Nyanyian Tanah Basah di Hulu Krueng

Seuntai Cerita Oleh: Muhammad Farhan Fadhillah

Malam itu, hujan turun bukan seperti rahmat, melainkan laksana air mata langit yang meratapi bumi.

Di bawah kubah gampong yang kehilangan kemilau bintangnya, hidung Fatih berbicara jauh sebelum matanya mampu menembus selubung kegelapan. Ia berdiri mematung di beranda asrama Dayah. Derasnya tirai hujan tak mampu menyembunyikan sebuah anomali. Ada aroma purba yang merayap menembus kisi-kisi angin; bau getah mentah dari pohon-pohon meranti yang menguap, tanah gambut yang robek, dan petrikor amis yang terasa salah. Itu adalah aroma dari rimba yang sedang merintih ketika mahkotanya direbahkan paksa.

Napas Fatih tertahan. Kakinya melangkah mendekati pagar pembatas yang menghadap langsung ke lembah. Krueng Meureudu, urat nadi desa yang biasanya memantulkan cahaya perak rembulan, kini menjelma monster bengkak tanpa wajah. Permukaannya bergulung-gulung, memuntahkan pusaran lempung pekat.

Seketika, kilat membelah cakrawala, menyorotkan horor di atas air yang mengamuk.

Fatih memucat. Di antara buih pusaran buas itu, iring-iringan batang kayu raksasa meluncur deras bagai barisan peluru kendali. Ujung-ujung batang gelondongan itu terpenggal rapi, tak berserabut akar, mewariskan jejak mata gergaji mesin yang rakus.

Hatinya mencelus. Serpihan tragedi itu memukul kesadarannya pada satu kenyataan pahit: Hukum Indatu telah dikhianati. Kawasan penyangga air di hulu sungai yang secara adat diharamkan untuk disentuh parang, kini telah botak dijarah. Wewenang Panglima Uteun, sang penjaga rimba, telah dibungkam oleh segepok rupiah dan arogansi aparat desa. Keserakahan mafia kayu yang dibiarkan leluasa telah menelanjangi bukit pelindung mereka. Kini, rimba yang telah dikuliti itu mengirimkan telegram peringatan maut menuju hilir.

Fatih menyambar jas hujan plastiknya. Ia nekat menerobos kubangan lempung dingin yang liat, berlari merobek badai menuju kediaman Keuchik Hasan. Di simpang tiga desa, rumah batu milik sang kepala desa berdiri angkuh, menantang kodrat alam di antara barisan Rumoh Aceh panggung bertiang kayu ulin.

Tiga ketukan keras berpacu dengan denyut nadinya.

Pintu jati berderit lambat. Keuchik Hasan muncul dengan wajah kusut dan mata setengah terpejam. “Ada apa tengah malam buta begini, Fatih?”

“Air sungai sudah memerah, Pak Keuchik. Ie Raya teuka! Banjir bandang dari hulu sedang turun!” Fatih berbicara dengan napas memburu, matanya menatap tajam menembus kornea sang pemimpin. “Kita harus memukul beduk Meunasah. Evakuasi warga ke bukit belakang Dayah sekarang!”

Hasan mendengus meremehkan. Tangannya mengusap rahang. “Tanggul kita baru selesai dibangun, Fatih. Beton tebal dua setengah meter. Tidak akan jebol. Jangan kau sebar ketakutan berlebihan hanya karena percaya takhayul alam.”

“Bapak lihat gelondongan kayu curian yang hanyut malam ini?” sergah Fatih, suaranya meninggi mengalahkan deru hujan. “Bapak sengaja mengebiri aturan adat kita! Bapak biarkan mafia kayu itu menggorok leher gunung! Kalau beton bapak itu menahan air dari bawah, lantas siapa yang akan menahan ribuan kubik kayu dari atas sana?!”

Urat leher Hasan menegang. Gengsi kekuasaannya tertampar. “Pulanglah, Fatih! Jangan ganggu aparat desa bekerja!” Pintu jati itu dibanting keras, mengunci kebenaran di baliknya.

Fatih mematung sejenak, namun waktu tidak mengizinkannya meratap. Kakinya berputar arah, berlari sekencang mungkin menuju pelataran Meunasah. Ia tahu, birokrasi telah tuli, maka sastra dan kearifan masa lalu yang harus mengambil alih.

Di dalam Meunasah yang lengang, Fatih menyambar mikrofon tua. Dengan dada yang bergemuruh dan mata terpejam, ia membangkitkan kembali bait-bait eskatologis warisan kakeknya, sebuah syair peringatan bahaya yang telah lama ditelan lupa. Suaranya mengalun parau, melolong magis membelah derak hujan dan menggema ke seluruh penjuru lembah.

Ujeun teuka leupah raya… ie bak krueng mirah ka peunoeh…

Bek le teungeut peulalo mata… beudoh hai rakan ta ek u ateuh…

Sihir lirik purba itu bekerja bak alarm batin. Cahaya lampu cempor dan senter halogen mulai bermekaran dari balik kisi-kisi jendela warga. Pintu-pintu berderit terbuka serentak. Wajah-wajah kantuk yang kebingungan menyembul dari balik kusen, mencoba mencerna kegelapan yang mengancam.

Namun, waktu untuk bertanya telah habis. Suara gemuruh dari arah lembah mengoyak malam, merangsek mendekat bersama angin yang membawa bau anyir lumpur membusuk. Permukaan tanah yang mereka pijak tiba-tiba terasa basah. Air cokelat pekat merayap naik bak ular raksasa yang lapar, menelan anak tangga kayu dan pelan-pelan menjilati pelataran rumah.

Seketika, kepanikan meledak meruntuhkan kewarasan. Jeritan histeris bersahutan memecah deru hujan. Fatih melompat dari serambi Meunasah, menerjang genangan yang dengan cepat telah naik setinggi betis. Ia memosisikan diri sebagai gembala di tengah kekacauan arus manusia yang kalang kabut mencari jalan selamat. Matanya awas menyapu sekeliling, lalu menangkap tubuh gemetar Wak Hamid. Lelaki tua itu justru menolak lari, kalut memeluk erat karung gabahnya di kolong teras seolah buta pada maut yang mulai menenggelamkan kakinya.

“Lepaskan harta itu, Wak! Nyawamu jauh lebih mahal!” teriak Fatih, menyeret lelaki tua itu menjauh dari air yang kian ganas. Suaranya serak berteriak, mendorong ibu-ibu dan anak-anak untuk berlari ke arah bukit.

Saat barisan terakhir warga dengan napas tersengal berhasil memijak dataran rumput tinggi di lereng bukit, semesta di ufuk selatan mengerang.

Langkah semua orang terhenti. Fatih berbalik, menatap ke arah lembah yang terhampar di bawah lereng kaki mereka. Udara mendadak hampa.

Terdengar suara benturan yang teramat mengerikan. Krak… blam! Bunyinya berulang, keras, dan memekakkan telinga, layaknya tulang-belulang raksasa bumi yang sedang dihancurkan. Itu adalah suara ribuan gelondongan kayu keras yang saling berbenturan di dalam rahim badai. Tanah yang mereka pijak bergetar hebat.

Dan kengerian itu pun tiba.

Dari belahan lembah, wujud malapetaka itu menampakkan diri. Bukan sekadar luapan air bah, melainkan dinding tsunami padat. Gelombang lempung cokelat pekat setinggi pepohonan kelapa itu mengamuk buta. Gelombang tersebut menyeret paksa bebatuan koral sebesar gajah dan menelan beringin tua hingga ke serabut akarnya. Bau amis lumpur, bangkai kayu, dan kematian menguar tajam menyumbat hidung.

“Maaaakk…….!”

Sebuah lengkingan bocah pecah tak jauh dari Fatih. Di tebing bawah, seorang ibu terpeleset akar licin. Tangannya terlepas dari genggaman putrinya yang bernama Cut Intan. Dalam sekejap mata, tubuh ibu itu tertelan pusaran cokelat beserta kayu-kayu yang mengamuk.

