Terselip

Sebuah cerpen oleh Thasoedi (Guru MTS)

Mini menyeka keringat di dahinya dengan ujung jilbab, lalu kembali menyuapkan bubur ke mulut ibunya yang terbaring lemah di ranjang rumah sakit. Jarum infus menempel di punggung tangan keriput itu, menetes pelan seperti detik yang enggan berlalu.

“Sudah, Bu. Habiskan sedikit lagi,” katanya, suaranya datar seperti biasa. Orang-orang sering mengira Mini tidak peduli karena wajahnya jarang menunjukkan apa-apa. Padahal di balik itu, ia menghitung. Menghitung obat, menghitung ongkos, menghitung berapa lama lagi ia harus izin dari kios kelontong tempatnya bekerja.

Adiknya, Rian, baru datang menjenguk pukul tujuh malam, membawa oleh-oleh omong kosong tentang pekerjaannya yang katanya sedang sibuk-sibuknya. Ia duduk sebentar, mengeluh soal macet, lalu pergi lagi sebelum jam sembilan. Tidak ada yang bertanya apakah Mini sudah makan. Tidak ada yang bertanya bagaimana ia membayar biaya rumah sakit yang menumpuk sejak dua minggu lalu.

Mini tidak marah. Ia hanya diam, seperti biasa. Tapi malam itu, sepulang dari rumah sakit menuju rumahnya yang sepi di pinggiran kota, sesuatu di dadanya terasa berat. Ia memarkir motor tuanya, duduk di teras, memandangi langit Aceh yang penuh bintang.

“Ya Allah,” gumamnya pelan, “hamba ini ada nggak sih diperhatikan?”

Bukan pertanyaan putus asa. Lebih seperti keluhan seorang anak yang lelah, yang selama ini selalu jadi tempat orang bersandar tapi tak pernah punya tempat untuk bersandar balik.


Esok siangnya, Mini pergi ke minimarket dekat rumah untuk membeli obat dan beberapa kebutuhan ibunya. Ia menyusuri rak dengan gerakan cuek yang sudah jadi ciri khasnya—mengambil barang tanpa banyak pikir, sesekali menyapa kasir yang dikenalnya, membantu seorang nenek yang kesulitan menjangkau rak atas tanpa diminta.

“Makasih ya, Dek,” kata nenek itu.

Mini hanya mengangguk kecil, lalu melanjutkan belanjanya seperti tak terjadi apa-apa.

Sampai di kasir, ia meletakkan barang-barangnya satu per satu. Suster di rumah sakit bilang obat ibunya harus ditambah satu jenis lagi, harganya lumayan. Mini membuka dompetnya yang tipis, menghitung lembaran uang dengan jantung yang mulai berdegup lebih cepat.

“Semuanya seratus delapan puluh tiga ribu, Kak,” ucap kasir itu.

Mini menghitung uangnya sekali lagi. Seratus enam puluh. Kurang dua puluh tiga ribu.

Wajahnya tetap tenang di luar, tapi di dalam ia mulai menyusun barang mana yang harus dikembalikan. Vitamin? Atau roti untuk sarapan besok? Ia menimbang-nimbang sambil menahan malu, merasa mata orang-orang di belakangnya seperti menusuk punggung.

Tepat saat itu, entah dari mana, sesuatu jatuh berdenting di lantai keramik. Kunci motornya. Rupanya sejak tadi tersangkut di ujung syal yang dililitkan longgar di lehernya, dan kini terlepas begitu saja.

“Eh, kunci saya,” Mini refleks membungkuk mengambilnya.

Dan di situlah ia melihatnya—selembar uang lima puluh ribuan, terselip di sela sepatunya, setengah terlipat seperti baru saja jatuh dari suatu tempat. Ia mengambilnya, membalik-baliknya, lalu memeriksa dompetnya lagi. Ada robekan kecil di sisi kantong dalam, tempat biasa ia menyelipkan uang lebih.

“Ini… punya saya?” bisiknya pelan, lebih pada dirinya sendiri.

Ia menghitung ulang, dan benar—totalnya pas empat ratus ribu yang selama ini ia kira sudah ia keluarkan semua untuk keperluan rumah sakit minggu lalu. Uang itu selama ini diam-diam terselip di balik jahitan dompet yang mulai using, tak pernah ia sadari.

Kasir menunggu, sedikit bingung melihat Mini yang biasanya cekatan kini terpaku memandangi selembar uang di tangannya.

“Kak, jadi dibayar?” tanya kasir itu, ragu.

Mini tersentak, lalu tertawa kecil—tawa yang jarang keluar dari wajahnya yang datar. “Iya, iya. Maaf.” Ia menyerahkan uangnya, membayar semua tanpa perlu mengembalikan satu barang pun.

Di luar minimarket, Mini berdiri sejenak memandangi kunci motor di genggamannya. Kalau saja kunci itu tidak jatuh, kalau saja ia tidak membungkuk untuk memungutnya, uang itu mungkin sudah terinjak, terselip lebih dalam, atau dipungut orang lain yang berjalan di belakangnya. Ia membayangkan skenario itu—kehilangan empat ratus ribu yang sebenarnya miliknya sendiri, tanpa pernah tahu ke mana perginya.

Tenggorokannya tercekat. Bukan karena uangnya, tapi karena caranya kembali.

Ia teringat percakapannya semalam di teras rumah. Pertanyaan yang ia lontarkan ke langit, setengah putus asa, setengah lelah. Dan sekarang, di tengah keramaian minimarket yang biasa-biasa saja, jawabannya datang lewat sebuah kunci motor yang jatuh di waktu yang paling tidak terduga.

Mini menahan air matanya. Ia tidak ingin menangis di depan umum—bukan gayanya. Tapi dadanya penuh, seperti gelas yang akhirnya terisi setelah lama kosong.


Malam itu, dalam perjalanan pulang dari rumah sakit—setelah menyuapi ibunya lagi, setelah membayar sebagian tagihan dengan uang yang “jatuh dari langit” itu—Mini berhenti sejenak di pinggir jalan raya yang sepi. Ia menatap langit yang sama seperti semalam.

Tidak ada yang berubah dari hidupnya. Rian tetap saja jarang menjenguk. Tagihan rumah sakit belum lunas sepenuhnya. Tubuhnya masih lelah, dan besok ia harus bangun pagi-pagi untuk membuka kios.

Tapi ada satu hal yang terasa berbeda: perasaan bahwa dirinya dilihat. Bukan oleh manusia yang sibuk dengan urusannya sendiri, tapi oleh sesuatu yang jauh lebih besar dari itu—yang menitipkan uang di sela sepatu lewat sebuah kunci yang jatuh di waktu yang tepat.

Ia menyalakan motornya, lalu berhenti lagi. Diambilnya kunci itu, digenggamnya erat-erat, seperti memegang sesuatu yang jauh lebih berharga daripada logam dan besi.

“Makasih ya,” bisiknya, entah pada siapa. Mungkin pada Tuhan. Mungkin pada dirinya sendiri yang selama ini terlalu keras kepala untuk mengakui bahwa ia lelah, dan terlalu cuek untuk membiarkan orang lain tahu.

Ia menstarter motornya dan melaju di jalan raya yang lengang, lampu-lampu kota berpendar samar di kejauhan. Tidak ada yang tahu apa yang baru saja terjadi padanya sore itu. Tidak ada yang perlu tahu.

Cukup ia, dan langit yang diam-diam selalu memperhatikan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *