Aroma Cinta dari Dapur Ibu

Sepercik Imajiner Oleh: Muhammad Nizarullah

Pagi datang dengan sunyi tanpa derap tapak yang mengganggu tidur nyenyak. Mentari masih enggan menampakkan wujudnya. Fajar masih tertutup malam yang mulai sedikit demi sedikit meninggalkan bumi. Waktu subuh sebentar lagi akan tiba memeluk hamba-hamba yang memulai hari dengan bersujud, tanda mensyukuri hidup yang masih tersisa di dalam dunia.

Usai subuh, seperti biasa burung-burung walet sudah bernyanyi membangunkan hamba-hamba yang masih pulas atau malas beranjak dari tempat empuk itu. Beberapa rumah tetangga sudah bunyi mesin bekerja. Rajin betul mesin itu, mengalahkan program manusiawi yang seharusnya sudah beranjak sebelum fajar menyingsing. Mesin itu mengolah kelapa menjadi santan. Aroma pulot dari rumah sebelah mulai tercium. Biasanya, Nek Yah selalu membawa pulot ke kedai-kedai kopi di dekat rumahnya. Pulot itu selalu saja habis dilahap bapak-bapak pencinta kafein sembari menikmati koran sebelum satu per satu menyusuri ladang atau persawahan.

Aroma nasi goreng khas rumahan sudah tercium dari ruangan favorit ibu. Iya, dapur adalah tempat paling favorit baginya. Kata ibu, dapur itu adalah dunianya. Ibu sering menghabiskan waktu luangnya bersama bahan dan alat yang ia racik sedemikian rupa. Entah, aku tidak tahu apa yang ibu racik setiap ia menyiapkan menu baru. Setiap endusan aroma dari dapur, selalu membuatku bertanya-tanya “menu apa hari ini?” Yang pasti, setiap racikan itu mengandung cinta di dalamnya yang tak mampu diplagiasi sesiapa. Sesekali, aku penasaran, bagaimana ibu memasak begitu enaknya di lidah siapa pun yang mencicipinya.

Baru kali ini aku memperhatikan sedetail mungkin bagaimana ibu mempersiapkan pertunjukan nasi goreng yang selalu saja membuat mataku terpejam beberapa detik, menikmati kelezatan yang tiada dua dibandingkan dengan nasi goreng yang dijual di pasar. Bahkan, tiada bandingan dengan nasi goreng mahal yang dijual di mal.

Minyak goreng menggelembung dalam wajan besi yang telah setia menemani ribuan masakan. Bawang merah dan bawang putih, duo yang tak pernah berpisah dalam dapur Indonesia, menari-nari dalam minyak panas. Aromanya meledak seperti pembukaan orkestra, mengundang seluruh indra untuk bersiaga. Cabai rawit merah, si kecil yang galak, bergabung dalam tarian ini. Nasi putih itu kemudian masuk, bertemu dengan bumbu-bumbu yang telah bersatu. Setiap butir mulai berubah warna, menyerap cita rasa yang kompleks. Suara gemericik wajan menjadi musik latar yang menenangkan, pertanda bahwa keajaiban sedang berlangsung.

Biasanya, ibu selalu saja menyajikan telur ceplok yang diolesi minyak bawang spesial buatan ibu; perpaduan minyak goreng dan bawang putih yang diguyur di atas telur ceplok, membuat telur yang terlihat biasa saja menawarkan aroma dan rasa yang menggugah dopamin dan meningkatkan semangat di pagi hari. Salah satu menu spesialku dalam daftar masakan ibu.

Pagi ini tidak seperti biasa, menu baru yang belum pernah kurasakan sebelumnya—telur yang dipadu dengan kelapa parut. Ketika campuran telur-kelapa ini dituang ke dalam wajan, keajaiban visual terjadi. Telur mengembang sambil membawa serta serpihan kelapa, menciptakan tekstur berlapis yang menggoda. Kelapa memberikan rasa gurih yang dalam dan aroma harum yang khas. Setiap gigitan menawarkan sensasi ganda—lembut telur dan tekstur kelapa yang memberikan dimensi rasa tersendiri.

“Ibu, ini telur apa? Kok beda dari biasanya?” tanyaku penasaran sambil mengamati campuran telur yang sedang matang di wajan.

“Oh, ini telur kelapa, Nak. Ibu dapat ide dari Nek Yah pas ngobrol kemarin. Kata beliau, ini cara lama nenek-nenek dulu masak telur. Dicampur kelapa parut biar gurih,” jawab ibu sambil terus mengaduk-aduk dengan spatula kayu kesayangannya.

“Wah, harum banget Bu. Aromanya beda dari telur ceplok biasa.”

Ibu tersenyum bangga. “Nah, makanya ibu suka bereksperimen. Masakan itu seperti lukisan, harus ada sentuhan baru biar tidak membosankan.”

Belum selesai dengan pertunjukan itu, ibu dengan antusias membawa secubit terasi di atas cobek batu yang permukaannya telah halus karena ribuan tumbukan. Terasi bakar, cokelat kehitaman dengan aroma laut yang menyengat, menjadi fondasi. Aromanya mungkin mengejutkan bagi yang tak terbiasa, tetapi bagi lidah Indonesia, ini adalah simbol keaslian rasa. Terasi ini diulek bersama cabai rawit merah yang bersemangat dan cabai keriting merah yang memberikan warna cerah. Bawang merah, tomat merah yang matang sempurna, dan sedikit garam bergabung dalam tarian ulek-mengulek. Setiap tumbukan cobek menciptakan harmoni rasa—pedas cabai, gurih terasi, segar tomat, dan harum bawang merah. Dipadukan dengan perasan jeruk nipis di ujung memberikan sentuhan asam yang menyegarkan, seperti titik terang dalam lukisan yang membuatnya hidup.

“Ibu bikin sambal terasi lagi?” tanyaku sambil melihat ibu yang sedang asyik mengulek.

“Iya, Nak. Nasi goreng tanpa sambal terasi rasanya kurang lengkap. Ini seperti lagu tanpa melodi,” kata ibu sambil terus mengulek dengan ritme yang teratur.

“Boleh aku coba sedikit, Bu?”

“Hati-hati, pedas loh. Tapi coba aja sedikit di ujung sendok.”

Aku mencoba sambal terasi yang masih hangat itu. Pedas memang, tapi ada rasa gurih dan segar yang langsung menggugah selera.

“Enak banget, Bu! Ini yang bikin masakan ibu selalu istimewa ya?”

Ibu tertawa lembut. “Bukan cuma sambel, Nak. Yang terpenting itu niat dan cinta saat masak. Kalau masak dengan hati, rasanya pasti berbeda.”

Ketika semuanya siap, ibu menyajikan nasi goreng di piring keramik putih sederhana. Warnanya cokelat keemasan dengan taburan daun bawang. Telur kelapa yang mengembang cantik diletakkan di samping, dan sambal terasi dalam piring kecil terpisah memancarkan aroma yang menggoda.

“Selamat menikmati sarapan istimewa hari ini,” kata ibu sambil duduk di sebelahku.

Suapan pertama langsung membuat mataku terpejam. Rasa nasi goreng yang gurih berpadu dengan tekstur unik telur kelapa, ditambah sensasi pedas segar dari sambal terasi—semua bersatu dalam harmoni yang sempurna.

“Bu, ini enak banget. Rasanya beda dari nasi goreng kemarin,” ucapku tidak bisa menyembunyikan kekaguman.

“Alhamdulillah kalau kamu suka. Ibu senang kalau masakan ibu bisa membuat anakku bahagia,” jawab ibu dengan mata berbinar.

“Kapan-kapan ajari aku masak kayak gini dong, Bu.”

“Tentu saja. Nanti kalau kamu sudah berumah tangga, kamu bisa masak untuk keluargamu sendiri. Masakan dengan cinta itu akan selalu diingat, Nak.”

Pagi itu, di tempat favorit ibu bereksperimen, ditemani masakan Istimewa yang dimasak dengan cinta oleh orang teristimewa, aku belajar bahwa kebahagiaan sejati seringkali ditemukan dalam momen-momen kecil seperti ini—sarapan bersama ibu dengan masakan penuh cinta yang tak akan pernah terlupakan. Aku pasti rindu masa-masa ini saat aku dewasa.[]

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *