Ambiguitas

Sebuah refleksi setelah mengikuti pelatihan, oleh Thasoedi (Guru MTs)

Ada momen aneh di penghujung pelatihan itu, yang justru lebih nempel daripada semua slide serius. Sudah lama sekali aku tidak ketawa lepas gara-gara bahasa. Biasanya orang ribut soal politik, duit, atau hal-hal yang bikin dahi berkerut. Tapi ini? Sekelompok guru, duduk santai, lalu menertawakan kesalahan pemakaian kata. Kedengarannya sederhana, tapi suasananya hangat kali, sampai terasa “hidup” lagi otak yang selama ini cuma dipakai rutinitas. Bereh, ternyata bahagia itu bisa datang dari hal yang selama ini kita anggap remeh.

Obrolan mulai naik level ketika ada yang nyeletuk soal kebiasaan kita menyebut produk dengan nama merek. Semua langsung nyambung. Kita bilang “Aqua” untuk semua air mineral, “Odol” untuk semua pasta gigi, bahkan kadang “Sanyo” untuk pompa air. Seolah-olah dunia ini cuma punya satu merek yang berkuasa atas segalanya. Padahal kalau dipikir-pikir, itu agak lucu juga. Tapi justru dari situlah muncul istilah yang tadi sempat bikin kepala agak panas tapi hati senang: eponim.

Secara sederhana, eponim itu kondisi ketika nama merek atau nama orang dipakai untuk mewakili sesuatu yang lebih umum. Jadi bukan cuma soal gaya ngomong, tapi sudah masuk wilayah kebiasaan kolektif. Bahasa kita ini memang suka “mempermudah hidup”, walaupun kadang mengorbankan ketepatan. Cukop menarik, karena tanpa sadar kita semua pernah melakukannya, dan bahkan merasa itu hal yang normal-normal saja.

Belum selesai di situ, tiba-tiba ada yang menimpali dengan istilah lain: metonimia. Nah, di sini mulai terasa bedanya antara sekadar tahu bahasa dengan benar-benar paham bahasa. Metonimia itu bukan sekadar menyebut merek, tapi mengganti sesuatu dengan hal yang masih punya hubungan dekat. Misalnya kita bilang “minum satu gelas” padahal yang diminum bukan gelasnya, atau “baca Pramoedya” padahal yang dibaca karya tulisnya, bukan orangnya. Hubungan tetap ada, tapi bukan karena nama itu jadi generik, melainkan karena kedekatan makna.

Di situ aku baru sadar, selama ini kita sering mencampuradukkan keduanya. Kita kira semua itu sama saja, padahal beda jalur. Eponim itu soal nama yang berubah jadi wakil umum, sedangkan metonimia itu soal hubungan makna yang saling bersentuhan. Tipis memang bedanya kalau dilihat sekilas, tapi kalau diperhatikan, itu dua cara berpikir yang tidak sama. Dan anehnya, pemahaman seperti ini justru muncul bukan di ruang kuliah, tapi di ujung acara pelatihan, ketika orang sudah mulai santai dan jujur dengan pikirannya.

Yang paling berkesan bukan cuma ilmunya, tapi suasananya. Rasanya seperti kembali jadi mahasiswa, duduk bareng, debat kecil, saling koreksi, lalu ketawa tanpa beban. Tidak ada yang merasa paling benar, tidak ada yang sibuk menjaga citra. Semua hadir sebagai orang yang sama-sama pernah belajar, dan masih ingin belajar. Momen seperti ini jarang, dan kalau tidak disadari, bisa lewat begitu saja.

Jadi kalau hari ini ada yang masih bilang “Aqua” untuk semua air mineral, atau mengira itu sama dengan metonimia, tidak perlu langsung disalahkan. Kita semua pernah di posisi itu. Tapi setidaknya sekarang sudah ada bekal kecil untuk meluruskan. Bahasa itu bukan cuma alat komunikasi, tapi juga cermin cara kita berpikir. Dan kadang, untuk memperbaikinya, kita cuma butuh satu hal sederhana: ruang untuk tertawa bersama.

Nyan Ban

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *