya angkat bicara. “Kami….. kami lapar, Ustad!! Tapi kami salah, kami nggak seharusnya mengambil tanpa izin”. Mendengar itu, Mujek menambahkan, “Kami kira tidak akan ketahuan, Ustad. Kamu hanya ingin makan lebih kali ini!”. Zahri hanya menunduk malu, ia berucap, “Kami.. Kami mohon maaf Ustad!”.

Ustad menghela napas. “Disini bukan hanya ilmu agama yang kami ajarkan, yang lebih penting adalah membentuk karakter kalian. Kejujuran itu lebih berharga daripada nasi yang kalian ambil kepercayaan itu bukan barang murah yang dipermainkan begitu saja”.

“Kami mohon maaf, Ustad! Apa yang dapat kami lalukan untuk menebus kesalahan kami?” tanya Syarif, ia terlihat sangat cemas. Ustad tersenyum simpul. Kemudian berkata, “Hal pertama yang harus kalian lakukan adalah mengakui kesalahan kalian dan meminta maaf kepada semua santri disini. Setelah itu, kalian akan membantu Bang Haikal membersihkan dapur dan menata makanan dengan baik dan rapi. Semoga menjadi pelajaran berharga bagi kalian untuk tidak mengulangi lagi perbuatan yang salah!!”.

Zahri merasa sangat menyesal.

“Saya berjanji kepada diri saya sendiri tidak akan mengulangi hal memalukan seperti ini, Ustad! Ya kan? kalian juga berjanji kan?”. Syarif dan Mujek mengangguk tanda setuju dan berkata, “Terimakasih atas pelajaran berharga hari ini Ustad!”.

Hari itu di tengah ruang makan, mereka meminta maaf dengan rasa tulus kepada semua santri. Mereka berdiri dan menyematkan tangan kanan di dada, dan berkata dengan suara lantang.

“Tolong maafkan kami atas perbuatan yang tidak baik dan tidak pantas untuk ditiru!!!”.

Setelah itu, mereka pun melaksanakan tugas membersihkan dapur dengan semangat dan penuh tawa. Meski lelah mereka merasa lega karena telah belajar sesuatu yang sangat berharga.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *