Sebuah Alegori oleh: Muhammad Nizarullah
Ada yang aneh dari bangunan tua itu.
Dari luar, gedung bercat putih dengan deretan lengkungan tinggi itu tampak seperti bangunan kolonial biasa. Salah satu dari ratusan peninggalan Belanda yang masih berdiri kokoh di Jakarta, menghadap jalan yang sekarang hiruk-pikuk oleh pedagang kaki lima yang berjejeran di sepanjang jalan di depan gedung itu. Mata saya menyapu ke sepanjang gedung yang tertutupi oleh dinding bercat putih. Tepat pada penjual es krim keliling, langkah saya terhenti untuk sekedar menikmati es krim sambil menatap gedung itu lamat-lamat. Di balik dinding yang tebal itu, tersimpan masa lalu yang pelik. Tapi, begitu kaki melangkah masuk, sesuatu berubah. Udara terasa berbeda. Lebih berat. Lebih penuh.
Mungkin itu hanya sugesti. Atau mungkin memang ada semacam beban sejarah yang bersemanyam di tempat-tempat seperti ini. Beban yang tak bisa sepenuhnya dilukis dengan cat ulang atau diganti dengan papan informasi bergambar. Museum Kebangkitan Nasional, atau yang lebih dikenal dengan nama lamanya, STOVIA, menyimpan jutaan peristiwa yang pelik. Dan kini, ia menjadi saksi atas semua peristiwa sejarah.
Hari itu, tanggal yang sama dengan hari ini (20 Mei), di tahun yang berbeda, sudah saya tinggalkan jejak langkah di museum itu, saksi bisu yang merekam semua peristiwa yang pernah terjadi di masa lampau.
Dari Nusantara ke Hindia Belanda
Perjalanan dimulai jauh sebelum gedung ini ada.
Di salah satu sudut museum, sebuah panel hijau toska menampilkan peta dunia bergaya antik. Kapal-kapal layar tersebar di samudra, kompas mengembang di tengah lautan. Di atasnya, sebuah judul sederhana: Dari Nusantara ke Hindia Belanda.
Kata Nusantara, demikian panel itu menjelaskan, lahir dari dua suku kata: nusa — pulau, dan antara — luar, seberang. Ia adalah nama untuk gugusan kepulauan yang membentang di antara dua benua. Bangsa Eropa mengenalnya lebih dulu sebagai Hindia, kemudian Hindia Timur, sebelum Belanda memenangkan persaingan dan membaptisnya ulang menjadi Nederlandsch Indië — Hindia Belanda. Sebuah penggantian nama untuk menyatakan kedaulatan kerajaan di tanah jajahan. Menandakan kekuasaan penuh dimiliki oleh negara kincir angin itu.
Di panel berikutnya, kisah itu dilanjutkan. Penjelajahan Samudra. Portugis dan Spanyol memimpin, kemudian Inggris dan Belanda menyusul. Semua didorong oleh semangat yang sama: Gold, Glory, Gospel — kekayaan, kejayaan, dan keagamaan. Mereka membagi dunia lewat Perjanjian Tordesillas, menarik garis khayal dari kutub ke kutub, dan Nusantara — dengan rempah-rempahnya yang harum, dengan tanahnya yang subur — berada tepat di tengah rebutan itu.
Sebuah timeline sederhana merangkum tragedi yang berlangsung selama dua abad lebih: 22 Juni 1596, Cornelis de Houtman mendarat di Banten. 20 Maret 1602, VOC berdiri, sebuah kongsi dagang yang lebih mirip negara. 31 Desember 1799, VOC bangkrut karena korupsi yang merajalela di kalangan pegawainya. 1 Januari 1800, Kerajaan Belanda mengambil alih dan mendirikan Pemerintahan Hindia Belanda langsung, dengan seorang Gubernur Jenderal sebagai kepala. Garis waktu yang terasa begitu dingin jika dibaca cepat, tapi di dalamnya tersimpan penderitaan yang tak terhitung jumlahnya.
Dan di tengah ruangan itu, seolah baru saja berlabuh dari lautan nan jauh, berdiri sebuah replika kapal. Bukan kapal kecil. Ia menjulang lebih tinggi dari orang dewasa pada umumnya. Galleon kayu bertiang empat dengan layar putih kekuningan yang seolah masih menangkap angin, dipenuhi tali-temali yang kusut dan meriam-meriam kecil yang mengintip dari lambungnya. Bendera merah-putih-biru Belanda berkibar di ujung tiangnya. Di bawahnya, ombak besar dari triplek dan cat hijau kebiruan, menggulung dramatis, seolah masih menghempas lambung kapal itu.
Inilah kapal yang mengubah dunia. Atau setidaknya, mengubah dunia kita. Kapal-kapal jenis ini yang oleh bangsa Belanda disebut fluit atau galeon. Sebuah mesin penakluk samudra abad ke-17. Ringan untuk ukurannya, mampu membawa muatan besar, dan cukup bersenjata untuk menghadapi perompak maupun pesaing. VOC, kongsi dagang Belanda yang berdiri pada 1602, mengoperasikan armada kapal semacam ini dalam jumlah yang tidak pernah dimiliki kekuatan dagang manapun sebelumnya. Dalam satu dekade, mereka menguasai jalur rempah dari Banda hingga Maluku.
Saya berdiri di depannya cukup lama. Ada sesuatu yang mengganjal dari keindahan benda itu. Kapal yang dipajang dengan gagah, dengan lampu yang menyorotnya dari samping hingga serat-serat kayunya terlihat hangat dan megah. Indah, memang. Tapi di dalamnya tersimpan cerita tentang berapa banyak perahu-perahu nelayan yang pernah ia tenggelamkan, berapa banyak pelabuhan yang ia duduki, berapa banyak nyawa yang dipertukarkan dengan sekotak pala dan cengkeh.

Sekolah untuk Tujuan yang Keliru
Bertolak ke ruang berikutnya, warna berubah menjadi merah yang dalam.
Panel demi panel berkisah tentang sistem pendidikan masa Hindia Belanda. Judulnya langsung menghakimi: Diskriminatif. Anak-anak bumiputra diabaikan, kecuali mereka yang berlatar belakang bangsawan. Pendidikan dijalankan dengan tiga prinsip yang kejam: gradualisme — tidak memperhatikan pendidikan penduduk asli; dualisme — sekolah dibuat terpisah antara anak bumiputra dan anak pilihan; prinsip konkordansi — yang mempersulit anak bumiputra masuk ke sekolah pemerintah. Dan di balik semua itu, tujuan sesungguhnya tertulis tegas: mendapatkan pegawai dengan gaji murah.
Foto-foto hitam putih yang tergantung di sini — pelajar Sekolah Misionaris, kegiatan belajar anak pribumi, siswa Koning Willem School di Blitar, pelajar Hollandsch-Inlandsche School — semuanya menyimpan ironi yang sama. Anak-anak itu belajar bukan untuk menjadi bebas, melainkan untuk menjadi berguna bagi sistem yang mengeksploitasi mereka.
Tapi sejarah, sebagaimana yang akan kita temukan di ruang-ruang berikutnya, selalu menyimpan kejutan.
Sekolah Dokter yang Melahirkan Pejuang
Ada yang tidak diperhitungkan oleh pemerintah kolonial.
Ketika mereka mendirikan Sekolah Dokter Djawa pada abad ke-19 — pertama-tama di Rumah Sakit Militer Wetevreden, untuk mencetak tenaga medis bumiputra guna menangani wabah yang terus merebak di Pulau Jawa — mereka hanya berpikir tentang kebutuhan praktis. Gubernur Jenderal Duymaer van Twist khawatir dengan tingginya angka kematian yang mengancam produktivitas perkebunan. Dokter Willem Bosch mengusulkan sebuah ide kepada Raja Willem II: didirikan sekolah khusus untuk mencetak “dokter Jawa” dengan biaya 3.400 gulden. Raja menyetujui. Sekolah dibuka.
Siswa pertamanya hanya boleh dari Suku Jawa. Kemampuan membaca, menulis, dan berhitung menjadi syarat masuk. Mereka lulus membawa gelar Dokter Djawa. Bukan Dokter dengan D kapital yang setara, melainkan semacam dokter kelas dua, sesuai hierarki kolonial yang berlapis.
Tapi sekolah itu tumbuh. Pada 1902, Sekolah Dokter Djawa bertransformasi menjadi School Tot Opleiding van Inlandsche Artsen (STOVIA). Sekolah Dokter Bumiputra. Seleksinya ketat. Yang masuk adalah pemuda-pemuda terbaik dari seluruh penjuru Nusantara. Dan di sinilah pemerintah kolonial melakukan kesalahan yang tidak mereka sadari: mereka mengumpulkan otak-otak paling tajam dari bangsa yang sedang mereka jajah, lalu memberi mereka waktu, buku, dan ruang untuk berpikir.

STOVIA tidak hanya mengajarkan kedokteran. Di sini, ilmu budaya dan ilmu politik juga dipelajari. Para pelajar pergi ke lapangan. Blusukan, melayani pengobatan langsung kepada rakyat. Dengan mata kepala sendiri mereka menyaksikan penderitaan yang sesungguhnya. Mereka membaca buku. Mereka memantau berita. Dan semakin banyak yang mereka baca dan lihat, semakin besar pula pertanyaan yang tumbuh di dada mereka: Mengapa?
