Toxic Positivity

oleh: Niswatul Chaira


Halo, sahabat literasi! Pernah nggak sih kalian ngerasa capek harus kelihatan “baik-baik aja” terus di media sosial? Kayak hidup harus selalu estetik, feed harus rapi, story harus ceria, dan caption harus penuh vibes positif. Seolah-olah nggak ada ruang buat sedih, gagal, atau sekadar bilang, “hari ini aku lagi nggak baik-baik aja.”
Padahal, realitanya kita hanya manusia biasa yang emosinya kadang naik turun. Nah, dari sini kita bisa kenalan sama satu fenomena yang sering dianggap sepele tapi cukup berdampak, “toxic positivity”.

Toxic positivity adalah kondisi di mana seseorang merasa harus selalu berpikir positif dan menampilkan kebahagiaan, bahkan di saat sedang tidak baik-baik saja. Di media sosial, ini seperti aturan tak tertulis. Hanya hal-hal indah yang layak untuk ditampilkan. Sedih? Simpan. Kecewa? Abaikan. Marah? Jangan sampai kelihatan.

Kalau kita scrolling media sosial beberapa menit saja, kita langsung disuguhi berbagai “highlight” kehidupan orang lain, pencapaian, liburan, self-love moment, glow up, dan segala sesuatu yang tampak sempurna. Tanpa sadar, kita mulai membandingkan hidup kita yang penuh realita dengan potongan-potongan terbaik dari hidup orang lain. Dan di titik itu, rasa “kurang” mulai muncul.

Yang lebih tricky, toxic positivity bukan hanya datang dari orang lain, tapi juga dari kita sendiri. Kita mulai berpikir, “harusnya aku nggak boleh sedih,” atau “aku harus tetap positif biar kelihatan kuat.” Akhirnya, kita memaksa diri untuk menekan emosi yang sebenarnya butuh untuk diakui.

Padahal, emosi bukan musuh. Rasa sedih, kecewa, bahkan marah sekalipun itu adalah bagian dari proses menjadi manusia. Justru ketika kita menolak emosi-emosi itu, kita kehilangan kesempatan untuk memahami diri sendiri lebih dalam. Kita jadi asing dengan perasaan kita sendiri, dan lama-lama… lelah.

Media sosial sebenarnya bukan masalah utama. Platform ini hanyalah alat. Yang menjadi persoalan adalah “bagaimana kita menggunakannya, bagaimana standar kebahagiaan itu mulai terbentuk dan mengubah diri secara perlahan”. Ketika semua orang berlomba-lomba menampilkan versi terbaiknya tanpa keseimbangan, terciptalah ilusi bahwa hidup harus selalu baik-baik saja.

Di sisi lain, budaya ini juga membuat kita kurang empati. Ketika ada orang yang berani jujur tentang kesedihannya, respons yang muncul seringkali klise, “tetap semangat ya,” “jangan overthinking,” atau “pikirkan yang positif saja.” Niatnya mungkin baik, tapi sering kali justru mengabaikan perasaan yang sedang dialami orang tersebut.

Bayangkan kalau media sosial bisa jadi ruang yang lebih jujur. Bukan berarti kita harus membagikan semua masalah, tapi setidaknya ada keseimbangan antara kebahagiaan dan realita. Ada ruang untuk bilang, “hari ini aku capek,” tanpa takut dihakimi.

Sahabat literasi…..
Kita perlu mulai berdamai dengan kenyataan bahwa hidup tidak selalu bahagia. Dan itu normal. Tidak semua hari harus produktif, tidak semua momen harus dibagikan, dan tidak semua emosi harus disembunyikan.

Menjadi autentik di media sosial bukan berarti lemah, justru itu tanda keberanian. Berani jujur, berani apa adanya, dan berani menerima diri sendiri tanpa harus selalu terlihat sempurna di mata orang lain.
Jadi, santai aja, guys. Nggak apa-apa kalau hidup kita nggak selalu “wow” atau “goals”. Nggak apa-apa kalau lagi ngerasa down, capek, atau butuh waktu buat diri sendiri. Kita nggak harus selalu terlihat kuat cuma demi validasi digital.

Be real, be human. Karena pada akhirnya, yang kita butuhkan bukan sekadar terlihat bahagia. Tapi benar-benar merasa cukup dan utuh sebagai diri sendiri. Yuk, mulai pakai media sosial dengan lebih sadar dan lebih jujur. Karena hidup bukan soal feed yang rapi, tapi tentang perjalanan yang nyata [].

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *