Oleh Azmi Abubakar, Lc, M.H
Pengajar Sejarah Islam
Hubungan Aceh dan Melaka merupakan salah satu hubungan terpenting dalam sejarah rantau Melayu, membentuk jalinan panjang yang melintasi perdagangan, keilmuan Islam, hubungan diplomatik, dan perjuangan menentang penjajah Eropa. Kedua-dua negeri ini, yang muncul sebagai pusat utama di Selat Melaka, memainkan peranan besar dalam menentukan arah sejarah Nusantara sejak abad ke-15 hingga abad ke-17. Dalam hubungan yang panjang dan penuh dinamika ini, Aceh dan Melaka bukan saja saling melengkapi dalam perdagangan dan penyebaran ilmu, tetapi juga saling menguatkan dalam mempertahankan kemuliaan umat Islam walaupun pengaruh asing datang bertalu-talu. Kejatuhan Melaka ke tangan Portugis menjadi titik penting yang membawa Aceh bangkit sebagai hegemoni Islam selanjutnya. Dalam rangkaian sejarah ini, muncul tokoh-tokoh besar seperti Syekh Syamsuddin As-Sumatrani. Ulama asal India Selatan Syekh Zainuddin al-Malibari kemudian mencatat kegagahan Sultan Ali Mughayat Syah dalam mempertahankan akidah umat Islam di rantau melayu.
Pada abad ke-15, Melaka berkembang sebagai pelabuhan terbesar dan paling berpengaruh di Asia Tenggara. Dengan kedudukan strategis di antara jalur Laut Hindia dan China Selatan, Melaka menjadi tumpuan kapal dari Arab, Gujarat, Parsi, Turki Usmani, Bengal, Pasai, Pahang, Campa, Jawa, dan Cina. Kehebatan Melaka bukan saja adanya kekuatan perdagangan, tetapi juga karena sistem administrasinya yang tersusun, kepemimpinan sultannya yang bijaksana, dan masyarakat pelabuhan yang menerima kedatangan bangsa asing dengan adab yang tinggi. Pada masa inilah hubungan Aceh dan Melaka semakin kukuh. Aceh yang ketika itu masih berada dalam proses pembentukan sebagai kesultanan besar menjadi partner dagang terpenting Melaka. Pedagang Aceh membawa lada, kapur barus, sutera kasar, dan emas, sementara Melaka menjadi pusat pengedaran barang-barang dari luar seperti kain Gujarat, porselin Cina, dan rempah dari Maluku.
Hubungan ini memperkuat pertukaran intelektual, pergerakan ulama dan kitab menjadikan hubungan kedua negeri ini menjadi istimewa. Tradisi tasawuf Aceh yang kelak mencapai puncaknya pada abad ke-17 sudah mulai menyentuh Melaka sejak abad sebelumnya melalui jaringan ulama dan pedagang. Namun hubungan yang damai itu berubah sepenuhnya manakala Portugis menyerang Melaka pada tahun 1511. Melaka yang kala itu menjadi pelindung pedagang Muslim kini berubah menjadi pangkalan militer Eropa yang membawa agenda politik dan keagamaan. Bagi Aceh, kejatuhan Melaka telah menjadi ancaman terhadap keseluruhan umat Islam. Aceh memahami bahwa jika Melaka biarkan kekal dalam tangan Portugis, maka seluruh jalur perdagangan Islam akan dikuasai, dakwah Islam akan terhalang, dan nusantara ini akan jatuh ke dalam genggaman kuasa Eropa.
Di bawah pimpinan Sultan Ali Mughayat Syah, Aceh mulai memperkuat kemiliteran, mempersatukan negeri-negeri kecil di pesisir Sumatera, serta menegakkan struktur pemerintahan yang tegas. Sultan Ali Mughayat Syah terkenal sebagai sosok sultan yang tidak tunduk kepada tekanan Portugis dan menjadi pemerintah yang berani mengangkat senjata menentang kekuatan Eropa di wilayah Timur. Kebangkitannya diabadikan oleh ulama agung India Selatan, Syekh Zainuddin al-Malibari, dalam karya Tuhfatul Mujahidin. Dalam kitab tersebut, Syekh Zainuddin memuji Aceh sebagai negeri Islam yang pertama bangkit menahan gelombang penjajahan Portugis. Beliau menyebut bahwa Sultan Ali Mughayat Syah menunjukkan keberanian luar biasa dan kekuatan iman dalam mempertahankan umat Islam ketika ramai negeri lain di timur masih takut menghadapi Portugis yang memiliki teknologi kemiliteran yang maju. Menurut Syekh Zainuddin, perjuangan Aceh menjadi simbol sebuah tanggungjawab agama untuk menjaga keselamatan umat di seluruh Nusantara.
Mengikuti asas perjuangan Sultan Ali Mughayat Syah, kepimpinan Aceh diteruskan oleh sultan-sultan selepasnya yang semakin memperkuat kedudukan Aceh sebagai kesultanan Islam maritim. Pada zaman Sultan Alauddin Riayat Syah al-Kahar, Aceh menyerang beberapa pangkalan Portugis dan membina jaringan diplomatik dengan Turki Usmani untuk mendapatkan bantuan meriam dan pakar militer. Namun puncak kebangkitan Aceh tercatat pada zaman Sultan Iskandar Muda, ketika Aceh mencapai kegemilangan sebagai kuasa maritim dan ketenteraan terbesar di Nusantara.
Di bawah Iskandar Muda, Aceh menggerakkan armada raksasa untuk menjatuhkan Portugis di Melaka. Kapal perang Aceh sesetengahnya sepanjang lebih 40 meter dilengkapi meriam buatan tempatan yang terkenal kuat. Sejarawan Portugis sendiri mencatat bahawa meriam Aceh antara yang terbaik di Asia Tenggara. Pasukan Aceh yang dibawa ke Melaka berasal dari seluruh wilayah takluk, termasuk pasukan elit dari Pidie, Daya, Tamiang dan Aru. Dalam serangan besar ke Melaka, pertempuran sengit terjadi di pesisir pantai, benteng kota dan kawasan tinggi.
Seorang panglima dari Pidie yang memimpin serangan kepada Portugis di Melaka telah menjadi bukti betapa keberanian itu wujud. Meskipun kubu Portugis sangat kuat dan mendapat bantuan militer tambahan dari Goa serta teknologi meriam Eropa yang lebih modern, namun serangan Aceh meninggalkan pengaruh besar, menggetarkan Portugis dan menegaskan bahwa umat Islam di Nusantara tidak akan tunduk begitu saja.
Keseluruhan sejarah ini pada akhirnya memperlihatkan bahwa hubungan Aceh dan Melaka adalah hubungan dua pusat besar peradaban Melayu yang saling menguatkan. Kejatuhan Melaka menjadikan Aceh bangkit sebagai benteng kemuliaan dan agama. Perjuangan Aceh menentang Portugis telah menjadi jihad dalam mempertahankan kemuliaan Islam yang diakui oleh ulama besar seperti Syekh Zainuddin al-Malibari. Sementara itu, peranan panglima Pidie yang makamnya Bukit Cina memperlihatkan keberanian yang tidak gentar berhadapan kuasa besar Eropa. Dalam keilmuan pula, tokoh seperti Syekh Syamsuddin As-Sumatrani mengangkat Aceh sebagai pusat keilmuwan yang pangaruhnya menyebar hingga ke Tanah Melayu.
Hari ini kita dapat menemukan kembali hubugan yang baik itu, di Kabupaten Aceh Besar ada nama kampung Malaka, yang tentu memiliki keterkaitan sejarah yang erat dengan negeri Melaka Malaysia suatu masa dulu. Akhirnya, hubungan Aceh dan Melaka menjadi satu rangkaian sejarah yang membentuk identitas dunia Melayu Islam sebuah sejarah yang menggabungkan ilmu, perjuangan, perdagangan dan kemuliaan. Warisan itu tidak pernah mati dan tetap hidup sebagai inspirasi bahwa umat Islam di Nusantara pernah memiliki kekuatan besar yang membentengi agama, mempertahankan kebebasan, dan menguatkan peradaban yang dihormati di pentas dunia.
