in this economy

Beberapa tahun lalu, ungkapan “in this economy?” hanya terdengar sebagai lelucon yang ramai di media sosial. Kalimat itu biasanya muncul ketika seseorang ingin membeli sesuatu yang tidak terlalu penting, tetapi kemudian mengurungkan niat sambil berkata, “In this economy?” seolah kondisi ekonomi telah menjadi alasan yang cukup untuk menunda hampir semua keinginan.

Hari ini, kalimat itu tidak lagi sekadar candaan. Ia telah berubah menjadi deskripsi paling sederhana tentang realitas yang dihadapi banyak orang.

“In this economy” kini adalah napas panjang seorang ayah yang melihat harga kebutuhan pokok kembali naik. Ia adalah kegelisahan seorang ibu yang harus memutar otak agar uang belanja cukup hingga akhir bulan. Ia adalah kecemasan lulusan baru yang mengirim puluhan lamaran kerja tanpa kepastian. Ia juga menjadi suara hati generasi muda yang mulai merasa bahwa bekerja keras saja belum tentu cukup untuk hidup dengan layak.

Melemahnya nilai tukar rupiah bukan sekadar angka yang bergerak di layar bursa atau menjadi bahan diskusi para ekonom. Dampaknya merambat hingga ke meja makan, biaya pendidikan, harga obat-obatan, tarif transportasi, bahkan cita-cita sederhana untuk memiliki rumah. Ketika rupiah kehilangan daya tawarnya, masyarakatlah yang paling dahulu merasakan konsekuensinya.

Yang membuat keadaan terasa semakin berat bukan hanya persoalan ekonomi itu sendiri, melainkan akumulasi berbagai masalah yang belum juga menemukan penyelesaian yang nyata. Di tengah tingginya biaya hidup, masyarakat masih harus berhadapan dengan lapangan kerja yang terbatas, daya beli yang melemah, pelayanan publik yang belum merata, persoalan pendidikan, hingga kebijakan yang sering kali berubah sebelum benar-benar memberi dampak.

Tidak sedikit orang merasa bahwa hidup hari ini lebih melelahkan daripada beberapa tahun lalu. Bukan karena mereka menjadi lebih malas, tetapi karena garis finis terus bergeser. Ketika gaji naik sedikit, biaya hidup melesat lebih cepat. Ketika seseorang berhasil menabung, muncul kebutuhan baru yang tidak bisa dihindari. Ketika satu masalah selesai, persoalan lain datang menggantikannya.

Ironisnya, di tengah situasi seperti ini, media sosial tetap dipenuhi narasi tentang kesuksesan instan. Orang-orang berlomba memamerkan pencapaian, perjalanan mewah, investasi, hingga gaya hidup yang tampak sempurna. Akibatnya, banyak orang merasa gagal bukan karena hidupnya buruk, tetapi karena terus membandingkan dirinya dengan potongan-potongan kehidupan orang lain yang telah melalui proses penyuntingan.

Padahal, bagi sebagian besar masyarakat Indonesia hari ini, keberhasilan mungkin sesederhana mampu membayar listrik tepat waktu, memenuhi kebutuhan keluarga, menyekolahkan anak, atau bertahan tanpa harus berutang. Standar keberhasilan telah bergeser, bukan karena mimpi mengecil, tetapi karena realitas memaksa banyak orang mengubah prioritas.

Di sisi lain, masyarakat juga mulai menunjukkan kemampuan luar biasa untuk beradaptasi. Banyak yang mencari pekerjaan tambahan, membangun usaha kecil dari rumah, menjadi pekerja lepas, hingga memanfaatkan teknologi untuk memperoleh penghasilan baru. Kreativitas menjadi modal yang tidak kalah penting dibandingkan ijazah. Namun, kemampuan individu untuk beradaptasi tidak seharusnya dijadikan alasan untuk mengabaikan pentingnya kebijakan publik yang berpihak pada kesejahteraan rakyat.

Di tengah berbagai tekanan ekonomi, Islam juga mengajarkan bahwa kesulitan bukanlah alasan untuk kehilangan harapan, apalagi meninggalkan ikhtiar. Muslim diperintahkan untuk tetap bekerja dengan sungguh-sungguh, mencari rezeki yang halal, menjaga kejujuran, dan tidak menjadikan keadaan sebagai pembenaran untuk berputus asa. Kondisi ekonomi memang dapat berubah, nilai mata uang dapat melemah, harga-harga dapat melonjak, tetapi nilai-nilai yang diajarkan agama tetap menjadi pegangan yang tidak boleh goyah.

Rasulullah ﷺ bersabda:

“Sungguh menakjubkan urusan seorang mukmin. Sesungguhnya seluruh urusannya adalah baik baginya. Jika ia memperoleh kesenangan, ia bersyukur, maka itu baik baginya. Jika ia ditimpa kesusahan, ia bersabar, maka itu baik baginya. Dan itu tidak dimiliki kecuali oleh seorang mukmin.”
(HR. Muslim No. 2999).

Hadis tersebut tidak mengajarkan umat Islam untuk pasrah tanpa usaha. Sebaliknya, ia mengajarkan keseimbangan antara ikhtiar dan keteguhan hati. Bersabar bukan berarti diam menerima keadaan, melainkan tetap melangkah, tetap bekerja, tetap berdoa, dan tetap menjaga integritas meskipun hasilnya belum sesuai harapan. Syukur pun bukan hanya ketika hidup berlimpah, tetapi juga ketika masih diberi kesehatan, keluarga yang mendukung, serta kesempatan untuk terus berjuang.

Pesan ini terasa sangat relevan di tengah situasi ekonomi yang penuh tantangan. Ketika lapangan kerja semakin kompetitif dan biaya hidup terus meningkat, setiap usaha yang dilakukan dengan cara yang halal memiliki nilai ibadah. Seorang pedagang kecil yang jujur, petani yang tetap menanam, guru yang terus mendidik, nelayan yang berlayar, hingga pekerja yang berangkat sebelum matahari terbit, semuanya sedang menjalankan kemuliaan yang diajarkan Islam: mencari rezeki dengan kehormatan, bukan dengan menghalalkan segala cara.

Di saat ungkapan “in this economy” semakin sering terdengar, mungkin yang paling dibutuhkan bukan hanya optimisme kosong, tetapi harapan yang lahir dari perpaduan antara ikhtiar, doa, solidaritas, dan kepemimpinan yang bertanggung jawab. Islam mengajarkan bahwa setelah segala usaha dilakukan, seorang hamba tetap menggantungkan harapannya kepada Allah SWT.

Lebih lanjut, pemerintah memegang peran strategis dalam menjaga stabilitas ekonomi sekaligus membangun kepercayaan masyarakat. Di tengah tekanan global yang memang tidak mudah dihindari, publik berharap hadirnya kebijakan yang konsisten, transparan, dan mampu menjawab persoalan mendasar seperti penciptaan lapangan kerja, pengendalian inflasi, penguatan nilai rupiah, kemudahan berusaha, serta peningkatan kualitas layanan pendidikan dan kesehatan. Masyarakat tidak mengharapkan kesempurnaan, tetapi menginginkan arah yang jelas dan langkah yang terasa manfaatnya.

Ekonomi yang sehat tidak hanya diukur dari pertumbuhan produk domestik bruto atau besarnya investasi yang masuk. Ekonomi yang benar-benar kuat adalah ketika masyarakat merasa memiliki kesempatan yang adil untuk hidup lebih baik. Ketika bekerja mampu memenuhi kebutuhan hidup. Ketika anak-anak dapat bermimpi tanpa dibatasi keadaan ekonomi keluarganya. Ketika masa depan tidak terasa semakin jauh hanya karena biaya hidup terus meningkat.

Ungkapan “in this economy” pada akhirnya menjadi cermin zaman. Ia menggambarkan bagaimana masyarakat belajar menertawakan keadaan yang sebenarnya tidak lucu. Humor menjadi cara paling sederhana untuk bertahan ketika kenyataan terasa terlalu berat untuk dikeluhkan setiap hari.

Namun, bangsa ini tidak bisa selamanya hidup dari humor dan daya tahan warganya. Optimisme tetap penting, tetapi optimisme membutuhkan ruang untuk tumbuh. Ia memerlukan kebijakan yang berpihak, tata kelola yang baik, serta keberanian menyelesaikan persoalan yang selama ini terus diwariskan tanpa solusi yang tuntas.

Mungkin hari ini banyak orang masih berkata, “In this economy?” sebelum mengambil keputusan membeli sesuatu, memulai usaha, atau bahkan merencanakan masa depan. Semoga suatu saat nanti, kalimat itu kembali menjadi candaan semata, bukan lagi gambaran paling jujur tentang kehidupan masyarakat Indonesia. []

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *