“Bukankah nikmat yang paling sering kita lupakan adalah nikmat yang selalu ada?”
-Previous-
Arfan, seorang santri yang berasal dari keluarga yang harmonis dan berkecukupan. Kedua orang tuanya masih lengkap, menyayanginya sepenuh hati, serta selalu memenuhi segala kebutuhan pendidikannya. Meski hidup dalam kecukupan, Arfan sering merasa tidak puas. Ia menganggap rutinitas asrama yang padat, aturan yang ketat, serta berbagai kegiatan harian sebagai beban yang melelahkan. Tanpa disadari, keluhan demi keluhan terus keluar dari lisannya, seolah-olah dirinya adalah orang yang paling berat menjalani kehidupan.
Perjalanan hidup Arfan mulai berubah ketika ia mengenal lebih dekat teman-temannya di asrama. Di balik senyum yang selalu mereka tunjukkan, tersimpan kisah perjuangan yang jauh lebih berat. Ada yang telah kehilangan ayah, ada yang tumbuh tanpa ibu, bahkan ada yang harus berjuang dengan keterbatasan ekonomi demi tetap bisa menuntut ilmu. Pertemuan dengan mereka menjadi titik balik yang perlahan membuka mata Arfan bahwa nikmat Allah tidak selalu diukur dari kemudahan hidup, melainkan dari kemampuan hati untuk menyadari dan mensyukurinya.
____________
Pagi itu, embun masih menggantung di pucuk dedaunan. Langit belum sepenuhnya terang ketika suara bel asrama memecah keheningan. Santri-santri bergegas bangun. Ada yang berlari menuju tempat wudhu’, ada yang masih merapikan sarung sambil mengusap mata yang berat.
Di antara mereka, Arfan menghela napas panjang.
“Kenapa sih setiap hari harus begini?” gumamnya pelan. “Bangun sebelum Subuh, antre kamar mandi, hafalan, sekolah, kegiatan sore, malam belajar lagi. Capek…”
Keluhan itu hampir setiap hari keluar dari mulutnya. Baginya, hidup di asrama terasa seperti kehilangan kebebasan. Tidak bisa bermain kapan saja, tidak bisa memegang gawai sesuka hati, tidak bisa menikmati makanan favorit setiap hari.
Padahal, jika dibandingkan dengan banyak orang, Arfan adalah anak yang sangat beruntung.
Ayahnya seorang pengusaha sukses di Aceh. Ibunya memiliki usaha yang berkembang pesat. Setiap bulan uang saku selalu dikirim tepat waktu, bahkan lebih dari cukup. Saat liburan, mereka selalu datang menjemput dengan mobil yang nyaman sambil membawa makanan kesukaannya.
Tidak pernah sekalipun Arfan kekurangan. Namun, entah mengapa, ia selalu merasa hidupnya paling berat.
Suatu sore, setelah kegiatan bersih-bersih asrama, Arfan duduk di tangga sambil menggerutu.
“Aku bosan hidup begini.” Di sampingnya duduk seorang teman sekamar bernama Malik. Wajah Malik tenang. Bajunya sudah mulai pudar karena sering dicuci. Sandalnya bahkan tampak sudah beberapa kali dijahit.
“Aku ingin pulang saja,” lanjut Arfan.
Malik hanya tersenyum kecil.
“Kalau boleh tahu,” katanya lembut, “apa yang paling membuatmu ingin pulang?”
“Semuanya. Kegiatan terlalu padat. Bangun pagi, belajar terus. Rasanya hidup ini cuma aturan.”
Malik mengangguk.
“Aku justru takut kalau harus pulang.”
Arfan mengernyit.
“Kenapa?”
Malik menatap langit yang mulai memerah.
“Karena di rumah sudah tidak ada yang menungguku.”
Kalimat itu membuat Arfan terdiam.
“Ayahku meninggal ketika aku kelas empat SD. Dua tahun kemudian ibu juga dipanggil Allah.” Suara Malik tetap tenang, tetapi matanya mulai berkaca-kaca.
“Sekarang aku tinggal bersama nenek. Beliau sudah tua. Untuk membayar biaya sekolah saja kami dibantu beasiswa dan orang-orang baik.”
Arfan menelan ludah. Selama ini ia tidak pernah tahu. Malik tidak pernah menceritakannya kepada siapa pun. Malam itu, setelah salat Isya, ustaz meminta seluruh santri berkumpul di mesjid. Beliau bercerita tentang syukur.
“Bersyukur bukan ketika semua keinginan kita terpenuhi,” ujar beliau. “Bersyukur adalah ketika kita mampu melihat nikmat yang selama ini kita anggap biasa.”
