Oleh Azmi Abubakar
Pengajar Sejarah di Dayah Jeumala Amal
Kitab Nuzhatul Ikhwan merupakan salah satu warisan intelektual penting dari khazanah keilmuan Aceh yang memperlihatkan keluasan pandangan ulama Nusantara pada masanya. Ditulis dalam aksara Arab-Jawi, kitab ini adalah jejak peradaban yang mencatat perjumpaan antara ilmu, budaya, dan jaringan dunia Islam yang luas. Melalui kitab ini, tampak jelas bahwa ulama Aceh berinteraksi aktif dengan arus besar keilmuan Islam lintas wilayah dan bahasa.
Kitab Nuzhatul Ikhwan ini setebal 48 halaman, di halaman pertamanya dengan tegas mencantumkan nama pengarangnya Abdullah bin Ismail al-Asyi, anak dari Syekh Ismail al-Asy. Melihat kepada penulisnya, maka dapat disimpulkan bahwa karya ini lahir dari lingkungan keluarga yang akrab dengan tradisi ilmu. Ayahnya, Syekh Ismail al-Asyi, dikenal sebagai seorang alim yang menulis salah satu tema dalam kitab Jâm‘ul Jawâmi‘ al-Muṣannifât, sebuah karya yang masyhur di Aceh dengan sebutan Kitab Lapan. Kitab tersebut menjadi rujukan penting dalam pengajian tradisional dan menunjukkan keluasan ilmu sang ayah dalam merangkum tema fikih dan tasawuf.
Keistimewaan utama Nuzhatul Ikhwan terletak pada isinya yang berbentuk kamus empat bahasa: bahasa Arab, Turki, Melayu, dan Aceh. Pemilihan empat bahasa ini mencerminkan bentang keilmuan yang luas dan kesadaran geopolitik-keagamaan yang tajam. Bahasa Arab ditempatkan sebagai bahasa wahyu, bahasa keilmuwan dan bahasa utama tradisi keulamaan. Bahasa Turki menunjukkan keterhubungan dengan dunia Islam Usmani, yang pada masa itu menjadi akhir pusat kekuasaan dan simbol persatuan umat Islam. Bahasa Melayu berfungsi sebagai lingua franca Nusantara, bahasa penghubung antarwilayah dan sarana utama penyebaran ilmu. Sementara itu, bahasa Aceh menegaskan akar lokal pengarangnya dan menjadi bentuk penghormatan terhadap bahasa masyarakat tempat ilmu itu tumbuh dan diajarkan.
Dengan demikian, Nuzhatul Ikhwan bukan hanya kamus dalam pengertian teknis, tetapi juga pernyataan kebudayaan. Hal ini menunjukkan bagaimana seorang ulama Aceh memandang bahasa sebagai jembatan. Menelusuri bagian awal kitab ini, syeh Ismail menulis:
Artinya: “Dan Kunamai akan dia Nuzhatul Ikhwan artinya temoat bersuka -suka hati sekalian saudara pada Pelajaran sekalian Bahasa dan menyatakan berlainan sekalian Bahasa. (Syeh Abdullah bin Ismail Al Asyi, Inilah Risalah yang Bernama Nuzhatul Ikhwan, Kairo, Maktabah wa Mathba’ah Al Babi Al Halabi wa
Auladuhu bi Mishr, 1930, h. 3).
Selanjutnya Syekh Abdullah menulis manfaat mempelajari Bbahasa tersebut: Barangsiapa mengetahui akan Bahasa orang niscaya terlepaslah ia daripada tipudaya mereka itu dan kajahatan ((Syeh Abdullah bin Ismail Al Asyi, Inilah Risalah yang Bernama Nuzhatul Ikhwan, Kairo, Maktabah wa Mathba’ah Al Babi Al Halabi wa Auladuhu bi Mishr, 1930, h. 3).
Disebutkan pula waktu penulisan kitab ini, yakni Rabi‘ul Awal tahun 1349 H. Kitab ini lahir ketika Nusantara sedang mengalami berbagai perubahan politik dan budaya di pemerintahan Hindia Belanda. Dalam halaman pembuka, Syekh Abdullah bin Ismail al-Asyi juga menyertakan beberapa istilah dan teks, lalu menerjemahkannya ke dalam bahasa Arab-Jawi. Beliau menjelaskan struktur kitab ini dengan sistematis, Nuzhatul Ikhwan terdiri dari lima fasal, dua rukun, dan dua khatimah.
Syeh Abdullah memulai pasal pertama mengenai makna kosa kata penting baik dalam Bahasa Arab, Turki, Melayu dan Aceh. Pada pasal kedua berkaitan dengan perintah. Dalam pasal ketiga dijumpai ada 17 kata dalam bentuk larangan. Pasal ke empat Syeklh Abdullah menulis Lafaz dalam bentul lampau,pada pasal selanjutnya ada bilangan, bulan dan ditutup dengan contoh kalimat yang sarat dengan nasehat. Salah satunya adalah:
الصَّبْرُ مِفْتَاحُ دَارِ السَّلَامَةِ ودواء كل مصيبة
Artinya: “Sabar itu anak kunci rumah keselamatan dan obat bagi tiap tiap bala” (Syeh Abdullah bin Ismail Al Asyi, Inilah Risalah yang Bernama Nuzhatul Ikhwan, Kairo, Maktabah wa Mathba’ah Al Babi Al Halabi wa Auladuhu bi Mishr, 1930. h. 40).
Salah satu bagian penting membahas tarkīb percakapan, yakni susunan dan penggunaan bahasa dalam komunikasi sehari-hari. Nuzhatul Ikhwan juga memperhatikan konteks, etika, dan fungsi bahasa dalam pergaulan. Menariknya Dua khatimah yang menjadi penutup kitab memuat wasiat dan nasihat adab. Di antaranya adalah “Ketahui olehmu hai anakkuhendaklah menjauhan daripada segala perkara ini yaitu tidur pagi-pagi.” (Syeh Abdullah bin Ismail Al Asyi, Inilah Risalah yang Bernama Nuzhatul Ikhwan, Kairo, Maktabah wa Mathba’ah Al Babi Al Halabi wa Auladuhu bi Mishr, 1930, h. 45).
Di sinilah Nuzhatul Ikhwan menampakkan wajahnya sebagai kitab adab, bukan hanya kitab bahasa. Salah satu nasihat yang paling menonjol dan sering dikutip adalah anjuran agar jangan tidur pagi. Petuah ini mengandung makna yang dalam dalam tradisi keulamaan Islam. Tidur pagi, dalam pandangan para ulama, menjadi penanda akan kelalaian terhadap waktu. Pagi hari dipahami sebagai waktu keberkahan, waktu kejernihan akal, dan saat terbaik untuk menuntut ilmu serta bekerja.
Dengan menasihatkan agar tidak tidur pagi, Syekh Abdullah bin Ismail al-Asyi sebenarnya sedang menanamkan etos disiplin, kesungguhan, dan tanggung jawab terhadap amanah waktu. Nasihat ini disandingkan dengan petuah-petuah adab lainnya, seperti menjaga kesopanan, kesungguhan belajar, dan kehati-hatian dalam berucap, sehingga membentuk satu kesatuan etika hidup penuntut ilmu. Selain itu Syekh Abdullah juga menukilkan nasihat tentang adab makan, larangan makan Ketika berjunub, berbaring dan memanggil ibu bapak dengan namanya. Syekh Abdullah menulis larangan ini dalam 4 bahasa, Arab, Turki, Melayu dan Aceh.
ولأكل جنبا ولأكل متكئاً ونداء والدين بأسمئها
وجنب ايكن يمك يمك وطيا ايكن يمك يمك وبوينى اسمارله جاغرمق
دن برماکن دالم جنب دن برماکن سرتا دودوق برسيکو دن ممڠݢيلکن ايبو باڤ دڠن ناماڽ
دان تافوماجوه دالم جنوب دان تافوماجوه متمفڠ سيڠكو دان تاهوى ماكو دڠن نان
Artinya: “Dan bermakan dalam junub dan bermakan serta duduk bersiku dan memanggilkan ibu bapak dengan namanya” (Syeh Abdullah bin Ismail Al Asyi, Inilah
Risalah yang Bernama Nuzhatul Ikhwan, Kairo, Maktabah wa Mathba’ah Al Babi Al
Halabi wa Auladuhu bi Mishr, 1930, h. 45).
Nilai ilmiah Nuzhatul Ikhwan semakin kuat dengan fakta bahwa kitab ini pernah diterbitkan dan dicetak oleh Maktabah al-Halabi di Kairo, Mesir. Penerbitan di salah satu pusat percetakan dan keilmuan dunia Islam tersebut merupakan bentuk pengakuan terhadap kualitas dan relevansi karya ini. Kairo, yang selama berabad-abad menjadi jantung keilmuan Islam, menjadi saksi bahwa karya ulama Aceh mampu menembus batas geografis dan diterima sebagai bagian dari khazanah intelektual Islam yang sahih.
Penerbitan ini juga menunjukkan bahwa bahasa Melayu dan Aceh, ketika disusun dengan metode ilmiah dan adab keulamaan, memiliki tempat dalam percakapan ilmu dunia Islam. Nuzhatul Ikhwan dengan demikian menjadi bukti bahwa ulama Nusantara telah menjadi produsen pengetahuan yang memberi kontribusi nyata.
Secara keseluruhan, Nuzhatul Ikhwan dapat dibaca sebagai cermin peradaban Aceh yang berilmu dan beradab. Kitab Nuzhatul Ikhwan ini setebal 48 halaman dengan kesederhanaan, keluasan bahasa, keteladanan hubungan ayah dan anak, serta rangkaian nasihat dan petuah agama. Nuzhatul Ikhwan akhirnya telah menghadirkan satu pesan bahwa kemajuan ilmu hanya mungkin tumbuh di atas fondasi akhlak dan kesungguhan hidup.
