Seuntai Kisah dari: Azkia Syahira (Murid Kelas XI MIA 6)
Penulis Novel “Antara Dua Doa”
Langit malam kehilangan bintang dan gemuruhnya seolah meledek nasib malangku. Baru saja kukutip selembar kertas dari banyaknya kertas naskahku yang berceceran di lapangan saat hujan tiba-tiba turun dengan derasnya—membasahi seluruh sisa kertas sekaligus diriku.
“Menyebalkan!” Tak tahu siapa yang kumaki, tanda betapa tidak mendukungnya hari-hariku belakangan ini.
Segera aku berteduh ke panggung di dekat mushala—meletakkan kertas naskah tadi di sana. Aku berusaha mengeringkannya meski huruf-hurufnya sudah memudar, menjalar dan nyaris menghilang.
Tak terasa, ada air yang mengalir di pipiku, awalnya kupikir itu sisa tetesan hujan tapi tiap kali air itu menetes ada sakit yang begitu membuncah—menusukku hampir pada garis atma terdalam. Sesak sekali rasanya. Air itu bukan air hujan melainkan air mataku. Saking lelahnya batin ini, aku sampai tidak sadar aku sedang menangis kala itu.
Hari itu terasa seperti kutukan terbesar dalam perjalanan hidupku, di mana nyaris tujuh kali naskah ceritaku ditolak. Dan sekarang, semesta juga melakukan hal yang sama—menolaknya. Menjadikan naskahku memudar oleh air. Ditambah lagi hatiku belum berdamai dengan keadaan.
Aku iri, bahkan nyaris dengki kepada puluhan penulis yang jauh lebih berkembang daripada diriku, yang naskahnya dipinang penerbit besar, yang bukunya terjual lebih dari 1000 eksemplar hanya dalam waktu 5 menit.
“Kenapa aku tak bisa seperti mereka, Tuhan?” tanyaku sembari mengadahkan satu tanganku, menampung tetesan-tetesan hujan dan menatap langit malam yang semakin mengolok-olok nasibku.
“Kurangkah doaku selama ini? Berapa banyak rasa kecewa yang harus kutelan lagi? Berapa kali aku harus hancur karena harapan yang kubangun sendiri? Jawab aku duhai Tuhan ….”
Seakan-akan semesta mendapat perintah dari sang pencipta, satu sambaran petir menggelegar dan menyambar pohon asam jawa di depanku. Suasana yang tadinya gelap, tiba-tiba menjadi terang dan entah mengapa cahaya petir itu bertahan cukup lama. Aku merasa seperti ada dorongan kuat yang membuat fokusku hanya tertuju pada pohon besar itu.
Setelah cukup lama memandang pohon rimbun itu, aku baru tersadar tentang satu hal berharga. Aku sama seperti pohon asam jawa itu hanya saja aku buta oleh keadaan yang selalu menghimpit kesadaranku.
Satu tahun lalu, aku berjalan santai dari kamar menuju mushala lalu duduk di barisan shaf paling depan, dekat panggung—sudah menjadi kebiasanku shalat di shaf itu.
Setiap kali berdzikir bersama jamaah, aku sering memperhatikan lingkungan sekitar. Daripada membiarkan kesadaranku lenyap karena rasa kantuk, lebih baik aku melihat ke sekeliling yang sudah bosan kupandang ratusan kali.
Saat itulah aku mulai lebih sering memandang pohon asam jawa di depanku. Aku menyukainya dengan alasan ia adalah satu-satunya pohon paling rimbun dan memiliki warna paling segar untuk dipandang mata. Aku menyukai segala hal miliknya, terutama daun-daun kecilnya yang jatuh lembut menimpa tanah saat angin berhembus.
Sampai pada akhirnya kekecewaan tumbuh merambat pada hari dimana kulihat pohon rimbun itu hanya menyisakan batang gundul dan satu cabang daun. Padahal, aku tak pernah membangun kenangan indah apapun dengan pohon itu tapi rasa sedih melihatnya kehilangan jutaan daun kecilnya yang rimbun membuat hatiku terlena.
“Kenapa harus digundulin begitu sih?” tanyaku pada seorang teman.
“Kamu tidak lihat berapa banyak burung yang menjadikannya rumah baru mereka lalu membuang kotoran mereka sembarangan?”
“Aku lihat, tapi tidak harus ditebang sampai botak seperti itu!” Aku masih tidak bisa menerima kenyataan pahit yang menimpa si pohon asam jawa.
“Mungkin itu sudah menjadi keputusan terbaiknya, Syera. Lagi pula pohonnya sudah botak dan tidak mungkin tumbuh dalam waktu sehari hanya karena kamu tidak menerima keputusan itu.”
Tapi sekarang, di malam penuh kegaduhan gemuruh langit. Pohon asam jawa itu sudah kembali pada hakikatnya sebagai pohon rimbun. Daun-daunnya kembali tumbuh bahkan jauh lebih indah dan segar dari sebelumnya.
Aku yakin, saat ia kehilangan daun hijaunya, cabang panjangnya, sekaligus jati dirinya sebagai pohon, ia pasti merasa iri dengan pohon-pohon lain di sekelilingnya. Baik pohon jambu maupun pohon kenitu. Tapi ia tidak pernah berhenti tumbuh dan percaya bahwa suatu hari nanti ia akan jadi seperti mereka.
Pohon asam jawa itu cukup sadar bahwa perkembangannya membutuhkan waktu yang tidak singkat. Tidak mungkin daun-daunnya akan muncul dalam satu malam atau bahkan tumbuh rimbun dalam satu minggu.
Tapi apakah ia menyerah hanya karena tahu kenyataan pahit bahwa ia tidak bisa tumbuh cepat seperti batang kacang?
Malam itu, aku tidak lagi melihat pohon. Aku melihat diriku sendiri. Mungkin sekarang aku hanya penulis kecil yang hanya punya segelintir pembaca. Dan cukup mustahil aku bisa menjadi penulis besar hanya dalam waktu satu hari atau bahkan satu minggu.
Tapi semuanya akan membuahkan hasil jika aku menjadi pohon asam jawa itu, jika aku terus menulis dan percaya—sama sepertinya yang terus berusaha tumbuh meski tanpa dilirik hujan, disiram hanya jika semesta menyadari. Akan ada waktu dimana aku akan sama seperti penulis-penulis terkenal itu.
Aku hanya perlu melangkah tanpa berpikir berhenti dan menyerah.
