Oleh Azmi Abubakar
Pengajar Sejarah Islam
Membaca sejarah keulamaan di Indonesia, nama Kiai Ahmad Mustafa Bisri atau disapa Gus Mus menempati posisi yang sedikit dimiliki banyak tokoh. Kekakhasan berdakwah yang ditempuhnya bertaut erat dengan seni, sastra, dan kebudayaan. Hubungan tersebut terlihat jelas manakala membaca kehidupan Gus Mus, berangkat dari lingkungan pesantren, trah keluarga yang menjaga keilmuwan, serta pengalaman intelektual lintas tradisi. Alhasil, seni dan budaya dalam diri Gus Mus menjadi wasilah dakwah dan jalan merawat nilai kemanusiaan.
Gus Mus lahir dari keluarga alim yang sejak generasi sebelumnya berada di dunia pesantren. Ayah beliau, Kiai Bisri Mustofa, dikenal sebagai ulama besar Rembang dan penulis produktif kitab-kitab berbahasa Jawa dan Arab Jawi. Sehingga lingkungan (biah) yang dekat dengan turats, syarahan keagamaan, dan tradisi sastra pesantren telah membentuk karakter Gus Mus sejak kecil.
Dalam perjalanannya, keilmuwan ini terus tumbuh seiring pengembaraan beliau ke Al-Azhar, Kairo. Di sini Gus Mus bersua dengan ragam mazhab pemikiran, tradisi sastra Arab klasik, serta perdebatan intelektual yang luas. Pengalaman di negeri Mesir mengajarkannya bahwa keislaman hidup dalam banyak tradisi budaya, selama nilai dasarnya terjaga. Dalam bukunya Gus Mus mengambarkan Agama kehilangan makna ketika tidak lagi menyentuh nurani dan kemanusiaan. (Ahmad Mustafa Bisri, Membuka Pintu Langit, Jakarta, Gramedia Pustaka Utama, 2004, h. 17).
Selanjutnya kaitan Gus Mus dengan seni puisi tumbuh sebagai bagian dari laku spiritual. Khas pusi Gus Mus selalu memunculkan bahasa sederhana yang meresap. Puisi baginya merupakan cara berzikir, menegur diri, dan mengingatkan manusia pada keterbatasannya. Dalam kumpulan puisinya, sering muncul ekpresi dialog dengan Tuhan, refleksi atas kesombongan manusia, dan kerinduan pada kesederhanaan hidup. Salah satu puisinya berbunyi:
Di tengah himpitan daging-daging doa di pelataran
rumahMu yang agung aku mengalirkan diri dan ratapku
(Ahmad Mustafa Bisri, Tadarus, Jakarta, AdiCita, 2003, h. 40)
Bagi Gus Mus pembacaan puisi menjadi ruang perjumpaan batin antara agama dan masyarakat. Dalam berbagai acara kebudayaan, peringatan hari besar Islam, hingga forum Nahdlatul Ulama, puisi Gus Mus dibaca dan dihayati maknanya.
Selain itu Gus Mus juga dikenal dalam mengekpresikan nilai kemanusiaan melalui lukisan. Aktivitas melukis telah menjadi ruang kontemplasi bagi dirinya. Lukisan-lukisannya banyak mengambil objek alam, wajah manusia, dan simbol-simbol keseharian. Filosofi melukis bagi Gus Mus berkaitan dengan kejujuran rasa. Tradisi seni tersebut menyatu dengan posisinya sebagai Kiai pesantren dan tokoh NU.
Gus Mus sering menekankan pentingnya menjaga tradisi, adab, dan akhlak. Ceramahnya banyak dibumbui sastra dengan banyaknya perumpamaan, kisah, dan humor mendalam. Dalam Tulisan-tulisan Gus Mus, baik esai, kolom, maupun pengantar buku, didapati banyak tema tema tentang kepedulian pada kehidupan sosial. Gus Mus sering mengingatkan tentang pentingnya merawat perbedaan (Ahmad Mustafa Bisri, Koridor: Renungan A Mustafa Bisri, Jakarta, Kompas, 2010, h. 105).
Kehidupan Gus Mus juga tidak dapat dipisahkan dengan Abdurrahman Wahid atau Gus Dur juga menjadi bagian penting dalam perjalanan intelektualnya. Keduanya lahir dari tradisi pesantren yang sama, mengalami pendidikan global, dan sama-sama memandang budaya sebagai jembatan dakwah. Gus Dur sering menyebut Gus Mus sebagai kiai yang memiliki kepekaan seni tinggi dan ketulusan pesantren. Gus Dur sendiri terus mendukung Gus Mus berdakwah dalam puisi sebagaimana disebut dalam buku Abdul Wahid, Karena Kau Manusia, Sayangi Manusia, Yogyakarta, Diva Press, 2018, h. 38.
Pengakuan terhadap Gus Mus juga datang dari ulama dan intelektual luar. Beberapa intelektual Timur Tengah yang mengenalnya menyebut Gus Mus sebagai contoh ulama Asia Tenggara yang berhasil memadukan tradisi dan humanisme. Dalam kajian tentang Islam Indonesia, Martin van Bruinessen menyinggung tokoh-tokoh NU yang mengedepankan pendekatan kultural, termasuk Gus Mus. (Martin van Bruinessen, Contemporary Developments in Indonesian Islam, Singapore, ISEAS, 2013, h. 64).
Kiprah Gus Mus memperlihatkan bahwa seni dan budaya menjadi bagian dari strategi kultural NU dalam merawat umat. Melalui puisi, lukisan, dan tulisan, Gus Mus telah menghadirkan wajah Islam yang ramah, teduh, dan moderat. Gus Mus mengajarkan bahwa keulamaan tidak kehilangan muruahnya ketika bersentuhan dengan seni. Gus Mus telah menapaki jalan dakwah yang unik dan berpengaruh. Puisi-pusi bertemakan keagamaan dapat ditemui dalam salah satu bukunya Negeri Daging, 2020.
Gus Mus mengingatkan santri dan anak muda agar tidak kehilangan kepekaan rasa di tengah ambisi. Dalam salah satu tulisannya, Gus Mus menegaskan pentingnya keseimbangan ilmu dan kebijaksanaan (Ahmad Mustafa Bisri, Koridor Renungan, Bandung, Mizan, 2010, h. 121). Gus Mus selalu mengingatkan kepada generasi muda agar terus menjadi manusia yang tahu arah, tahu batas, dan tahu cara memuliakan kehidupan.
