Pada Sabtu, 2 Mei 2026, Dayah Jeumala Amal kembali menunjukkan bahwa dunia pendidikan tidak harus berjalan di tempat seperti kaset rusak. Melalui sebuah pelatihan guru yang melibatkan tenaga pendidik dari MTs Jeumala Amal, kegiatan ini diarahkan untuk meningkatkan efektivitas metode pembelajaran yang selama ini sering dianggap “cukup” padahal sebenarnya bisa jauh lebih baik.
Kegiatan ini menghadirkan tokoh yang sudah sangat akrab di lingkungan dayah, yakni Prof. Usman Kasim, M.Ed., seorang akademisi senior dan dosen kebanggaan Universitas Syiah Kuala. Bersama timnya, beliau tidak datang hanya untuk memberi materi normatif, tetapi juga membawa pendekatan yang lebih reflektif terhadap praktik mengajar yang selama ini berjalan.
Pelatihan dibuka secara resmi di Laboratorium Komputer MAS Jeumala Amal yang terbaru, sebuah fasilitas yang menjadi simbol bahwa perubahan memang harus dimulai dari lingkungan yang mendukung. Setelah pembukaan, kegiatan dilanjutkan ke sesi inti yang dibagi berdasarkan rumpun keilmuan. Pada hari pertama, fokus diberikan kepada guru-guru mata pelajaran Bahasa Indonesia dan Ekonomi.
Untuk bidang Bahasa Indonesia, salah satu pemateri utama adalah Muhammad Idham, S.Pd., M.Ed., yang merupakan dosen di FKIP Bahasa Indonesia USK. Dengan pengalaman panjang di dunia akademik, beliau menyampaikan materi dengan pendekatan yang tidak hanya teoritis, tetapi juga aplikatif.
Materi pelatihan menyoroti konsep deep learning dalam pembelajaran, termasuk pembahasan tentang “kurikulum ful-ful”. Konsep ini menekankan pentingnya pembelajaran yang tidak berhenti pada hafalan, melainkan mendorong pemahaman yang lebih mendalam dan berkelanjutan. Sebuah ide yang terdengar ideal, tapi justru itu yang selama ini sering terlewat dalam praktik sehari-hari.
Menariknya, suasana pelatihan tidak sepenuhnya formal. Banyak peserta yang merupakan alumni lintas generasi dari FKIP Unsyiah, sehingga kegiatan ini juga menghadirkan nuansa kebersamaan yang kuat. Di sela-sela diskusi serius, terselip percakapan ringan yang mengingatkan bahwa mereka pernah berada di titik yang sama sebagai mahasiswa.
Menjelang akhir sesi pertama, Prof. Usman Kasim kembali aktif terlibat dalam diskusi, khususnya saat membahas ambiguitas dalam penggunaan bahasa sehari-hari. Dengan gaya yang komunikatif, beliau mengajak peserta untuk menyadari bahwa kesalahan kecil dalam berbahasa dapat menimbulkan makna ganda yang berpotensi menimbulkan kesalahpahaman.
Hingga berakhirnya sesi pertama, pelatihan ini memberikan kesan yang cukup mendalam bagi para peserta. Tidak hanya sebagai wadah peningkatan kompetensi, tetapi juga sebagai ruang bertemu kembali dan saling menguatkan antar sesama pendidik. Di tengah berbagai tantangan pendidikan, kegiatan seperti ini menjadi pengingat bahwa kualitas pembelajaran tidak akan meningkat dengan sendirinya tanpa usaha yang sungguh-sungguh.
Setidaknya, untuk hari pertama ini, para guru tidak hanya pulang dengan catatan materi, tetapi juga dengan perspektif baru tentang bagaimana seharusnya proses belajar itu dijalankan.
