Serangkai Imajinasi dari: Azkia Syahira (Murid Kelas XI MIA 6)
– Penulis Novel “Antara Dua Doa”
Debu tebal seakan-akan menjadi salju di musim dingin, hampir keseluruhan sampul buku itu tertutup karenanya. Aneira mencoba menggapai buku tua yang tergeletak jauh di bawah Kasur.
Entah sudah hampir berapa dasawarsa ia ada di sana. Seperti kebiasaan orang-orang, sebelum ia membuka buku itu—tangannya mengusap-usap sampulnya, menyingkirkan debu yang sudah lama bersemayam.
Aneira membuka lembara demi lembaran. Tanpa sadar, bibirnya terangkat sedikit. Senyum yang menunjukkan raut haru dan kecewa. Dulu, buku itu menjadi sahabat baiknya dalam hal membagikan mimpi-mimpi.
Ia ingat bagaimana ia selalu mengabadikan segala impiannya di sana, baik mimpi besar maupun kecil.
Ia kecewa karena ada mimpi yang tak terwujud sekaligus nama para senja yang tertulis di sana tapi ia juga terharu karena ia kembali membuka buku itu Ketika ia sudah menjadi seorang diplomat muda.
“Kamu kembali menemukan buku itu, Ra?” tanya Bunda saat melihat Aneira duduk termenung di depan kasur. Mereka sedang mengunjungi rumah lama yang akan dijual.
“Iya, Bunda. Sudah lama sekali sampai warna sampulnya memudar.”
“Kamu ingin membawa pulang buku itu? Atau ingin ditinggalkan saja?”
“Aku bawa pulang ke apartemen kita. Ini kenangan yang sangat berharga bagiku.”
Bunda ikut berlutut di samping Aneira lalu merangkul pundak sang anak. “Lihat mimpi-mimpimu yang dulu kamu tulis. Padahal mimpinya sederhana tapi tidak bisa kamu gapai waktu itu, itu bukan salahmu, salah Bunda.”
“Tidak ada yang salah Ketika mimpi tidak terwujud, Bunda. Masing-masing sudah diukur Tuhan. Meski dulu mimpiku hanya sebatas mandi di kolam renang tapi sekarang anak-anakku bisa merasakannya tanpa keterbatasan apa pun.” Aneira bertutur lembut—tangannya mengusap sudut buku yang ia pegang.
“Terkadang kita sudah berusaha tapi Tuhan tak langsung mewujudkannya pada garis takdir kita. Bisa saja apa yang kita usahakan akan dipungut hasilnya pada orang setelah kita.”
Senyum bangga Bunda terukir mendengar penuturan Aneira. Gadis kecil yang dulunya cerewet—kini sudah menjadi diplomat muda yang bijaksana.
Memang benar adanya, sejak ia memilih turun dalam dunia politik sekaligus meraih mimpi terbesarnya. Ia belajar banyak hal baru untuk menjalani hidup.
Aneira cukup tentang sesuatu, tentang pandangan yang selama ini sangat keliru. Untuk meraih cita-cita, ia harus berhadapan dengan pahitnya kenyataan.
Ternyata, mencapai kata sukses dan berhasil tidak sekedar berpijak pada kata berdoa dan berusaha. Tidak semudah motivator menulis kisah kesuksesan mereka, sebab tulisan bisa menipu dengan rekayasa cerita.
Satu hal yang paling berbekas dalam diri Aneira saat mengingat orang-orang sukses yang sekarang ia juga sama seperti mereka.
Belajarlah mengenal orang-orang sukses dari kisah jatuhnya mereka dan amati cara mereka bangkit dari puluhan kegagalan yang mereka perbuat.
Tanyakan pada mereka berapa banyak eskpektasi yang kini terkubur di bawah tanah percobaan yang gagal.
Seseorang pernah menasehati Aneira dan berkata, “jangan lihat mereka yang kini berdiri di atas gunung keberhasilan tapi lihat saat bagaimana pertama kali mereka belajar mendaki gunung itu.”
Cukup lama Aneira melamun dan mengingat masa-masa sulitnya. Ia baru tersadar saat Bunda tidak sengaja menjatuhkan papan lukisan di kamar itu.
Lagi-lagi debu mendominasi ruangan—seperti badai dasyat yang membuyarkan pandangan.
Aneira reflek menutup mulut dan hidung sembari mengibaskan sisa debu yang masih berterbangan. Namun, detik itu juga manik matanya langsug terpaut pada lukisan tadi. Pemandangan senja ada di hadapannya.
Ia jadi teringat dengan nama-nama yang juga ia tulis di buku tua tadi. Aneira menyebut mereka sebagai ‘sahabat senja’. Tangan perempuan itu mengangkat buku—membandingkan tulisannya dengan lukisan di hadapannya.
“Mereka semua adalah senja, datang dan pergi.” Tanpa sadar, mulutnya merangakai kata itu.
Saat Aneira masih bersekolah, banyak teman-temannya yang berjanji akan terus ada bersamanya—baik suka maupun duka. Tapi kenyaataannya hari ini? Mereka tak pernah berkabar.
Aneira nyaris tidak tahu satu pun dimana mereka sekarang. Mereka semua meninggalkannya. Padahal, Aneira tidak pernah berniat menyusahkan mereka, ia hanya ingin mereka ada dan salng bertukar cerita.
Dengan kesadaran penuh, Aneira merobek kertas betuliskan nama-nama itu. Bukan dengan amarah—melainkan dengan niat ikhlas agar hatinya tidak terus terbayang dengan pengkhiatan beberapa dari mereka yang pura-pura tak mengenalinya saat ia sedang berada dalam pusaran penderitaan.
“Yang tak pantas dicintai seharusnya tak pernah kukenali.”
Hanya dua hal itu yang paling membekas bagi Aneira dengan buku tua itu, mimpinya dan para senja.
Aneira bangkit perlahan dan memasukkan bukunya ke dalam tas jinjing yang ia pakai. Ia akan meletakkan buku itu pada salah satu rak paling tinggi di apartemennya.
Mungkin, orang-orang akan menganggapnya membawa pulang sampah masa lalu tapi bagi Aneira ia membawa pulang bukti bahwa ia pernah menjadi kerikil sebelum menjadi berlian.
Tidak semua masa lalu haru dibuang, terkadang menyimpannya jauh lebih baik. “Aku akan menyimpan buku ini sebagai kenangan berharga. Bukan untuk mengingat luka tapi untuk mengingat bahwa aku pernah punya mimpi sebesar ini dan hati yang cukup berani untuk memercayainya.”
