Sebuah teks Deskripsi pengalaman oleh Hafis Mubarak (Murid Kelas IX-5)
Sebagai salah satu seni budaya sekaligus warisan turun-temurun masyarakat Aceh, Top Dabôh memadukan tabuhan rapa’i, zikir, dan atraksi kekebalan tubuh. Kesenian ini menjadi salah satu budaya yang berkesan bagi masyarakat Aceh. Tidak semua seni budaya meninggalkan kesan yang mendalam bagi masyarakatnya, tetapi Top Dabôh merupakan salah satu kesenian yang menurut saya sangat menarik dan berkesan.
Saya pernah melihat langsung pertunjukan Top Dabôh. Dalam pertunjukan tersebut, terdapat seorang pemimpin atau pawang yang memimpin jalannya acara. Ia juga menguasai zikir-zikir tertentu yang dibacakan sebelum atraksi dimulai. Di sisi lain, sekitar delapan sampai sepuluh orang duduk sambil memainkan rapa’i untuk mengiringi pertunjukan.
Setelah membaca zikir-zikir tertentu, sang pemimpin mulai melakukan atraksi dengan diiringi tabuhan rapa’i. Ia melakukan berbagai atraksi yang terlihat menegangkan, seperti menusuk tubuhnya dan menggunakan pisau dalam pertunjukan tersebut. Atraksi itu membuat saya sangat terkejut karena terlihat berbahaya, tetapi pada saat yang sama saya juga merasa kagum dan tertarik karena pertunjukan tersebut sangat memacu adrenalin.
Saya melihat pertunjukan Top Dabôh ketika berusia sekitar sepuluh tahun, saat masih duduk di kelas empat SD. Pertunjukan tersebut berlangsung dalam acara MTQ di kampung saya. Saat itu, saya merasa sangat penasaran karena belum pernah melihat atraksi seperti itu secara langsung. Pengalaman tersebut membuat saya semakin mengingat Top Dabôh sebagai salah satu kesenian Aceh yang menarik.
Sampai sekarang, Top Dabôh masih menjadi bagian dari budaya masyarakat Aceh. Jika suatu saat saya kembali mengikuti acara MTQ di kampung dan pertunjukan Top Dabôh kembali ditampilkan, saya tentu ingin melihatnya lagi. Bagi saya, Top Dabôh bukan hanya sebuah pertunjukan, tetapi juga warisan budaya Aceh yang menarik untuk terus dikenal dan dilestarikan.