Fatih menerjang sisa lumpur, merengkuh tubuh mungil Cut sekian detik sebelum lidah ombak menyapu tempat mereka berpijak. Fatih mendekap anak itu erat-erat, melindunginya dari cipratan maut.

Di bawah sana, raungan air menelan habis jeritan warga. Ratusan gubuk kayu remuk dilumat arus menjadi serpihan batang korek api. Rumah pualam Keuchik Hasan, sang istana beton kebanggaan, dihantam ribuan peluru gelondongan kayu curian. Bangunan itu hanya mampu bertahan tiga detik. Pada detik keempat, fondasinya patah remuk. Semuanya lenyap. Kesombongan manusia dihakimi tuntas malam itu.

***

Tirai subuh merayap perih, membiaskan cahaya kelabu ke atas bentangan pusara raksasa. Desa itu telah terhapus total, berganti lautan lumpur sedimen dan hamparan jutaan bangkai kayu dalam keheningan yang menyayat urat nadi.

Di atas bongkahan batu andesit, Fatih duduk mematung. Di pangkuannya, Cut bergeming.

Gadis kecil berusia tujuh tahun itu tidak menangis. Matanya membelalak kosong, menatap nanar ke arah lembah yang telah merampas ibunya, rumahnya, dan semestanya. Tubuh kurusnya menggigil tanpa henti, namun bibirnya terkunci rapat. Jiwa anak itu tenggelam dalam kebisuan total, sebuah trauma psikologis mahaberat yang membunuh masa kanak-kanaknya dalam satu kedipan mata. Kebisuan Cut Intan jauh lebih menyayat hati Fatih daripada ribuan jeritan keputusasaan.

Langkah kaki sepatu bot yang diseret lemas menembus indra telinga Fatih. Keuchik Hasan berjalan gontai, pakaiannya koyak berlapis lempung hitam. Tidak ada lagi sisa pongah kekuasaan di wajahnya. Lelaki itu jatuh bersimpuh di atas tanah basah, persis di samping Fatih.

Keupeu guna ie padee ka layee, yoh ku tem kee han tatem gata,” Hasan menggumamkan peribahasa leluhur dengan suara serak yang pecah. “Maafkan aku, Fatih… Beton dan keserakahan duniawi telah membutakanku.”

Fatih tidak menoleh sedikit pun. Rahangnya mengeras menahan genangan perih di pelupuk mata. Matanya terus menatap punggung rapuh anak kecil di dekapannya.

“Alam Aceh tidak pernah ingkar, Pak Keuchik. Ia mencatat semua dosa keserakahan secara senyap,” jawab Fatih pelan, suaranya sedingin embun namun setajam belati. “Siksa ini datang karena kita mengkhianati Hukum Indatu, memperkosa hulu sungai demi setoran harta. Dan pagi ini, tangis penyesalan bapak setetes pun tidak akan bisa mengembalikan kewarasan jiwa anak-anak yang hancur ini. Mereka dipaksa membayar lunas dosa yang tidak pernah mereka buat.”

Hasan menenggelamkan wajahnya ke lipatan sarung, meratapi harga teramat mahal dari kelalaiannya.

Di tengah desah angin duka dan isak tangis pengungsi yang memecah ufuk timur, Fatih mengusap lembut kepala Cut. Sambil menatap mentari yang bersusah payah menyibak kabut pegunungan, pemuda itu berikrar pada relung jiwanya. Ia tidak akan membiarkan kebisuan ini menang.

Kelak, ia akan memulihkan kembali fondasi gampong ini. Bukan sekadar membangun kembali rumah-rumah fisik dari kayu dan batu, melainkan menanam kembali akar kesadaran di hulu hati manusia. Ia akan menyembuhkan trauma anak-anak ini, merawat kearifan hutan yang tersisa, dan memastikan bahwa alam takkan lagi ditukar dengan selembar pun harga diri yang fana.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *