Sebuah cerpen oleh M. Ijaz Zuhair (Murid Kelas IX-1)
Hari pertama di sekolah baru selalu punya dua kemungkinan — menyenangkan atau menyiksa. Dan biasanya, kamu tidak akan tahu yang mana sampai hari itu benar-benar terjadi.
Namaku Ijaz. Aku pindah ke sekolah ini di awal semester dua, artinya semua orang sudah punya kelompok masing-masing sejak semester satu dan aku datang sebagai orang asing yang tiba di tengah-tengah cerita yang sudah berjalan.
Pagi itu aku masuk ke kelas dengan seragam yang masih terlalu kaku karena baru disetrika dan sepatu yang terlalu bersih dibandingkan sepatu semua orang di kelas. Guru memintaku berdiri di depan dan memperkenalkan diri.
“Andi,” kataku kepada kelas. “Pindahan dari Banda Aceh. Senang kenal semuanya.”
Tidak ada yang bersorak atau bertepuk tangan, tapi tidak ada juga yang terlihat tidak ramah. Wajah-wajah di depanku netral dengan cara yang belum bisa kutafsirkan.
Guru menunjuk bangku kosong di baris ketiga dari belakang — di sebelah seorang anak laki-laki yang sedang mencoret-coret sesuatu di buku tulisnya.
Aku duduk.
Anak di sebelahku itu menoleh sebentar, mengangguk pendek, lalu kembali ke coretannya. Aku melihat sekilas apa yang dia gambar — semacam karakter dengan rambut panjang dan jubah, dengan detail yang cukup rapi untuk ukuran gambar yang dibuat di sela pelajaran.
“Bagus,” kataku tanpa berpikir.
Anak itu menoleh lagi. Kali ini agak lebih lama.
“Makasih,” katanya. “Ijaz ya?”
“Iya.”
“Aku Zuhair.”
Zuhair dan aku ternyata punya banyak kesamaan — sama-sama suka membaca, sama-sama suka film dengan cerita yang kompleks, sama-sama tidak terlalu tertarik dengan olahraga tapi terpaksa ikut pelajaran olahraga karena wajib.
Kesamaan-kesamaan itu kami temukan satu per satu dalam percakapan-percakapan kecil selama beberapa hari pertama. Di waktu istirahat, di sela menunggu guru datang, di perjalanan ke kantin.
Sampai hari itu.
Waktu istirahat, kami sedang membahas film yang baru kami tonton masing-masing — Zuhair baru menonton film fiksi ilmiah tentang perjalanan antar planet, sementara aku baru menonton film drama tentang persahabatan.
“Film sci-fi itu lebih bagus,” kata Zuhair. “Ceritanya lebih dalam, efeknya lebih keren.”
“Film drama yang aku tonton juga bagus,” balasku. “Karakternya lebih manusiawi, lebih mudah dihubungkan sama kehidupan nyata.”
“Ya tapi sci-fi juga bisa begitu.”
“Bisa, tapi nggak semua sci-fi mau repot-repot di bagian itu.”
Percakapan yang mestinya ringan itu tiba-tiba punya nada yang berbeda. Aku tidak tahu kapan persisnya — mungkin ketika Zuhair mulai berbicara dengan cara yang terdengar seperti sedang membuktikan sesuatu, atau ketika aku mulai menjawab dengan cara yang sama.
“Kamu nggak mengerti sci-fi,” kata Zuhair akhirnya.
“Kamu nggak mengerti kenapa drama itu penting,” balasku.
Kami berdua diam.
Bel masuk berbunyi. Kami kembali ke kelas tanpa banyak bicara dan duduk di bangku masing-masing dengan jarak yang terasa lebih jauh dari sebelumnya meski posisinya sama.
Dua hari berlalu dengan awkward silence yang aneh. Kami tidak bertengkar secara terbuka — tidak ada kata-kata kasar, tidak ada perang dingin yang dramatis. Hanya percakapan yang tiba-tiba menjadi lebih pendek dan lebih formal.
Aku memikirkannya di malam hari dan menyadari sesuatu yang agak memalukan — aku bereaksi berlebihan terhadap perbedaan pendapat soal film. Film. Bukan sesuatu yang penting. Tapi aku membiarkan egoku berbicara lebih keras dari yang seharusnya.
Zuhair mungkin merasakan hal yang sama, karena di hari ketiga, waktu istirahat, dia duduk di sebelahku tanpa diminta.
“Aku overreact,” katanya langsung.
“Aku juga,” jawabku.
Diam sebentar.
“Filmnya bagus nggak?” tanya Zuhair.
“Bagus banget. Kamu yang sci-fi itu gimana?”
“Juga bagus. Ada satu adegan yang—” Zuhair berhenti. “Eh, mau cerita nggak atau malah jadi debat lagi?”
Aku tertawa. Dia ikut tertawa.
Dan dengan cara sesederhana itu, kami kembali ke titik awal — dua orang yang ternyata lebih mirip satu sama lain dari yang mereka kira, termasuk dalam hal sama-sama bisa keras kepala kalau sudah mempertahankan pendapat.
Sebulan kemudian, aku dan Zuhair punya rutinitas baru di waktu istirahat — kami bergantian merekomendasikan film kepada satu sama lain. Syaratnya hanya satu: setelah menonton, harus cerita ke yang lain, dan tidak boleh langsung menyimpulkan lebih bagus dari pilihanmu sendiri sebelum benar-benar mendengarkan penjelasan yang lain.
Aturan itu tidak selalu berhasil. Kadang masih ada perdebatan. Kadang masih ada momen di mana salah satu dari kami merasa pendapatnya tidak dihargai.
Tapi kami sudah punya cara untuk mengatasinya — berhenti sebentar, ambil napas, dan ingat bahwa yang sedang kami perdebatkan adalah film, bukan sesuatu yang lebih besar dari persahabatan yang baru saja kami bangun.
Dan ternyata itu sudah cukup untuk membuat persahabatan itu bertahan.
Di sekolah baru yang aku masuki sebagai orang asing di tengah cerita yang sudah berjalan, aku menemukan bahwa memulai persahabatan tidak butuh waktu yang lama. Yang butuh waktu adalah belajar bagaimana mempertahankannya.
Dan pelajaran itu, seperti banyak pelajaran penting lainnya, tidak datang dari buku.
Tapi dari pertengkaran kecil tentang film yang hampir merusak segalanya sebelum sempat dimulai.
