Oleh: Tanzilal Akbar (Murid Kelas IX B)
Makna dari judul di atas adalah menjadikan para pemuda sebagai tempat dimana bangsa dan negera memercayakan kemajuan mereka. Pemuda adalah generasi muda yang terus tumbuh di dalam suatu bangsa yang dapat menentukan masa depan negeri dan bangsanya. Di sini, para pemuda sangat berperan penting, karena masa depan kita bergantung besar kepada mereka. Namun, kenyataannya para pemuda justru menajdi faktor besar keruntuhan. Banyak dari mereka yang melakukan berbagai kelakuan yang telah dilarang, baik oleh negara maupun agama.
Ir. Soekarno sendiri pernah berkata sebagai seorang pemimpin yang pertama. “Berikan aku sepuluh pemuda, niscaya akan aku angkat gunung semeru dari akarnya. Namun, berikan aku sepuluh pemuda, niscaya akan aku guncangkan dunia,” begitulah ungkapannya. Dalam ucapan Soekarno sendiri telah tersirat betapa besarnya peranan para pemuda di dunia, apalagi bagi negaranya. Tidakkah kita sebagai seorang pemuda maupun pemudi malu dengan apa yang telah kita perbuat terhadap negeri dan bangsa? Padahal, mereka sudah berharap banyak kepada kita, agar dapat membawa negara kearah kemajuan yang benar-benar merdeka.
Bukan hanya pemuda yang berperan disini, namun juga para golongan tua ikut hadir untuk membantu. Baik orang tua pendidikan maupun orang tua kandung yang lebih berharap kepada anak mudanya. Guru sebagai orang tua dari segi pendidikan harus benar-benar mendidik pemuda tentang kepositifan dan menjaga mereka agar jauh dari hal yang dapat dikategorikan melanggar, baik untuk diri pemuda itu sendiri dan bangsanya. Tidak mungkin seorang guru membiarkan anak jajarannya menjangkau area pelanggaran. Maka dari itu, apabila seorang penuntut ilmu melakukan kesalahan yang merugikan diri dan bangsanya, guru wajib ikut campur dengan sikapnya tersebut.
Sebagai orang tua kandung, mereka akan selalu bertanggung jawab dan akan tau dengan apa yang telah kita perbuat diluar sana. Mereka telah mendidik kita sejak buaian. Dan yang membuat orang lain bertanya “Bagaimana orang tuanya mendidiknya?” ketika mereka melihat karakter dan perbuatan kita. Tidakkah kalian malu dan marah ketika orang yang telah melahirkan, mendidik, dan menghidupi kalian tanpa mengenal kata putus asa dipandang dengan sebegitu buruknya oleh orang lain? Namun, tahukah kalian mengapa mereka menilai orang tua kita seperti itu? Karena apa yang kita perbuat akan mencerminkan bagaimana orang tua kita mendidik, meski bukan itu kenyatannya.
Karena itu juga, para pemuda dapat dikatakan cermninan negeri. Bagaimana para pemuda pemudinya, begitu juga negaranya. Maka, sadarlah wahai para pemuda kebanggaan bangsa. Berubahlah sebelum semuanya terlambat. Otot-otot dan pemikiran kalian yang masih sehat, akan lebih mudah membawa kalian ke arah perubahan menuju kemajuan yang dapat membuat sisi negeri dan bangsa merasakan apa yang dinamakan dengan kemajuan, kenikmatan hidup, serta buatlah dirimu merasakan kenikmatan menuntut ilmu dimasa depan.
Memang, perubahan tak akan datang dengan sendirinya. Oleh karena itu, Allah Swt. Tuhan yang maha esa berfirman “Tak akan kuubah suatu kaum, sebelum mereka merubah dirinya sendiri.” Dengan demikian, usaha kita sendiri sebagai seorang pemuda yang akan menentukan nasib negara, bangsa beserta dunia, haruslah memulai perubahan itu dari jati diri kita sendiri. Sudah diungkapkan oleh orang tua pendidik kita bahwasanya “usaha dari diri sendiri adalah 75% dari menuntut ilmu” yang akan membuat kita sebagai golongan muda bangsa ini sadar bahwa awal dari sebuah perubahan menuju kemajuan adalah diri sendiri.
