Di dunia yang sibuk berlomba menjadi sempurna,
aku pernah capek menjadi versi yang semua orang suka.
Mengejar validasi sampai lupa,
kalau hati sendiri juga butuh untuk disapa.
Aku belajar pelan-pelan,
bahwa tidak semua luka harus dijelaskan.
Tidak semua tangis harus dipertontonkan.
Kadang cukup duduk diam, lalu berkata
“Hei, aku tahu kamu lelah.”
mencintai diri sendiri bukan soal narsis,
bukan juga merasa paling manis.
Ini tentang cara menghargai diri sendiri,
meski hidup sedang tidak baik-baik saja.
Aku tidak lagi memaksa mekar seperti bunga orang lain.
Tidak lagi iri pada langkah yang terlihat lebih hebat.
Karena setiap jiwa punya musimnya sendiri,
dan setiap mimpi punya waktunya untuk menghampiri.
Kalau hari ini kamu gagal,
itu bukan berarti kamu kecil.
Kalau hari ini kamu jatuh,
bukan berarti perjalananmu berakhir.
Sebab nilai dirimu tidak ditentukan angka,
bukan oleh pujian yang datang dan pergi begitu saja.
Kamu berharga bahkan ketika dunia sedang tidak bertepuk tangan.
Jadi, peluklah dirimu lebih lama.
Maafkan kesalahan yang masih menghantui kepala.
Rayakan langkah kecil yang sering terlupa,
karena bertahan sampai hari ini pun adalah pencapaian luar biasa.
Dan jika suatu saat cermin kembali membuatmu ragu,
tataplah dirimu dalam-dalam lalu katakan
“Aku mungkin belum sempurna,
tapi aku tetap layak dicintai, terutama oleh diriku sendiri.”
Sebab cinta yang paling elegan bukanlah yang datang dari keramaian,
bukan pula dari tepuk tangan yang meriah.
melainkan yang tumbuh diam-diam dari dalam hati,
saat seseorang akhirnya berdamai dengan dirinya sendiri [].
