Di kota Larasena, hujan bukan lagi peristiwa alam, melainkan kebiasaan yang diterima tanpa pertanyaan. Orang-orang tidak lagi menyiapkan payung karena mereka percaya, atau mungkin sudah menyerah, bahwa basah adalah bagian dari hidup yang tidak bisa dinegosiasikan.
Lampu-lampu jalan di kota itu selalu menyala redup, seolah lelah menerangi sesuatu yang pada akhirnya tetap gelap juga di dalam diri manusia. Dan di antara semua wajah yang berlalu-lalang tanpa benar-benar saling melihat, ada satu manusia yang hidupnya tidak pernah benar-benar terasa utuh.
Namanya Arga Wiratama.
Arga tinggal di sebuah kamar kontrakan di Gang Kenanga No. 14. Gang itu terlalu sempit untuk disebut jalan, terlalu panjang untuk disebut lorong. Bau lembap selalu tinggal di dinding, bahkan ketika matahari muncul sesekali.
Kamar Arga sederhana, dengan sebuah kasur tipis, meja kecil, kursi kayu yang sudah miring sebelah, dan jendela yang tidak pernah benar-benar bisa ditutup rapat. Setiap malam, suara kota masuk tanpa permisi. Namun yang paling mengganggu bukan suara dari luar, melainkan suara dari dalam dirinya sendiri. Sunyi yang tidak bisa dijelaskan. Arga sering duduk di tepi kasur, menatap dinding kosong, lalu bertanya dalam hati:
“Kenapa aku merasa seperti tidak penuh?”
Tidak ada jawaban. Tidak pernah ada. Hidup yang berjalan tanpa rasa itu yang mungkin sedang ia rasakan.
Setiap pagi Arga bangun bukan karena semangat, tetapi karena tubuhnya sudah terbiasa kalah oleh waktu. Ia bekerja sebagai staf administrasi di sebuah perusahaan logistik di lantai tujuh gedung tua. Pekerjaannya tidak sulit. Tidak juga penting. Hanya memindahkan angka, mengarsipkan dokumen, dan memastikan sistem tetap berjalan tanpa ada yang benar-benar peduli siapa yang menjalankannya.
Di kantor, Arga dikenal sebagai orang yang tidak banyak bicara. Bukan karena ia sombong. Tapi karena ia tidak tahu harus memulai percakapan dari mana. Rekan kerjanya, Mira, pernah berkata padanya di ruang makan siang, “Kamu itu kayaknya capek, ya?
Arga menatap sendoknya. “Aku biasa saja.”
“Tapi kamu kelihatan kosong.” Kata itu berhenti lebih lama di telinga Arga dibanding percakapan lainnya.
Larasena adalah kota yang tidak pernah berhenti bergerak, tapi juga tidak pernah benar-benar maju. Orang-orang berlari mengejar target, mengejar waktu, mengejar sesuatu yang tidak pernah dijelaskan siapa pun. Arga sering berpikir, mungkin semua orang di kota ini sedang sama-sama tersesat, hanya saja mereka tersesat dengan arah yang berbeda-beda.
Setiap pulang kerja, Arga berjalan melewati jembatan tua di atas Sungai Lira. Airnya keruh, seperti menyimpan semua hal yang tidak pernah selesai dalam hidup manusia. Di jembatan itu, Arga sering berhenti. Bukan untuk menikmati pemandangan.
Tapi untuk memastikan bahwa dirinya masih ada. Kadang ia menyentuh dadanya sendiri, seolah memastikan sesuatu di dalam sana masih bekerja. Masih hidup. Atau setidaknya, masih berjalan.
Suatu malam, hujan turun lebih deras dari biasanya. Langit seperti pecah tanpa suara. Arga tidak pulang. Ia duduk di halte tua di ujung Jalan Melati. Halte itu sudah lama tidak digunakan orang, kecuali oleh mereka yang tidak punya tujuan jelas. Di sana, ia bertemu seseorang. Seorang perempuan. Namanya Nara Senja. Ia duduk di ujung bangku, rambutnya basah, matanya tidak gelisah, tidak juga Bahagia, hanya tenang, seperti seseorang yang sudah berdamai dengan terlalu banyak hal yang tidak selesai.
“Kenapa tidak pulang?” tanya Nara.
Arga ragu sebelum menjawab. “Tidak ada yang menunggu.”
Nara mengangguk. “Aku juga begitu.”
Hening jatuh di antara mereka. Tapi anehnya, hening itu tidak terasa berat.
Hari-hari berikutnya, Arga kembali ke halte itu. Nara juga datang. Mereka tidak pernah benar-benar membuat janji. Mereka hanya hadir, seperti dua orang yang kebetulan lelah di waktu yang sama. Mereka mulai berbicara. Bukan tentang masa depan. Bukan tentang mimpi. Tapi tentang hal-hal kecil yang sering diabaikan orang: hujan yang terasa berbeda di setiap jam, lampu jalan yang berkedip seperti sedang ragu hidup, atau rasa kopi yang terlalu pahit untuk disukai tapi terlalu familiar untuk ditinggalkan.
Suatu malam, Arga bertanya, “Kamu pernah merasa hidup ini cuma lewat saja?
Nara menatap jalan. “Aku tidak merasa hidup ini lewat. Aku merasa aku yang lewat.”
Arga terdiam lama. Kalimat itu terlalu dekat dengan sesuatu yang ia rasakan, tapi tidak pernah bisa ia ucapkan.
Sejak pertemuan itu, sesuatu di dalam diri Arga berubah, meski tidak terlihat dari luar. Kosongnya tidak hilang. Tapi berubah bentuk. Jika sebelumnya kosong itu seperti ruang gelap yang menelan semuanya, kini ia seperti ruangan yang memiliki satu lampu kecil. Bukan terang. Tapi cukup untuk membuat Arga tidak sepenuhnya tersesat di dalam dirinya sendiri. Ia mulai menunggu malam. Bukan karena malam lebih tenang. Tapi karena malam adalah waktu di mana Nara ada.
Suatu hari, Nara tidak datang. Arga menunggu di halte seperti biasa. Satu jam. Dua jam.Tiga jam. Hujan tidak turun. Angin tidak kencang. Tapi ada sesuatu yang terasa salah. Hari berikutnya, Nara tetap tidak datang. Dan hari setelahnya. Tidak ada kabar. Tidak ada jejak. Seolah Nara tidak pernah benar-benar ada, kecuali di tempat itu, pada waktu-waktu tertentu.
Arga mulai mencari. Ia kembali ke halte setiap malam, bahkan ketika hujan tidak turun. Ia bertanya kepada orang-orang sekitar, meski ia tahu tidak ada yang benar-benar memperhatikan Nara seperti dirinya. Semua orang menjawab dengan hal yang sama.
“Tidak pernah lihat.”
“Siapa?”
“Tidak tahu.”
Dan di setiap jawaban itu, Arga merasa sesuatu dalam dirinya perlahan mengeras. Bukan menjadi kuat. Tapi menjadi lebih kosong. Suatu malam, Arga kembali ke jembatan Sungai Lira. Airnya mengalir pelan. Atau mungkin tidak mengalir sama sekali, hanya tampak seperti bergerak. Ia berdiri lama di sana. Lalu berbicara pelan, seperti berbicara kepada dirinya sendiri.
“Kalau semua orang pergi… apakah aku tetap ada?”
Tidak ada jawaban. Tapi untuk pertama kalinya, Arga tidak marah karena tidak ada jawaban. Hari-hari setelahnya tidak membawa perubahan besar. Arga tetap bekerja. Tetap pulang. Tetap melewati jembatan. Tetap duduk di halte yang sama. Tapi sesuatu yang halus mulai berubah. Ia tidak lagi mencari Nara dengan panik. Ia tidak lagi bertanya “di mana.” Sebaliknya, ia mulai bertanya:
“Kenapa aku begitu bergantung pada hadirnya seseorang untuk merasa ada?” Pertanyaan itu tidak menyembuhkan. Tapi membuatnya sadar.
Suatu malam, di halte yang sama, Arga duduk lebih lama dari biasanya. Ia menatap jalan basah. Dan untuk pertama kalinya, ia tidak merasa sedang menunggu siapa pun. Ia berkata pelan: “Aku kira aku hilang.” Lalu ia tersenyum kecil. “Ternyata aku hanya kosong.” Angin lewat. Tidak membawa jawaban. Tapi juga tidak membawa rasa sakit seperti dulu.
Larasena tetap menjadi Larasena. Hujan tetap turun tanpa alasan. Orang-orang tetap berjalan tanpa saling mengenal. Tapi di dalam diri Arga, sesuatu telah berubah secara diam-diam. Kosong itu masih ada. Tapi kini ia tidak lagi menjadi musuh. Ia menjadi ruang. Ruang untuk bertahan. Ruang untuk memahami bahwa tidak semua hal harus penuh untuk bisa tetap berjalan. Dan mungkin, di kota seperti Larasena, itu sudah cukup
Jika ada satu hal yang Arga pelajari dari semua ini, bukan bahwa kesepian bisa hilang. Tapi bahwa kesepian, pada akhirnya, bisa dipahami. Dan ketika sesuatu bisa dipahami… ia tidak lagi sepenuhnya menakutkan [].
