Qasidah Isyfak Lana, Berharap Syafaat dari Baginda Nabi

Azmi Abubakar

Pengajar Sejarah Islam

Salah satu qasidah yang sangat populer di tengah masyarakat adalah qasidah isyfak lana, qasidah ini sering dibacakan dalam majlis salawat dan acara maulid Rasulullah Saw. Untaian kalimatnya penuh dengan makna dan pemintaan syafaat. Qasidah ini dimulai dengan:

 

يَارَسُــــوْلَ الله يَـا نَبِى يَـا نَبِى

Artinya: “Wahai Rasulullah, wahai Nabi.”

Panggilan indah ini seakan-akan pembacanya langsung berhadapan dengan Rasulullah, kemudian  dilanjutkan dengan kalimat penegasan bahwa Rasulullah adalah pemilik syafaat.

 

لَكَ الشَّفَا عَةْ وَهٰذَا مَطْلَبِى

Artinya: “Engkaulah pemilik syafaat, dan itulah tujuan ku wahai Nabiku.”

 

Dalam kitab Asy Syifa, Syekh Qadhi Iyadh  menyebutkan hadist tentang syafaat ketika menjelaskan  keutamaan Rasulullah dengan pemberian syafaah. Rasulullah Saw bersabda:

 

إن الناس يصيرون يوم القيامة جثى ، كل أمة تتبع نبيها ، يقولون : يا فلان اشفع لنا ، يا فلان اشفع لنا ، حتى تنتهي الشفاعة إلى النبي – صلى الله عليه وسلم المحمود . فذلك يوم يبعثه الله المقام المحمود

 

Artinya: “Sesungguhnya manusia pada hari kiamat jatuh berlutut, di mana setiap umat mengikuti nabi mereka. Mereka berkata, ‘Wahai fulan, berilah syafaat untuk kami. Wahai fulan, berilah syafaat untuk kami,’ hingga akhirnya syafaat itu berujung kepada Nabi  yang terpuji. Maka itulah hari ketika Allah membangkitkan beliau pada kedudukan yang terpuji” (Syekh Qadhi Iyadh, Asy-Syifa, Bita’rifi Huquq Al-Mushtafa, Dar Fikri, Kairo, 2002,  Jld. I, h. 251).

Dilanjutkan dengan penegasan bahwa Rasulullah adalah pengharapan umat  di hari akhirat kelak. Rasulullah sebagaimana disebutkan  menjadi rahmat bagi sekalian alam. Setiap permasalahan yang diadukan kepada  Rasulullah  semuanya  mendapat respon dan solusi dari beliau. tidak hanya itu Rasulullah juga menyelesaikan masalah umat hingga tuntas. Disebutkan:

 

اَنْتَ الْمُرْتَجٰى يَوْمَ الزِّحَــامْ

Artinya: “Kaulah harapan di hari kebangkitan”

 

Di hari kebangkitan dimana digambarkan bahwa umat manusia sangat memerlukan syafaat dari  Rasulullah Saw.  Dalam lirik selanjutnya adalah doa agar Rasulullah berkenan memberi syafaat:

 

اِشْفَـــعْ لَنَا يَا يَا خَيْرَالْاَنَامْ

Artinya: “berikanlah syafa’at bagi kami wahai sebaik-baik manusia.”

 

Lirik ini  turut menyebut Rasul sebagai sebaik-baik manusia, salawat ini mengulang kembali pemintaan agar Rasulullah  memberikan syafaat.  Ada kalimat indah selanjutnya bahwa Rasulullah adalah tempat berlindung.

لُذْنَــــا بِكَ يَـــا حَــبِيْبُ

 

Artinya: “Kami berlindung padamu wahai yang tercinta”

Dalam kitab Asy-Syifa juga disebutkan gambaran kenapa Rasulullah menjadi tempat berlindung.

 

أنا سيد الناس يوم القيامة وهل تدرون بم ذاك؟ يجمع الله الأولين والآخرين في صعيد واحد فيسمعهم الداعي وينفذهم البصر وتدنو الشمس فيبلغ الناس من الغم والكرب ما لا يطيقون وما لا يحتملون

Artinya: “Aku adalah pemimpin seluruh manusia pada hari kiamat. Tahukah kalian mengapa demikian? Allah mengumpulkan orang-orang terdahulu dan orang-orang terakhir di satu tanah lapang yang sama. Seruan dapat didengar oleh seluruh mereka, dan pandangan dapat menjangkau semuanya. Matahari didekatkan sehingga manusia merasakan kesusahan dan kegelisahan yang sangat berat, yang tidak sanggup mereka tanggung dan tidak mampu mereka pikul.”

 

Kitab yang diberi nama Asy-Syifa bi Ta’rifi Huquqil Musthafa adalah salah satu karya monumental dalam literatur Islam yang membahas hakikat dan kemuliaan Nabi Muhammad Saw Kitab ini ditulis oleh ulama besar mazhab Maliki, Imam al-Qadhi ‘Iyadh (w. 544 H). Penamaan kitab Asy Syifa juga menujukkan bahwa Rasulullah adalah penyembuh bagi segala penyakit,  di mana kehidupan Rasul menjadi penawar dan solusi yang dihidupi umat dalam kehidupannya. Syekh Muhammad ibn Abi Bakr al-Bartali al-Walati turut memberikan komentar terhadap faidah dari  kitab Asy Syifa ini :

 

ومن فوائده أنه كان يقول : من نابه مرض فليزن الشفا للقاضي عياض بالماء ويشربه. ولقد أخبرني بعض الإخوان ممن أثق به أنه فعله لبعض إخوانه فشفاه الله تعالى

 

Artinya:  Di antara manfaatnya adalah ia pernah berkata: “Barangsiapa yang terserang penyakit, hendaknya mencelupkan obat penyembuh milik Qadi Ayyad ke dalam air, lalu meminumnya.” Dan beberapa saudara yang saya percayai telah menceritakan kepada saya bahwa ia melakukannya untuk beberapa saudaranya, lalu Allah SWT menyembuhkannya. ( Muhammad ibn Abi Bakr al-Bartali al-Walati . Fathuh Syakur, Fi Makrifati Iman Ulamai Takrur, Beirut,  Dar Al Gharb Al Islamiy,  1981, h. 173).

 

Hal ini senada dengan apa yang dilantunkan dalam qasidah Isyfa’ lana pada bait berikutnya:

 

اَنْتَ لِلْخَـــــلْقِ طَــبِيْبُ

Artinya: Engkaulah penyembuh bagi seluruh makhluk

 

Selanjutnya kita diingatkan bahwa Rasulullah adalah pembebas umat dari penyakit sosial, dua puluh tiga tahun dakwah Rasulullah hingga adanya penerimaan terhadap ajaran yang sempurna ini. Pembebasan dari perbudakan dan sifat jahiliyah, dengan ajaran yang memanusiakan manusia.

 

جِئْتَ لِلْبَرَايَا بِالشَّرْعِ الْمُبِيْن

 

Artinya: “Kau datang membebaskan dengan ajaran nyata

 

Sebagai penutup dari qasidah ini, Rasulullah  sukses  menyebarkan petunjuk yang menyelamatkan kehidupan:

 

تَنْشُرُالْهِدَا يَةْ بَيْنَ الْعَا لَمِي

Artinya: “Kau menyebarkan petunjuk di antara seluruh alam.”

Dalam dakwahnya pasca perjanjian Hudaibiyah, Rasul mengirim surat kepada raja-raja dunia kala itu. Alhasil Islam tersampaikan, ada yang memeluk Islam  seperti Raja Najasyi di Habsyah. Petunjuk di sini tidak hanya bagi muslimin saja tetapi sekalian alam, semuanya mendapat kasih sayang dari Rasulullah, hingga diriwayatkan hewan, batu dan pohon menangisi kepergiaan Rasulullah Saw.

Di sisi lain dalam setiap bait Qasidah Isyfak’ Lana, menegaskan rahmat dan syafaat Rasulullah bersifat universal, sebagaimana ajaran Rasulullah sendiri yang rahmatal lil alamin. Syekh Qadhi Iyadh menyebut Hadis bagaimana semua umat pad aakhirnya meminta syafaat kepada Rasulullah Saw:

 

وقال ابن عباس – رضي الله عنه – : إذا دخل أهل النار النار ، وأهل الجنة الجنة ، فتبقى آخر زمرة من الجنة ، وآخر زمرة من النار ، فتقول زمرة النار لزمرة الجنة : ما نفعكم إيمانكم ، فيدعون [ ص: 253 ] ربهم ، ويضجون ، فيسمعهم أهل الجنة فيسألون آدم ، وغيره بعده في الشفاعة لهم ، فكل يعتذر حتى يأتوا محمدا – صلى الله عليه وسلم – ، فيشفع لهم ، فذلك المقام المحمود .

Artinya: Ibn Abbas  berkata: “Apabila penghuni neraka masuk ke neraka, dan penghuni surga masuk ke surga, maka tersisa sekelompok terakhir dari surga dan sekelompok terakhir dari neraka. Kelompok neraka itu lalu berkata kepada kelompok surga: Apa gunanya iman kalian? Maka mereka pun memohon kepada Tuhan mereka, dan berteriak-teriak, lalu penduduk surga mendengarnya, lalu mereka meminta kepada Adam, dan orang-orang setelahnya untuk menjadi perantara bagi mereka, dan masing-masing meminta maaf hingga mereka sampai kepada Muhammad Saw lalu beliau menjadi perantara bagi mereka, itulah kedudukan yang terpuji.  (Syekh Qadhi Iyadh, Asy-Syifa, Bita’rifi Huquq Al-Mushtafa, Dar Fikri, Kairo, 2002,  Jld. I, h. 253).

Pada akhirnya membaca qasidah isyfak lana seolah kita diajak menelusuri sirah mulia Rasul, terutama sekali permohonan syafaat kepada baginda Rasulullah dan keteladanan serta kemuliaan hidup baginda Rasulullah Saw yang mesti menjadi qudwah di tengah masyarakat.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *