Seuntai Kisah Oleh: Muhammad Nizarullah
Di antara hamparan sawah dan bukit-bukit kecil yang memeluk lembah Pidie, berdiri sebuah dayah yang pernah menjadi jantung peradaban Islam di pesisir timur Aceh. Namanya Dayah Cut — sebuah pesantren sederhana di Gampong Dayah Blang, Kecamatan Tiro/Truseb — yang didirikan oleh seorang ulama besar bernama Teungku Chik Haji Muhammad Amin Dayah Cut. Bagi masyarakat Tiro dan sekitarnya, nama beliau sudah sangat masyhur sebagai maha guru dari para guru. Beliau Adalah muara dari segala sumber ilmu di Kawasan pidie. Beliau adalah akar dari sebuah pohon besar yang buah-buahnya terus dipetik hingga hari ini, termasuk oleh seluruh rakyat Aceh yang pernah mengenal nama Perang Sabi dan sosok Teungku Chik di Tiro Muhammad Saman.
Untuk memahami siapa Tgk Chik Muhammad Amin, mari kita berkelana jauh ke belakang, ke masa ketika jalan menuju ilmu adalah jalan yang panjang, berbahaya, dan penuh pengorbanan.
Dalam tradisi lisan yang hidup turun-temurun di kalangan masyarakat Tiro, diceritakan bahwa Muhammad Amin muda pernah melakukan perjalanan panjang menuntut ilmu, bahkan sampai ke negeri Turki Usmani — pusat kekhalifahan Islam yang pada abad ke-19 masih memancarkan sinarnya ke seluruh dunia Muslim. Di sanalah, konon katanya, beliau duduk bersila di hadapan ulama-ulama besar, menyerap fiqh, tasawuf, tauhid, dan ilmu-ilmu keislaman yang menjadi bekal hidupnya.
Saya tidak menemukan, apakah Muhammad Amin lebih dulu pergi ke Turki atau ke Makkah Al-Mukarramah untuk menunaikan ibadah haji. Di Tanah Suci itulah, beliau banyak memperdalam ilmu agama dan belajar bagaimana mempersatukan umat Islam se-dunia sedunia yang mulai dihimpit oleh kekuatan-kekuatan kolonial Eropa, sebagaimana yang beliau dengar dari kisah perjuangan Sayyid Jamaluddin Al-Afghani. Sayyid Jamaluddin al-Afghani dikenal dengan pemersatu umat Islam dalam ideologi Pan-Islamisme.
Ketika akhirnya beliau kembali ke Tiro, dengan jubah seorang haji, dengan pengetahuan yang mumpuni, dan dengan hati yang dipenuhi tanggung jawab, masyarakat Pidie sebagai Teungku Chik. Gelar kehormatan yang diberikan masyarakat sebagai penanda bahwa di pundak beliaulah sebagian nasib umat diletakkan.
Di tepi aliran Sungai Pidie, di atas tanah yang oleh masyarakat setempat disebut Dayah Cut, Tgk Chik Muhammad Amin mendirikan sebuah dayah. Peradaban timur menyebutnya Zawiyah, dalam arti bahasa adalah “sudut.” Sederhananya, dayah itu adalah lembaga pendidikan Islam yang mempelajari ilmu agama dan menjadi tulang punggung peradaban Aceh selama berabad-abad.

Pidie, sejak lama, telah menjadi pusat pendidikan Islam yang disegani di Aceh. Rakyat dari berbagai penjuru mengirimkan anak-anak mereka ke Pidie agar mendapatkan pendidikan agama yang berkualitas. Di tengah tradisi keilmuan yang sudah mengakar itu, Dayah Cut yang dipimpin Tgk Chik Muhammad Amin tumbuh menjadi mercusuar. Para santri berdatangan. Kitab-kitab diperdengarkan. Ilmu-ilmu disebarkan dengan sabar dan tekun. Adab-ilmu-amal begitu kental diterapkan. Adab yang menjadi penopang dari luasnya ilmu menjadi penuntut ilmu semakin tawadhu’. Ilmu yang diimplementasikan dalam kehidupan sehari-hari menjadi kompas dalam beramal.
Dayah itu tidak berdiri megah dengan batu dan marmer. Ia berdiri dengan kayu, bambu, dan niat yang bulat. Di sampingnya terdapat sebuah zawiyah kecil. Orang Aceh menyebutnya bale. Bale itu terdapat sebuah bilik kecil tempat pengajar beristirahat. Di bale itulah para santri menimba ilmu dari sang guru. Di sampingnya terdapat sebuah sumur yang sangat besar yang dibangun dari batu-batu besar mengelilingi sumur itu. Setiap subuh menghampiri, para santri, guru, dan Masyarakat setempat bergerombolan menimba air dari sumur tua yang dibangun puluhan tahun lalu. Konon, air sumur itu tak pernah habis, meski musim kemarau panjang sekalipun — begitu setidaknya yang diingat oleh seorang warga tua yang dijumpai penulis di lokasi makam. Ada pula kolam tua, yang sekarang sudah mulai jarang terawat. Terlihat air kolam sudah berlumut. Dulunya, di kolam tua ini, para santri berwudhu sebelum menghampiri ilmu.

Arsitek di Balik Layar
Siti Aisyah, kakak kandung dari Tgk Chik Muhammad Amin, menikah dengan Teungku Syekh Abdullah dari Kampung Garot. Dari pernikahan itulah lahir seorang anak laki-laki yang kelak mengubah jalannya sejarah Aceh. Anak itu bernama Muhammad Saman. Kelak, nama ini dinobatkan sebagai pahlawan nasional, Tgk. Chik di tiro Muhammad Saman.
Ketika Muhammad Saman menginjak usia lima belas tahun, ia diantarkan ke dayah pamannya. Di sinilah untuk pertama kalinya sang calon pahlawan duduk di hadapan ulama yang paling ia percayai, pamannya sendiri, Tgk Chik Muhammad Amin. Beliau mengajar keponakannya dengan penuh perhatian, seolah tahu bahwa ada cahaya besar yang tersimpan dalam diri anak muda itu. Setelah belajar di beberapa tempat lain — di Ie Leubeue kepada Teungku Muhammad Arsyad, di Dayah Meunasah Blang, di Dayah Tanjong Bungong, hingga menempa ilmu di Lam Krak, Aceh Besar — Muhammad Saman kembali ke dayah pamannya. Ia Kembali bukan sebagai murid, melainkan sebagai pengajar. Namanya mulai dikenal. Banyak orang yang semula datang ke Dayah Cut karena nama Tgk Chik Muhammad Amin, kini datang pula karena nama keponakannya yang ilmunya semakin dalam.
Setelah beberapa tahun mengajar, Muhammad Saman memutuskan pergi ke Makkah untuk menunaikan haji, sama seperti pamannya. Saat, ia kembali, gelar haji yang disandangnya juga kedalaman berfikir tentang perlawanan terhadap penjajahan kian membuncah. Yang ia pelajari di Mekkah adalah tentang perjuangan ulama-ulama Islam se-dunia yang mengedepankan persatuan dalam Islam. Tanpa adanya embel-embel suku, ras, dan bahasa. Dari sanalah beliau memulai perjalanan perlawanan melawan penjajah. Apa yang ia pelajari disampaikan kepada sang paman. Sang paman mendengarkan dan menimbang-nimbang apa yang dipaparkan oleh keponakannya. Sejarah yang kemudian kita kenal sebagai Prang Sabi bermuara dari pemikiran ini.
Sekitar tahun 1881, ketika pasukan Belanda di bawah Jenderal van der Heyden berhasil menguasai sebagian besar wilayah Aceh Besar, perlawanan rakyat Aceh nyaris padam. Benteng-benteng jatuh. Semangat tempur meredup. Para pemimpin perjuangan tercerai-berai. Lalu, datanglah utusan dari Gunung Biram. Mereka menyusuri jalan panjang menuju Pidie dengan satu tujuan. Yaitu, meminta bantuan ulama Tiro untuk kembali memercikkan api perlawanan. Ketika mereka tiba di Pidie, semua orang menunjuk ke satu arah, Tiro, ke Dayah Cut, kepada Teungku Chik Muhammad Amin, yang namanya sudah menjadi simbol kewibawaan ulama di seluruh Pidie.
Pertemuan utusan Gunung Biram dengan Tgk. Chiuk Muhammad Amin menghasilkan amanat. Semua isi hati dituangkan. Hasil dari kesepakatan adalah, Aceh Besar membutuhkan pemimpin yang mampu menghidupkan kembali semangat jihad yang sudah lama membeku. Lalu, Tgk Chik Muhammad Amin menggerakkan para ulama. Rapat digelar dua kali, di Dayah Krueng dan di Dayah Lampoh Raja. Ulama-ulama Tiro berkumpul. Diskusi berlangsung panjang dan serius. Akhirnya mereka sepakat, ulama Tiro harus turun tangan. Perjuangan di Aceh Besar adalah juga perjuangan mereka.
Namun ada satu masalah besar. Utusan Gunung Biram tidak hanya meminta bantuan moril. Mereka meminta seorang pemimpin, seseorang yang berani, yang dihormati, yang sanggup turun langsung ke medan perang dan membangkitkan kembali semangat juang rakyat yang sudah putus asa. Dalam rapat itu, tak seorang pun yang hadir berani mengajukan diri.
Suasana hening menggantung berat di udara.
Kemudian, dengan tenang namun penuh keyakinan, Tgk Chik Muhammad Amin berdiri. Ia menoleh ke arah keponakannya. “Keponakan saya bersedia,” katanya memecah keheningan. Sontak Muhammad Saman menunjukkan ekspresi tidak percaya. Bagaimana tidak, seorang ulama besar, orang yang begitu ia hormati mendelegasikannya sebagai orang nomor satu yang berdiri paling depan, berjihad di medan perang. Dengan penuh tanggung jawab dan ta’zim Muhammad Saman menyatakan kesanggupannya memimpin perang di Aceh Besar.
Kekuatan di Balik Perang
Setelah Muhammad Saman turun ke medan perang, sang paman tidak tinggal diam. Tgk Chik Muhammad Amin tetap menjadi tiang penyangga perjuangan dari Tiro. Ia menyerukan Perang Sabi kepada rakyat Pidie. Ia mengerahkan tenaga, pikiran, dan harta benda untuk mendukung perlawanan keponakannya. Sejarawan Ismail Jakub, dalam bukunya “Tengku Tjhik di Tiro: Hidup dan Perdjuangannya” yang terbit tahun 1960, menulis dengan tegas: “Dalam perjuangan Tengku di Tiro Syeh Saman, sejak dari permulaannya sampai penghabisan tahun 1886, nyata bahwa yang menyokong di belakang adalah Teungku Chik di Tiro Dayah Cut alias Tengku Chik Muhammad Amin.”
Sementara keponakannya bergerak dari benteng ke benteng, merebut kembali Lam Baro dan Aneuk Galong dari tangan Belanda, memimpin ribuan pejuang yang tergerak oleh seruan Prang Sabi — Tgk Chik Muhammad Amin berdiri tegak di belakang, mengalirkan semangat, doa, dan segala daya yang dimilikinya. Ia juga mengangkat Muhammad Saman sebagai tangan kanannya dalam menggerakkan rakyat Pidie untuk berjihad. Sehingga, pasca wafatnya Tgk Chik Muhammad Amin, Muhammad Saman mendapatkan gelar kehormatan sebagai Tgk. Chik di Tiro dan meneruskan kepemimpinan ulama Tiro dan menjadi tokoh perlawanan yang paling ditakuti Belanda, hingga pemerintah kolonial sampai harus mengeluarkan instruksi rahasia menawarkan hadiah seribu dollar bagi siapapun yang sanggup menyerahkan Teungku Chik di Tiro, hidup atau mati.
Tgk Chik Pante Kulu, sang pengarang “Hikayat Prang Sabi” yang syair-syairnya membakar semangat pejuang Aceh di medan perang, pun pernah belajar di dayah beliau. Dari Dayah Cut pulalah, sebagian besar kader-kader pejuang Tiro menempa ilmu dan karakter sebelum mereka memilih jalan yang sulit itu.
Tgk Chik Muhammad Amin wafat dan dimakamkan di Gampong Dayah Blang, bersebelahan dari dayah yang ia dirikan. Makamnya berdiri sederhana — sebuah nisan di bawah naungan pohon, dikelilingi tanah yang pernah menjadi saksi bisu dari ribuan langkah para santri yang datang menimba ilmu.
Dari sisi arkeologi, situs peninggalan beliau di Gampong Meunasah Mancang, Kecamatan Tiro/Truseb, mencakup beberapa tinggalan penting: Zawiyah Cut yang dahulu menjadi ruang belajar, kolam tua tempat berwudhu, dan sumur tua yang hingga kini masih ada bekasnya. Bangunan dayah sendiri telah dibangun ulang dua kali — pertama sekitar tahun 1996, dan yang kedua beberapa tahun kemudian. Makam beliau pernah dipugar dengan dana dari Badan Rekonstruksi dan Rehabilitasi (BRR) pascagempa dan tsunami 2004.

Di antara cerita-cerita yang masih hidup di tengah masyarakat Tiro, ada satu kisah yang selalu disampaikan dengan nada rendah dan penuh hormat. Bukan kisah dari buku. Bukan kisah yang tertulis di atas kertas. Ia adalah kisah yang mengalir dari mulut ke telinga, dari generasi ke generasi, sebagai pengingat bahwa kewalian seorang ulama tidak berakhir bersama kematian jasadnya.
Dikisahkan, di masa ketika operasi militer sedang berlangsung di kawasan Tiro, sekelompok anggota TNI melintasi kompleks makam Tgk Chik Muhammad Amin. Di atas makam sang ulama terbentang kain putih, sebagaimana lazimnya penutup makam orang-orang yang dihormati. Seorang anggota TNI, entah karena kurang tahu atau tidak menghiraukan, menggunakan ujung moncong senjatanya untuk menyilangkan kain putih yang terlentang di atas makam itu. Sebuah gerakan yang tampak sepele. Tapi bagi makam seorang wali Allah, tampaknya tidak ada yang benar-benar sepele. Dua hari setelah kejadian itu, tangan yang digunakan untuk menyilangkan kain — tangan yang memegang senjata dan menggesernya dengan ceroboh di atas pusara sang ulama — menjadi bengkok. Tidak bisa diluruskan. Tidak ada penjelasan medis yang memuaskan. Tidak ada logika yang cukup untuk mewadahinya.
Bagi masyarakat Tiro, kejadian itu bukan kebetulan. Ia adalah karamah, anugerah luar biasa dari Allah yang diberikan kepada hamba-hamba-Nya yang shalih, yang bahkan setelah kematian pun, kemuliaannya masih dijaga oleh Sang Pemilik Semesta.
Ada sebuah kebenaran yang sering terlupakan dalam penulisan sejarah: bahwa di balik setiap pahlawan yang namanya terpatri dalam buku-buku pelajaran, selalu ada seseorang yang lebih dulu berdiri dan menanamkan benih.
Tgk Chik Muhammad Amin Dayah Cut adalah akar dari pohon itu. Ia tidak berdiri di garis terdepan pertempuran. Tapi ia yang menanam keyakinan bahwa melawan penjajahan adalah kewajiban agama. Ia yang merekomendasikan sang keponakan ke panggung sejarah ketika tak seorang pun berani melangkah maju. Ia yang menopang perjuangan dari belakang dengan harta, tenaga, dan doa. Tanpa nama besar, tanpa gemerlap sorotan. Ia berdiri gagah mendukung setiap gerakan yang lahir dari seorang pejuang.
Dayah Blang hari ini mungkin tidak lagi seramai dulu. Bangunannya sudah dibangun ulang dua kali. Beberapa tinggalannya terancam dilupakan. Tapi selama nama Tiro masih disebut, selama Perang Sabi masih dikenang, selama Hikayat Prang Sabi masih dibacakan, dalam setiap syairnya, akan selalu ada bayangan seorang ulama tua dari Dayah Cut yang duduk tenang, mengajar dengan ikhlas, berjuang dalam sunyi, berdoa dalam diam. Hingga Allah Mudahkan setiap perjuangan para syuhada.
Dan dari kesunyian itulah, cahaya yang paling abadi sering kali memancar. Menampilkan mercusuar abadi yang takkan lekang ditelan zaman. Hingga nanti, anak cucu kita paham mengapa hal itu perlu diperjuangkan, dan dapat mengambil ibrah dari perjuangan para syuhada.[]
