Pencarian

Sebuah Cerpen oleh Nafis Alfais (Murid Kelas VIII-4)

Hari itu adalah hari yang membosankan biasa — sampai sandalku hilang.

Namaku Leman. Santri kelas dua Tsanawiyah di Dayah Jeumala Amal. Aku bukan santri yang paling rajin, bukan pula yang paling nakal. Aku ada di golongan tengah — cukup patuh untuk tidak dapat masalah besar, tapi cukup lalai untuk sesekali lupa hal-hal kecil.

Seperti sandal.

Ceritanya begini. Sore itu aku pulang dari kelas lebih cepat dari biasanya karena ustaz mengakhiri pelajaran lima belas menit lebih awal. Aku langsung bergegas ke kamar, ganti baju, lalu bergegas lagi ke masjid untuk shalat Ashar berjamaah. Cuaca sore itu cukup terik, langit biru bersih tanpa awan.

Di masjid, aku mengambil wudhu, masuk, dan shalat berjamaah bersama ratusan santri lain. Imam hari itu bacaannya panjang — aku sempat mendengar beberapa santri di belakangku mulai menggeser posisi karena kaki kesemutan.

Selesai shalat dan wiridan singkat, aku bergegas keluar karena perut sudah lapar dan waktu makan sore tidak lama lagi.

Di sinilah masalahnya dimulai.

Sandalku tidak ada di tempat aku menaruhnya.

Aku memandangi rak sandal di luar masjid dengan perasaan tidak percaya. Posisi yang tadi kutandai — di ujung rak, di bawah pilar kedua dari kanan — kini kosong. Yang ada hanya beberapa sandal lain milik santri yang belum keluar.

Aku menunggu sampai hampir semua santri keluar. Tetap tidak ada sandalku.

Barangkali tertukar, pikirku. Aku memeriksa satu per satu sandal yang tersisa. Tidak ada yang mirip punyaku — sandalku berwarna hitam dengan garis merah di tepinya, merek yang sudah tidak ada tulisannya karena terhapus dipakai bertahun-tahun.

Tidak ada.

Dengan kaki telanjang, aku berjalan kembali ke kamar. Lantai halaman masjid panas di bawah telapak kakiku. Aku mencoba mengingat-ingat — apakah tadi aku benar-benar memakai sandal? Apakah mungkin aku tadi tidak memakai sandal sama sekali dan terlupa?

Tidak. Aku ingat jelas memakai sandal dari kamar.

Sesampainya di kamar, aku duduk di tepi kasur dan menarik napas panjang. Sandal itu adalah sandalku satu-satunya. Bukan sandal mahal, tapi sudah menemani hampir dua tahun di pondok ini. Ada ikatan tersendiri dengan benda-benda yang menemanimu sehari-hari.

“Sudah lah,” gumamku kepada diri sendiri. “Mungkin rezeki sandal itu memang sudah sampai.”

Aku sudah hampir pasrah dan mulai memikirkan cara meminta kiriman sandal baru dari orang tua, ketika dari arah pintu kamar terdengar suara langkah yang aku kenal.

Fais. Namanya Fais, kelas enam MA — jauh di atasku. Orangnya tinggi, biasanya berpakaian rapi, dan entah kenapa sore itu dia berjalan masuk ke area kamarku sambil menenteng sepasang sandal di tangannya.

Sandal itu berwarna hitam dengan garis merah di tepinya.

Sandalku.

Aku melangkah maju. “Bang, itu sandal saya.”

Fais menoleh, menatapku sebentar. “Ini sandal gua.”

Aku terdiam. Mungkin dia salah lihat. “Bukan, Bang. Sandal saya yang hitam ada garis merahnya. Itu punya saya.”

“Sandal gua juga hitam ada garis merahnya,” jawab Fais datar. Lalu tanpa menunggu jawabanku, dia melangkah pergi. Adzan Maghrib mulai berkumandang, dan Fais berjalan menuju masjid dengan sandal itu di kakinya.

Aku berdiri terpaku.

Mau marah, tapi dia lebih tua. Mau lapor ke Akhon, tapi tidak punya bukti yang kuat — sandal hitam bergaris merah bukan sandal yang langka di pondok ini. Mau kejar, tapi dia sudah menjauh.

Akhirnya aku memutuskan untuk diam-diam mengikuti jejaknya.

Dari jarak yang aman, aku mengamati kemana Fais menyimpan sandal itu sebelum masuk ke masjid. Aku melihatnya meletakkan sandal itu di rak pojok belakang, di bawah pilar terakhir.

Shalat Maghrib dimulai. Aku shalat berjamaah dengan tenang, tapi pikiranku terus berputar. Selesai shalat, sebelum Fais keluar dari shaf, aku bergerak cepat menuju rak sandal pojok belakang.

Kuambil sandal itu.

Kubawa ke kamar, kusembunyikan di bawah kasur.

Beberapa menit kemudian, dari luar kamar aku mendengar Fais berjalan mondar-mandir di area sandal, mungkin mencari-cari. Aku berpura-pura membaca buku.

Waktu berlalu. Fais akhirnya pergi dengan kaki telanjang.

Dan malam itu, saat kegiatan sudah selesai dan pondok sudah sunyi, aku mengeluarkan sandal itu dari bawah kasur dan memakainya pergi ke kamar mandi.

Rasanya ringan di kaki — seperti memakai sandal lama yang sudah tahu lekuk telapak kakimu.

Aku tidak tahu apakah Fais memang sengaja mengambil sandalku karena tertukar atau karena dia benar-benar mengira itu miliknya. Tapi malam itu, sandal itu sudah kembali ke kaki yang seharusnya.

Dan aku tidak pernah lagi meletakkan sandal di tempat yang mudah tertukar.

Sejak saat itu, aku mulai menandai sandalku — kutulis namaku kecil-kecil di bagian bawah sol dengan spidol permanen.

Kalau nanti tertukar lagi, setidaknya ada buktinya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *