Oleh: Muhammad Nizarullah
Belakangan ini, sedang marak terjadi aksi demonstrasi di berbagai wilayah, terutama di Ibu Kota Jakarta. Salah satu tuntatannya adalah, banyaknya pejabat yang melakukan korupsi secara massal. Sempat terlintas dalam pikiran saya, jika uang yang dikorupsi itu digunakan untuk membantu generasi muda yang ingin melanjutkan pendidikan tinggi, tentu mereka bisa berkontribusi di negara sendiri dengan bekal ilmu yang sudah didapatkan, terutama di sektor pendidikan.
Hal paling krusial yang harus dimiliki oleh sebuah negara adalah tingkat pendidikan anak bangsa. Dari pendidikan, tata kelola negara lebih teratur, persaingan di tingkat global lebih masif. Alhasil, nama baik negara di tingkat internasional membuat ikatan antar negara lebih terjalin, pendapatan negara lebih tertata, terlebih masyarakat menjadi maju dalam berbagai sektor.
Semua aset itu bisa didapatkan dengan pendidikan yang layak dan berkualitas, tentu saja tanpa korupsi. Saya akan paparkan berbagai kasus korupsi besar yang pernah terjadi di negeri ini dan bagaimana jika uang yang dikorupsi tersebut digunakan untuk kepentingan pendidikan generasi bangsa. Dimulai dari korupsi Tata Niaga Timah sebesa Rp. 300 T, kasus pertamina Rp. 193,7 T, kasus BLBI 138 T, kasus Duta Palma Rp. 78 T, kasus TPPI Rp. 37,8 T, kasus Asabri Rp. 22,7 T, kasus Jiwasraya Rp. 16,8 T, kasus minyak sawit Rp. 12 T, kasus pengadaan Pesawat Garuda 9,37 T, kasus proyek BTS 4GRp. 8 T, dan masih banyak lagi kasus korupsi lainnya, jika kita telusuri lebih lanjut. Semua data itu sangat mudah kita temukan di berbagai platform media sosial, bahkan bertebaran di internet.
Bicara seandainya, uang yang dikorupsi tersebut dianggarkan untuk beasiswa agar anak-anak bangsa kita bisa melanjutkan kuliah di berbagai negara maju, kemudian pulang dengan bekal ilmu yang cukup. Apakah ini tidak membantu pertumbuhan negara sama sekali? Apakah negara kita tidak mengalami pertumbuhan ekonomi yang signifikan? Kuliahkan saja mereka di universitas ternama dunia, beri mereka beasiswa selama masa perkuliahan. Selesai study, kasih mereka kesempatan untuk membangun negeri dari berbagai sektor, sesuai dengan kemampuan dan ilmu yang sudah di dapatkan tentunya. Lihat kemajuan 10 tahun hingga 20 tahun mendatang. Terlalu lama? Tidak! Hanya dua periode Presiden. Tidakkah hal ini sempat terlintas di pikiran mereka yang rakus itu? Apa sebenarnya yang diperjuangkan mereka setelah kita pilih melalui pilkada?
Pendidikan adalah fondasi dari segalanya. Bayangin aja, tanpa pendidikan, bagaimana kita bisa membaca tulisan ini? Bagaimana kita bisa berpikir kritis tentang masalah-masalah di sekitar kita? Pendidikan itu ibarat mata air yang tidak pernah kering. Semakin banyak ilmu yang didapatkan, semakin jernih pula pandangan kita terhadap dunia. Bukan cuma soal hafalan rumus matematika atau menghafal nama-nama pahlawan, atau hanya sekedar mendapatkan nilai yang baik di rapor dan mendapatkan predikat cumlaude di perguruan tinggi. Tapi, pendidikan membentuk cara kita berpikir, berinteraksi, berkolaborasi, membentuk relasi dan memecahkan masalah dalam kehidupan sehari-hari.
Zaman sekarang, pendidikan sudah berkembang jauh dari sistem konvensional yang cuma fokus pada nilai akademis. Pendidikan yang baik itu seperti memasak rendang – butuh waktu, proses yang tepat, dan berbagai bumbu untuk menghasilkan rasa yang sempurna. Bumbu-bumbu itu adalah soft skills, kreativitas, kemampuan berkolaborasi, dan yang paling penting adalah karakter. Pendidikan karakter yang tumbuh dari hasil pembelajaran di ruang kelas dan lingkungan sekitar membuat pikiran tajam, mampu menganilisis permasalahan sosial yang terjadi belakangan ini.
Pendidikan mengajarkan kita pintar secara intelektual, pintar secara emosional dan tentunya pintar bersosial. Kita belajar menghargai perbedaan, bekerja dalam tim, dan memahami bahwa setiap orang punya keunikan masing-masing. Inilah yang membuat pendidikan jadi begitu powerful, dia tidak hanya mengisi kepala kita dengan informasi, tapi juga membentuk hati dan jiwa kita.