Banyak para pemuda yang ikut-ikutan dalam pergaulan bebas. Mengapa tidak bergaul dalam menuntut ilmu dan membawa diri ke arah yang lebih baik? Malah para pemuda melakukan hal-hal dan perbuatan yang dilarang hukum negara dan hukum agama. Oleh karena itu, negara ini sedang mengalami keruntuhan, yang nantinya juga akan berdampak pada kita sebagi para pemuda itu sendiri. Hal ini benar-benar akan terjadi jika terus berlangsungnya keruntuhan. Namun, mengapa kita sebagai pelaku dan korban masih berbuat kenegatifan? Karena otak kita telah dicuci oleh alat teknologi ciptaan manusia.
Ponsel yang diciptakan oleh manusia sendiri dengan tujuan agar mempermudah kehidupan menuju kemajuan, malah kita gunakan dengan tujuan merusak diri kita sendiri. Sehingga, akhirnya akan ikut berdampak pada bangsa dan negara. Maka, mulailah kita sebagai ladang harapan bangsa dan negara harus menguatkan dan mengkokohkan segala pendirian kita yang akan berjasa bagi bangsa suatu saat nanti. Meski akan ada banyak rintangan, kalian anak-anak muda pemaju bangsa harus teguh dan kuat dengan apa yang telah kita putuskan sendiri.
Apabila pendirian kalian memang sudah tak mampu lagi kalian kuatkan dan kalian kokohkan, maka ingatlah semua yang telah berharap dan berjuang kepada kalian! Orang tua yang pantang putus asa demi kalian, orang yang tak ingin kalian menderita, yang rela membanting tulangnya hanya demi anaknya agar tidak kelaparan, dan guru yang telah mendidik kalian dengan seikhlasnya yang memberikan ilmu sebagai bekal kalian di dunia nanti dan di akhirat. Ingatlah, bangsa dan negara yang telah berharap banyak kepada kalian, mulai dari golongan tua hingga anak-anak, apakah kalian benar-benar ingin membuat hati mereka semua hancur?
Pertanyaan diatas tidak bisa dijawab dengan kata-kata saja wahai para pemuda dan pemudi negeri. Namun, jawablah dengan perbuatan kalian tentang apa yang akan kalian ubah kedepannya. Kearah mana perubahan yang akan kalian bawa. Bagaimana keteguhan kalian dalam memperjuangkannya dan mempertahankannya. Lidah dan mulut yang mengucap kata “aku akan berubah” hanyalah sebagai bualan yang tidak ada gunanya. Namun, jika memang kalian ingin bualan itu berubah menjadi ucapan yang akan merubah seisi negeri, maka ubahlah dengan mengucapnya menggunakan aksi kalian menuju kemajuan.
Jangan pernah berpikir bahwa ini sudah terlambat. Orang tua yang marah dan guru yang kecewa, bukanlah makna mereka tidak ingin dirimu ada. Namun, ucapan itu adalah bentuk bahwa mereka ingin berkata “berubahlah”. Jadikan ucapan itu sebagai tali licin yang harus kalian gunakan untuk menuju puncak, bukan rantai besi yang akan menarik kalian semakin kedalam suatu kehampaan yang gelap dan suram. Jadi, jangan pernah berpikir dan beranggapan bahwa “aku tak berguna” wahai para cahaya penerang bangsa.
Ingat! Kalian adalah ladang dimana bangsa menanam benih harapan kemajuan. Kalian adalah pemaju bangsa. Kalian adalah cerminan orang luar dalam menilai negeri ini. Kalian adalah cahaya penerang. Dan kalian adalah pemaju Indonesia suatu saat nanti. Tanamkan semua simbol kebaikan ini dalam jati diri kalian. Jangan pernah putus asa dengan pendirian kalian wahai pemuda pemudi, generasi yang akan membuat bangsa ini menuju ke arah yang lebih baik kedepannya.[]
