Oleh: Amni Syuhada (VII-9)
Di sore hari yang mendung, aku duduk bersama teman-temanku di atas “balee meusaneut” di kompleks putri Dayah Jeumala Amal. Angin bertiup pelan membawa aroma tanah yang basah yang khas. Langit terlihat kelabu seolah menyimpan sesuatu yang besar. Namun suasananya tetap ramai dengan aktivitas murid. Ada yang sedang menghafal, bercanda, makan, melempat cerita lucu atau hanya sekedar duduk menikmati suasana sore.
Aku Sedang mencoba fokus membaca buku ketika ukhti asisten kamar kami datang dengan wajah serius dan berkata “kok bisa awannya mendung tapi gak hujan, kayaknya beberapa hari lagi hujan besar akan datang, bisa jadi banjir ni!”. ucapnya.
Seketika suasa menjadi hening beberapa detik kemudian terdengar suara tawa. “ahh uty gamungkin” kata Maya sambil tertawa kecil. “Iya masa sih banjir..” Sahut yang lain berbarengan.
Aku juga ikut tersenyum. Rasanya sulit percaya kalau banjir akan datang. Memang beberapa hari terakhir cuaca mendung tetapi menurutku biasa saja, kami tetap menjalani aktivitas seperti biasa tanpa terlalu memikirkan ucapan ukhti.
Malam itu hujan mulai turun, awalnya hanya rintik kecil yang terdengar lembut di atap seng. Suaranya malah terasa menenangkan. Sebagian dari kami bahkan menikmati suasa dingin sambil minum teh hangat di kamar. Namun hujan tidak kunjung berhenti.
Besok paginya hujan masih turun, siang nya makin deras. Malam harinya suara hujan semakin keras, Seperti ribuan batu kecil yang dilempar ke atap. Angin mulai kencang dan udara terasa dingin. Hari kedua, hujan tetap turun tanpa jeda. Halaman asrama mulai dipenuhi genangan air, selokan meluap dan air mengalir deras ke mana-mana. Walaupun begitu, kami masih mencoba santai. Di kamar suasana tetap penuh tawa, ada yang bermain tebak – tebakan dan ada juga yang sibuk makan diatas kasur.
Malam itu kami tidur lebih cepat karena udara terlalu dingin. Sebelum tidur beberapa dari kami mulai berjaga-jaga, sandal dimasukkan ke tong sampah supaya tidak hanyut, pakaian dinaikkan ke bagian atas lemari, dan buku-buku dinaikkan ke atas kasur.
“Kalau nanti airnya masuk ke kamar, ketuk kamar ustazah yaa..” kata ustazah sebelum mematikan lampu kamarnya. Aku hanya bisa menarik selimut dan mencoba tidur meski berdempet-dempetan, suara hujan terus terdengar tanpa henti.
Entah pukul berapa tiba-tiba aku mendengar suara panik dari arah pintu. “Bangun! bangun.. cepat bangun”. Suara teriakan Ukhti asisten memanggil. Aku membuka mata perlahan samar-samar kulihat ukhti berdiri Sambil memegang senter kecil. “Air sudah masuk Kamar!” teriaknya.
Aku langsung kaget. Saat kakiku menyentuh lantai, rasa dingin langsung membuat kaki ku mati rasa, air banjir sudah memenuhi kamar kami. “Ya Allah..” ucapku pelan sambil bertanya apakah ini banjir sungguhan.
Teman-temah lain juga, mulai terbangun dengan wajah panik. Sebagian dari kami bantal gulingnya sudah jatuh dan terkena air banjir dan ada sampah kecil yang mengapung. Suasana kamar langsung kacau “ahh bantal gulingkuuu” teriak Nisa dan Lisa. Untungnya barang kami sudah diamankan sejak malam kalau tidak mungkin semua pakaian dan buku kami akan hamjut atau rusak terkena air.
Karena waktu Sudah mendekati Shubuh, kami akhirnya bersiap untuk salat dalam keadaan kaki masih basah dan udara yang dingin, kami mengambil wudhu’ seadanya. Air banjir membuat langkah kami berat kami berjalan perlahan menuju tempat Kakak kakak untuk melaksanakan salat subuh berjemaah.