Kemudian beliau bertanya kepada seluruh santri.
“Siapa di sini yang masih memiliki ayah dan ibu lengkap?”
Sebagian besar santri mengangkat tangan. Lalu beliau bertanya lagi.
“Siapa yang hanya memiliki satu orang tua?” Beberapa tangan terangkat.
“Siapa yang sudah yatim atau yatim piatu?” Beberapa santri mengangkat tangan perlahan.
Ruangan mendadak sunyi. Arfan mulai memperhatikan wajah teman-temannya satu per satu. Selama ini mereka selalu tersenyum. Selalu ikut kegiatan. Selalu berusaha menghafal. Padahal, ternyata mereka sedang memikul beban yang tidak pernah ia bayangkan.
Beberapa hari kemudian, Arfan mendapat tugas piket bersama Malik. Saat sedang menyapu halaman, sebuah mobil mewah berhenti di depan gerbang. Seorang santri kecil berlari menyambut tamunya. Namun bukan orang tuanya. Yang datang hanyalah pamannya. Arfan mendengar percakapan mereka.
“Ibumu titip salam.”
“Ayah?”
Pamannya hanya terdiam beberapa saat.
“Kamu tahu sendiri… Ayahmu masih bekerja di luar negeri. Beliau belum bisa pulang.”
Santri kecil itu tersenyum.
“Tidak apa-apa, yang penting Ayah sehat.”
Arfan kembali terdiam. Betapa banyak orang yang merindukan pelukan orang tua. Sementara dirinya sering mengabaikan telepon ibunya karena sedang bermain bersama teman. Malam itu, Arfan membuka lemari. Di dalamnya tersusun rapi pakaian baru yang selalu dikirim ibunya. Sepatu cadangan. Selimut tebal. Makanan ringan. Peralatan belajar yang lengkap. Ia tiba-tiba teringat sandal Malik yang telah berkali-kali dijahit. Dadanya terasa sesak. Selama ini ia mengeluh bukan karena kekurangan. Ia mengeluh karena terlalu sibuk menghitung apa yang tidak ia sukai, hingga lupa menghitung nikmat yang Allah titipkan.
Beberapa hari kemudian, Arfan menulis sepucuk surat kepada kedua orang tuanya.
Ayah dan Ibu…Terima kasih telah mengizinkan aku belajar di Dayah Jeumala Amal. Dulu aku menganggap semua kegiatan di sini adalah beban. Sekarang aku mulai mengerti bahwa semua ini sedang membentukku menjadi pribadi yang lebih kuat.Maaf karena selama ini aku lebih sering mengeluh daripada bersyukur. Padahal Allah telah memberikan begitu banyak nikmat melalui Ayah dan Ibu. Aku berjanji akan belajar lebih sungguh-sungguh dan tidak menyia-nyiakan kesempatan ini.
Saat melipat surat itu, air matanya jatuh tanpa terasa. Bukan karena sedih. Tetapi karena akhirnya ia menyadari sesuatu yang selama ini luput dari pandangannya. Sejak hari itu, Arfan memang masih merasa lelah. Ia tetap mengantuk saat bangun sebelum Subuh. Tetap berkeringat ketika membersihkan asrama. Tetap harus menghafal ketika teman-teman di luar mungkin sedang menikmati liburan. Namun, kini ia menjalani semuanya dengan hati yang berbeda. Ia mulai melihat setiap kegiatan sebagai latihan kedisiplinan.
Setiap nasihat ustaz sebagai bekal kehidupan. Setiap antrean kamar mandi sebagai pelajaran tentang kesabaran. Dan setiap hari di dayah sebagai nikmat yang tidak semua anak miliki. Suatu malam, sebelum tidur, Arfan memandang langit dari jendela asrama. Dalam hati ia berbisik,
“Ya Allah… ternyata selama ini hidupku jauh lebih indah daripada yang kusadari. Ampuni aku yang terlalu sering mengeluh atas nikmat-Mu. Jadikan aku hamba yang pandai bersyukur, karena aku tahu, di luar sana ada banyak orang yang sedang berdoa agar memiliki kehidupan seperti yang Engkau titipkan kepadaku.”
Sejak saat itu Arfan memahami satu pelajaran yang tidak pernah tertulis di papan kelas.
Sering kali yang membuat kita menderita bukan karena hidup ini kekurangan nikmat, melainkan karena hati terlalu sibuk menghitung kesulitan dan lupa menghitung karunia. Karena sesungguhnya, sebelum bertanya “Mengapa hidupku seberat ini?”, mungkin kita perlu bertanya terlebih dahulu,
“Pantaskah aku mengeluh?” [].
