Oleh: Niswatul Chaira
Di asrama putri, tidak ada bunyi notifikasi. Tidak ada layar yang menyala diam-diam di balik selimut.
Tidak ada dunia digital yang bisa dijadikan pelarian. Yang ada hanya suara langkah kaki di koridor,
desiran angin dari jendela kayu, dan isi kepala yang kadang jauh lebih bising dari keramaian mana pun.
Alya dikenal sebagai santriwati yang tenang. Tidak banyak bicara, tidak pernah melanggar aturan,
dan selalu terlihat “baik-baik saja”. Kalimat yang sering ia dengar. “Alya itu dewasa, Alya kuat.” Ia hanya tersenyum. Padahal, tidak ada yang tahu betapa sering ia menekan dirinya sendiri untuk tetap terlihat seperti itu.
Di pesantren, hari dimulai sebelum matahari. Bangun, wudhu, shalat, mengaji, sekolah, kembali mengaji. Semua berjalan rapi, berulang, dan penuh makna. Tapi di sela-sela itu, Alya merasa seperti kehilangan sesuatu yang tidak bisa ia jelaskan. Saat teman-temannya bercanda di kamar,
ia ikut tertawa, meski tidak benar-benar merasa lucu. Saat ustazah bertanya, ia menjawab
meski hatinya kosong. Dan setiap kali ada yang bertanya, “Kamu kenapa?”
jawabannya selalu sama. “Aku nggak apa-apa.”
Suatu malam, lampu kamar dipadamkan lebih cepat. Semua mulai terlelap satu per satu. Alya masih terjaga. Ia menatap langit-langit, sementara pikirannya berisik tanpa suara. “Kenapa aku capek terus?” “Kenapa aku merasa sendirian, padahal banyak orang di sekelilingku?” “Kenapa aku nggak bisa jadi sekuat yang mereka kira?”.
Pertanyaan itu datang seperti ombak, tidak terlihat, tapi menghantam terus-menerus. Alya menarik selimutnya, seolah bisa menyembunyikan dirinya dari pikirannya sendiri. Tapi tidak bisa.
Besoknya, Alya tetap menjalani hari seperti biasa. Ia duduk di kelas, membuka kitab, menulis catatan. Tapi tulisannya berhenti di tengah. Air matanya jatuh pelan, diam-diam. Ia cepat-cepat menghapusnya sebelum ada yang melihat. Di sini, menangis terasa seperti kesalahan.
Sore itu, saat waktu istirahat, Alya memilih duduk di sudut halaman belakang. Tempat yang jarang didatangi. Ia tidak ingin berbicara. Tidak ingin menjelaskan. Ia hanya ingin… diam. Mode diam versinya sendiri.
Bukan karena tidak punya kata, tapi karena terlalu banyak yang tidak tahu harus dimulai dari mana. “Kamu di sini, ya.” Alya menoleh. Itu Kak Nisa, pengurus asrama. Alya buru-buru menghapus wajahnya. “Kamu habis nangis? ”Alya menggeleng cepat. “Nggak, Kak.” Kak Nisa tidak membantah. Ia hanya duduk di samping Alya. “Kadang,” katanya pelan, “diam itu bukan berarti nggak ada apa-apa.”
Alya terdiam. Kalimat itu terasa… mengerti. “Alya,” lanjut Kak Nisa, “kamu nggak harus selalu kuat di depan semua orang.” “Aku takut dibilang lemah, Kak,” jawab Alya lirih. “Lemah itu bukan saat kamu merasa capek. Lemah itu kalau kamu terus memaksa diri tanpa peduli sama hatimu.” Alya menunduk. Air matanya jatuh lagi. Kali ini tidak ia tahan.
“Aku capek, Kak…” akhirnya keluar juga. Satu kalimat itu terasa seperti membuka pintu yang lama terkunci. Kak Nisa tidak memberi ceramah panjang. Ia hanya mendengarkan. Dan untuk pertama kalinya, Alya merasa tidak harus menjelaskan semuanya dengan sempurna.
Cukup jujur.
Hari-hari berikutnya tidak langsung berubah. Alya masih punya hari-hari berat. Masih ada malam-malam panjang. Tapi ada satu hal yang berbeda. Ia tidak lagi memendam semuanya sendirian. Sesekali, ia bercerita. Sesekali, ia mengaku lelah. Sesekali, ia memilih diam tapi bukan untuk menyembunyikan, melainkan untuk menenangkan.
Di pesantren itu, Alya belajar satu hal yang tidak tertulis di buku mana pun. Bahwa menjadi santri bukan berarti harus selalu terlihat kuat, bukan berarti harus selalu tersenyum. Tapi tentang belajar mengenali diri, menerima lelah, dan tetap berjalan dengan hati yang jujur.
Mode diam itu masih ada. Tapi kini, bukan lagi tempat bersembunyi. Melainkan ruang kecil untuk Alya kembali pada dirinya sendiri tanpa harus berpura-pura baik-baik saja [].
