Oleh: Niswatul Chaira
Di kepalaku, perang tak pernah diumumkan,
tidak ada terompet, tidak ada bendera,
hanya denting sunyi
yang tiba-tiba berubah menjadi ledakan.
Pikiran datang seperti pasukan tanpa wajah,
membawa keraguan sebagai senjata,
menyerbu setiap sudut ketenangan
yang baru saja ingin aku bangun
Aku menjadi medan
tempat logika dan rasa
saling menjatuhkan tanpa jeda
Satu berkata, “kau baik-baik saja,”
yang lain berbisik, “kau tak pernah cukup.”
Aku lelah menjadi penengah
antara suara yang tak mau berdamai,
lelah menyusun ulang diriku
setiap kali runtuh tanpa alasan yang jelas
Malam adalah waktu paling jujur,
ketika pertahanan runtuh satu per satu,
aku berdiri sendiri
di tengah riuh yang tak terlihat.
Tidak ada yang tahu
betapa bisingnya kesunyian ini,
betapa tajamnya pikiran
yang berbalik menjadi luka
Aku tidak mencari kemenangan,
aku hanya ingin gencatan senjata
sejenak saja,
agar aku bisa bernapas tanpa rasa takut.
Jika suatu hari
kau melihatku tersenyum lebih lama,
mungkin itu bukan karena perang telah usai,
melainkan karena aku akhirnya belajar
memeluk diriku di tengah kekacauan
Sebab di balik semua ini,
aku masih bisa bertahan
meski dengan langkah kecil
meski dengan hati yang penuh tambalan [].