Setelah salat, hari mulai sedikit terang. Rasa penasaran membuat kami naik ke bale meusaneut untuk melihat keadaan luar. Begitu sampai di atas, kami semua langsung terdiam. Air banjir terlihat sangat tinggi hampir menutupi seluruh kawasan sekitar dayah. Arusnya deras dan berwarna coklat keruh. Di kejauhan terlihat sebuah gerobak jualan hampir terbawa arus air. Penjualnya sibuk menarik gerobak sambil berusaha agar gerobaknya tidak hanyut.
“Kashan sekali…” Gumamku. Beberapa orang terlihat berjalan menembus banjir dengan langkah pelan- Ada yang mengangkat celana tinggi-tinggi, bahka ada anak kecil yang menangis karena takut. Kami terus memperhatikan suasara luar dengan campuran rasa kagum dan cemas.
Namun secara tiba-tiba Suara ustazah Nisa terdengar dari bawah. “Kalian semua turun, Jangan berdiri di situ bahaya!” kami langsung terkejut.
“Iya, ustazah!” jawab kami hampir bersamaan.
Dengan cepat kami turun dari bale meusaneut sambil saling mendorong kecil dan tertawa malu. Setelah itu kami disuruh ke ruang makan, kami pun bergegas menuju ke sana dengan dipenuhi air. Langkah kami harus sangat hati-hati karena arus kecil terus mengalir.
Sesampainya di ruang makan ternyata antrian sudah sangat panjang.
ya ampun…. Pajang kali”, keluh Maya.
Walaupun keadaan banjir, semua orang tetap berusaha makan seperti biasa. Suasa ruang makan tetap ramai oleh suara sendok, obrolan kecil, dan tawa santri-santri yang mencoba menghibur diri. Aku mengambil nasi dan duduk bersama teman-temanku. Saat makan, kami saling becerita tentang kejadian tadi pagi. Bantal gulingku udah kayak kapal tadi…kata salah satu yang langsung membuat kami tertawa.
Untuk sesaat, rasa takut hilang digantikan kebersamaan yang hangat. Setelah selesai makan, kami berjalan pulang melewati banjir yang masih tinggi. Saat itulah Maya tiba-tiba berhenti dan menunjuk ke arah depan.
“Itu kayaknya cecek aku deh” kata Maya sambil bereda
Kami ikut melihat ke arah yang ditunjuk Maya. Awal Kami mengira dia hanya bercanda seperti biasa. Namun beberapa detik kemudian wajah Maya berubah serius.
“Eh itu benar cecek ku…”
Ternyata memang benar. Ceceknya Maya berjalan menerobos banjir sambil memegang payung di tangannya. Ya Allah benar ternyata,” kataku terkejut.
Maya terlihat sangat. Sedih. Ia buru-buru mendatangi Ceceknya dengan cemas dan Ceceknya pun mengajak nya pulang. Maya tidak punya pilihan lain selain menjawab iya.
Tak lama kemudian Maya pulang dengan keadaan tidak membawa apa-apa karena tidak bisa kembali ke kamar karena arusnya cukup deras. Di luar, banjir semakin menyeramkan Potongan kayu besar hanyut mengikuti arus air keruh bergerak cepat melewat jalan-jalan sekitar dayah.
Karena kendaraan tidak bisa masuk akhirnya kami semua berjalan kaki bersama, langkah kami sangat pelan karena harus menjaga keseimbangan di tengah arus banjir. Kadang kami tertawa saat ada yang hampir terpeleset, tetapi sebenarnya dalam hati kami semuanya takut. Perjalanan terasa sangat panjang kaki kami mulai pegal dan pakaian semakin basah. Hujan rintik-riatik masih tarun, menambah dingin suasana pagi itu.
Setelah hampir tiga puluh menit berjalan, kami akhirnya sampai di tempat yang lebah aman. Aku menoleh ke belakang. Dari kejauhan kawasan dayah masih terlihat dikelilingi banjir, langit tetap mendung dan suara air masih terdengar dimana-mana.Hari itu menjadi Pengalaman yang tidak akan pernah kulupakan. Rintik hujan yang awalnya terasa indah ternyata berubah menjadi banjir besar yang membuat kamu Panik dan ketakutan. Namun dibalik semua itu aku belajar tentang kebersamaan, kepedulian, dan bagaimana kami saling plan membantu di tengah kesulitan. Kadang kenangan paling berharga memang lahir dari hari-hari yang paling sulit…[].