Sekarang kita hidup di era digital yang bergerak super cepat. Informasi bisa kita dapatkan hanya dalam hitungan detik melalui smartphone. Tapi di sinilah peran pendidikan menjadi semakin krusial. Bukan lagi soal berapa banyak informasi yang kita ketahui, tapi seberapa baik kita dalam memilah, mengolah, dan menggunakan informasi tersebut secara bijak. Adanya Artificial Inteligent menjadi bukti berhasilnya pendidikan bagi generasi bangsa di bidang teknologi.
Pendidikan modern harus mampu mempersiapkan kita menghadapi pekerjaan-pekerjaan yang mungkin belum ada sekarang. Bayangkan, 10 tahun lalu, profesi seperti content creator, data analyst, atau digital marketer belum sepopuler sekarang. Pendidikan yang adaptif dan future-ready yang sudah dikembangkan saat ini adalah kunci untuk survive di masa depan. Jika hal itu tidak diasah dengan baik melalui pengembangan pendidikan, bagaimana generasi kedepan tetap mampu bersaing di tingkat global? Tentunya dengan dukungan finansial dari pemerintah.
Alangkah baiknya jika pemerintah lebih masif lagi ikut andil dalam mengembangkan pendidikan bagi generasi bangsa. Tidak hanya menuntut kemajuan pendidikan melalui prestasi yang diukir oleh anak bangsa, tetapi juga ikut mendanai biaya pendidikan hingga ke luar negeri. Jangan takut soal kehabisan dana atau besarnya dana yang dikeluarkan untuk kemajuan pendidikan, tentu sangat sepadan dengan hasil yang dibawa pulang oleh mereka yang sudah mendapatkan ilmu setaraf pendidikan internasional. Apakah hal ini tidak pernah dilakukan oleh pemerintah? Tentu pernah. Tapi, belum sesuai antara keinginan anak bangsa yang kuliah ke luar negeri dengan quota yang disedikan pemerintah.
Apa Yang Bisa Kita Persembahkan Untuk Masyarakat?
Apa yang bisa kita persembahkan untuk masyarakat dengan bekal pendidikan yang kita miliki? Pertama-tama, kontribusi itu tidak harus selalu dalam bentuk yang bombastis. Kadang, hal-hal sederhana justru punya dampak yang lebih besar. Sebagai individu yang terdidik, kita bisa mulai dari lingkaran terdekat. Berbagi ilmu dengan adik-adik di sekolah atau di dayah, mengajarkan orang tua kita tentang teknologi digital, atau sekadar menjadi teladan dalam berperilaku yang baik di mana pun kita berada.
Dalam skala yang lebih luas, kita bisa memanfaatkan keahlian yang kita miliki untuk memecahkan masalah-masalah sosial. Misalnya, kalau kita jago teknologi, kenapa tidak membuat aplikasi yang bisa membantu petani mendapatkan informasi cuaca dan harga komoditas? Atau kalau kita ahli di bidang kesehatan, bisa membuat program edukasi kesehatan untuk masyarakat pedesaan. Jago nulis? paparkan aja kondisi sosial yang sedang dialami masyarakat. Perlawanan tidak melulu soal fisik, menulis juga bagian dari melawan ketidakadilan.
Satu hal yang sering terlupakan adalah pentingnya membangun relasi atau network. Pendidikan tidak hanya memberi kita ilmu, tapi juga mempertemukan kita dengan orang-orang yang memiliki visi serupa. Dari sinilah lahir kolaborasi-kolaborasi yang bisa menghasilkan inovasi dan solusi untuk berbagai permasalahan masyarakat. Bahkan, dengan relasi kita lebih mudah menjalankan visi dan misi kita bukan hanya untuk kehidupan pribadi yang baik, tapi juga untuk kepentingan masyarakat secara umum.
Ketika kita bekerja sama dengan orang lain, dampak yang bisa kita ciptakan akan jauh lebih besar daripada bekerja sendirian. Ini seperti efek domino – satu tindakan kecil bisa memicu perubahan yang lebih besar lagi.
Ingat, pendidikan adalah senjata untuk membangun masa depan yang lebih cerah. Semua kemajuan yang dicita-citakan berawal dari pendidikan, dan itu didapatkan dari pendidikan yang berkualitas. Pendidikan yang berkualitas dinilai dari kontribusi terhadap kepentingan masyarakat dan negara. Meminjam kata Tan Malaka, “Bila kaum muda yang telah belajar di sekolah dan menganggap dirinya terlalu tinggi untuk melebur dengan masyarakat yang bekerja dengan cangkul dan hanya memiliki cita-cita yang sederhana, maka lebih baik pendidikan itu tidak diberikan sama sekali.”[]
